Start Arabic English Deutsch Türkçe Arabic
ImpressumVersi TeksKontakTentang KamiSitemap
Studi mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman"
Integrasi Mengalahkan Segregasi



Hasil studi termutakhir mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman" mememastikan bahwa integrasi sosial umat muslim berjalan lebih baik daripada yang diduga sebelumnya. Namun defisit masih tercatat di sektor pendidikan formal dan peluang berkarir. Oleh Sonja Haug.

| Bild: Foto studi 'Kehidupan Muslim di Jerman' (Foto: Dinas federal untuk Migrasi)
Besarkan Gambar Obyek penelitian adalah kaum muslim dan penganut agama lain yang hidup di Jerman dan berasal dari 49 negara mayoritas muslim.
|
Atas permintaan Konferensi Islam Jerman, responden yang berasal dari berbagai negeri yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam dilibatkan dalam sebuah studi representatif Dinas Federal bagi urusan Migrasi dan Pengungsi dan dilaksanakan di seluruh Jerman.

Studi itu didasari informasi dari sekitar 17.000 responden dan memberikan keterangan mengenai „Kehidupan Muslim di Jerman“. Mengingat konteks asal, motif kedatangan, lama tinggal yang berbeda dan juga sejarah keberhasilan yang berbeda, penilaian terhadap kelompok masyarakat ini tidak dapat disamaratakan.

Jajak pendapat berdasarkan pertanyaan langsung mengenai agama yang dianut menunjukkan bahwa sekitar empat juta warga muslim hidup di Jerman. Ini adalah sekitar lima persen dari jumlah keseluruhan penduduk dan sekitar seperempat dari jumlah warga di Jerman dengan latar belakang migran. Dengan jumlah sekitar 74 persen kaum Sunni merupakan kelompok religius yang terbesar, kemudian disusul oleh penganut mazhab Alevi sebesar 13 persen dan Syiah tujuh persen.

Sekitar 45 persen warga muslim berlatar belakang migran yang menetap di Jerman adalah warga negara Jerman. Sekitar 2, 6 juta muslim yang hidup di Jerman berasal dari Turki, sementara 550.000 dari negara-negara Eropa Tenggara seperti Bosnia-Herzegovina, Bulgaria dan Albania. Kelompok muslim terbesar ketiga di Jerman yang berjumlah sekitar 330.000 adalah migran dari Timur Tengah, terutama dari Libanon, Irak, Mesir dan Suriah.

Sekitar 280.000 muslim di Jerman yang berasal dari Afrika, terutama datang dari Marokko. Sedangkan sisanya berasal dari negara-negara di Asia Tengah/GUS, Iran, Asia Selatan dan Tenggara serta negara Afrika lainnya.

Agama dalam keseharian

Hasil studi itu juga mengungkapkan bahwa banyak warga yang berlatar belakang migran dari negara terkait, bukan muslim. Misalnya, hampir 40 persen migran dari Iran mengaku tidak memeluk suatu kepercayaan apa pun.

Dari negara lain yang mayoritas penduduknya beragama Islam, misalnya Irak, semakin banyak pendatang yang merupakan minoritas religius. Karena itu, dari komposisi religius penduduk negara asal, orang tidak dapat secara otomatis menarik kesimpulan yang mengidentifikasikan agama para migran yang hidup di Jerman.

| Bild: Pelajaran Agama Islam di Nordrhein-Westfallen (Foto: dpa)
Besarkan Gambar Menurut hasil studi, 79 persen umat Muslim di Jerman mendukung diadakannya mata pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah umum
|
Mayoritas muslim di Jerman merupakan umat yang taat. Ketaatannya terutama menandai kehidupan muslim yang berasal dari Turki dan Afrika. Namun, dalam menjalankan praktik religius sehari-hari, misalnya sembahyang, merayakan hari-hari religius, menaati larangan makanan dan kewajiban berpuasa, terdapat perbedaan besar di antara responden, tergantung dari asal dan mazhab masing-masing.

Masing-masing sepertiga dari umat muslim kerap, jarang atau belum pernah pergi ke masjid. Meski ketaatan dan praktik religius menandai kehidupan kaum muslim dengan sangat kuat, keanggotaan di dalam sebuah perkumpulan keagamaan atau sebuah jemaat, relatif jarang (20 persen).

Mayoritas besar migran yang berasal dari negara dengan mayoritas penduduk Islam (80 persen) memiliki penghasilan sendiri sebagai sumber pendapatan. Jumlah wiraswasta yang cukup tinggi, yaitu antara 20 sampai 34 persen - tergantung konteks negara asal - menunjukkan kesediaan mereka untuk mencari nafkah sendiri.

Namun, menerima tunjangan pengangguran atau bantuan sosial pemerintah bukanlah hal yang langka (32 atau 28 persen) pada warga muslim dari Timur Tengah dan Asia Selatan/Tenggara (misalnya Pakistan, Afghanistan). Ketergantungan pada bantuan sosial terutama terdapat pada responden dengan pendidikan yang sangat rendah atau sangat tinggi. Tetapi studi itu juga menunjukkan bahwa kebanyakan migran tanpa izasah sekolah juga terintegrasi di pasar tenaga kerja.

Integrasi sosial

Pembatasan etnis dan lintas agama tidak dapat ditemukan pada kebanyakan responden. Jumlah responden dari semua kelompok negara asal muslim yang tidak mempunyai kontak keseharian dengan orang Jerman dan yang menyatakan tidak menginginkan kontak itu, tidak lebih besar dari satu persen.

Tendensi eksplisit untuk mengucilkan diri tidak dapat ditemukan. Kontak sosial dilihat sebagai pembentuk basis bagi kerekatan sosial. Jadi, keanggotaan di berbagai perkumpulan merupakan sumber bagi integrasi dalam masyarakat negara penerima migran. Lebih separuh dari responden adalah anggota di sebuah perkumpulan atau perhimpunan Jerman, kebanyakan di perhimpunan olahraga atau serikat kerja.

| Bild: Mesjid Merkez di Duisburg (Foto: dpa)
Besarkan Gambar Semangat membaur yang tinggi: menurut hasil studi hanya terdapat sedikit warga muslim yang enggan berhubungan dengan warga lain dan cendrung terisolasi di lingkungannya
|
Frekuensi kontak sosial keseharian responden dengan orang Jerman relatif tinggi, dan muslim dari semua wilayah terkait menunjukkan kesediaan untuk lebih sering menjalin kontak dengan orang Jerman.

Kemajuan-kemajuan terlihat pada upaya integrasi. Berbagai studi pada kelompok migran asal Turki menunjukkan bahwa berkaitan dengan integrasi dalam sektor yang bersifat struktural, misalnya pada upaya untuk mengantongi izasah sekolah dan memasuki pasar kerja, kelompok migran asal Turki terlempar ke belakang kelompok negara lainnya dari Eropa Selatan atau transmigran etnis Jerman.

Hasil-hasil studi yang melengkapi itu, menunjukkan bahwa pada indikator pendidikan sekolah, posisi migran asal Turki relatif lebih buruk, juga bila dibandingkan dengan migran lain dari negara asal yang mayoritas penduduknya muslim.

Ini terutama disebabkan oleh sangat rendahnya hasil penilaian yang terlihat pada perempuan Turki generasi migran pertama. Kemajuan pendidikan secara keseluruhan tampak jelas membaik pada generasi selanjutnya, terutama di kalangan perempuan. Peluang bagi migran perempuan untuk menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya pada pasar kerja, tidaklah kecil.

Peluang di pasar tenaga kerja

Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi penempatan posisinya di pasar kerja. Ini juga berlaku bagi pendatang muslim. Namun masuk ke dalam lapangan kerja tidak selalu berfungsi otomatis. Angka statistik mengenai pengangguran menunjukkan bahwa terutama migran asal Turki lebih sering menganggur.

Berbagai hasil studi juga menyimpulkan bahwa ini berlaku pada tingkat pendidikan yang sama. Pengangguran di kalangan pendatang kerap muncul dalam kaitannya dengan perubahan struktur di sektor industri dan merupakan dampak dari upaya mempekerjakan karyawan bagi produksi industrial sekitar 50 tahun yang silam.

Upaya terarah untuk mempekerjakan karyawan dari lapisan masyarakat yang asing pendidikan hingga saat ini masih membawa dampak bagi penempatan posisi anak cucunya dalam sektor pendidikan dan keterlibatan dalam pencarian kerja.

| Bild: Perempuan muslim mengikuti jamn berenang di sekolah (Foto: dpa)
Besarkan Gambar Sebagian besar murid berlatarbelakang muslim mengambil bagian dalam jam olahraga gabungan antara pria dan perempuan. Hanya 7 persen yang menolak mengikuiti jam pelajaran olahraga
|
Hasil-hasil yang menguak dari upaya integrasi struktural harus digunakan sebagai peluang untuk upaya integrasi selanjutnya dari pemerintah. Integrasi umat muslim dan migran lainnya dari negara yang mayoritas penduduknya muslim tidak boleh hanya dibatasi pada kelompok-kelompok sasaran yang religius, tetapi juga harus membidik target yang lebih luas.

Selain pendidikan bahasa melalui kursus integrasi di seluruh Jerman, titik tolak yang tak kalah pentingnya adalah inegrasi melalui pendidikan. Meski adanya tingkat kenaikan level pendidikan pada generasi selanjutnya secara keseluruhan, angka yang relatif tinggi pada migran pria dari negara asal yang mayoritas penduduknya muslim yang putus sekolah, dan karena itu tidak punya izasah, menunjukkan masih rendahnya tingkat pendidikan di kalangan migran.

Pendidikan sebagai fokus

Pada generasi migran selanjutnya, pendidikan tetap merupakan fokus aksi kebijakan politik integrasi. Dalam upaya ini, titik awal yang telah didiskusikan secara terbuka mengenai bantuan pendidikan pra sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler bagi kelompok migran harus diterapkan secara konsekuen.

Semua anak diinginkan memiliki peluang untuk belajar bahasa Jerman sedini mungkin. Juga sangat berguna untuk meningkatkan jumlah tenaga pengajar dengan latar belakang migran dan menggalakkan kerja sosial di sekolah-sekolah guna meringankan tugas pekerja sosial profesional, memperbaiki lingkungan belajar dan menyelesaikan masalah sekolah keseharian yang menunjukkan khas lapisan sosial dan bercirikan migran.

Selain upaya pemerintah, generasi orangtua juga diinginkan untuk lebih banyak memikul tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya. Peningkatan keterlibatan lingkungan keluarga secara intensif dalam proses pembelajaran pra sekolah, semasa sekolah dan pada kegiatan ekstra kurikuler dapat menjadi sebuah sarana yang pantas untuk lebih mendorong proses pendidikan dan karir anak-anak migran.

Orangtua sebaiknya mendapatkan informasi yang meluas mengenai proses pembelajaran bahasa anak-anak dan bantuan yang diterimanya. Mereka juga harus dimotivasi untuk memungkinkan anak-anaknya belajar bahasa Jerman sebaiknya.

Sebuah contoh bagi upaya ini adalah kursus integrasi orangtua di seluruh Jerman. Target utama kursus ini adalah pelajaran bahasa Jerman dan juga penekanan pentingnya tema mendidik, pendidikan pada umumnya dan pendidikan formal anak-anak.

Titik awal penting lainnya adalah dukungan kemampuan mendidik orangtua dan intensifikasi kerja sama antara orangtua migran dan lembaga-lembaga pendidikan.

Sonja Haug

Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2010

Dr. Sonja Haug adalah pakar sosiologi serta dosen di Universitas Mainz dan Perguruan Tinggi Pendidikan Schwäbisch-Gmünd. Ia memimpin studi lapangan “Peneitian Sosial Empiris – Kepemimpinan Ilmu Pengetahuan Program S-3” pada Dinas Federal bagi Migrasi dan Pengungsi.



Versi cetak

Cari

Masukkan kata kunci:

Newsletter

Daftarkan e-mail anda untuk mendapatkan newsletter kami secara berkala setiap minggu

Daftar
Berhenti berlangganan

Common Ground

| Bild: Commonground News | Kantor Berita Common Ground mencoba memfasilitasi dialog terbuka dengan mempublikasikan berbagai tulisan dan pendapat para ahli mengenai Timur Tengah dan hubungan antara barat, Arab dan Islam. Kunjungi Kantor Berita Common Ground

Islam dan Barat

| Bild: 'Stop the Clash' | AVAAZ.org adalah organisasi internasional yang mempromosikan upaya politik dalam hal Hak Asasi manusia dan konflik agama. Video "Stop the Clash" yang diproduksi oleh LSM tersebut kini telah dilihat lebih dari 2 juta kali. klik di sini...

Inside Indonesia

| Bild: | Sejak 1996, majalah mingguan "Inside Indonesa" melaporkan secara berkala tentang hak perempuan dan Islam di Indonesia, kelompok minoritas, proses perdamaian di Aceh dan konflik di Timor Timur. Selengkapnya