Musik YerusalemKota Dua Kedamaian
Sejak ribuan tahun lalu Yerusalem telah menjadi rumah bagi tiga agama monoteis dunia. Namun selama itu pula sejarah kota tua yang terletak di antara pegunungan Yudea itu penuh oleh perang dan penaklukan, meski sebenarnya Yerusalem merupakan manifestasi janji perdamaian yang dibawa para nabi. Oleh Lewis Gropp
| Bild:

Yerusalem, rumah bagi tiga agama meonoteis dunia, sayangnya masih dipenuhi sengketa dan perselisihan antara pemeluk agama. Kubah Shakhrah yang termasuk situs suci bagi kaum muslim
|
Yerusalem merupakan kiblat penting bagi tiga agama monoteis besar. Nabi Daud menetapkan kota ini sebagai ibukota politik dan keagamaan bagi bangsa Israel, dan dengan demikian menjadikannya pusat bagi agama Yahudi yang ada di dalam maupun di luar kawasan itu. Yerusalem adalah juga kota suci bagi umat Kristiani karena merupakan tempat Yesus dari Nazareth mengajar, disalib dan berbangkit.
Di sana pulalah komunitas awal orang Kristen pertama kali mendeklarasikan agama mereka. Dan bagi umat Muslim, kota ini telah lama menjadi kota suci ketiga dalam Islam setelah Mekah dan Madinah. Sebelum mereka salat menghadap Ka’bah di Mekah, yang merupakan tempat tersuci bagi Muslim, mereka salat menghadap Yerusalem.
Selama 4.000 tahun sejarahnya, kota ini telah dirusak, dirampas dan dijarah sekitar 40 kali. Yerusalem sekarang, yang mestinya menjadi tali pengikat bersama bagi ketiga agama, sayangnya dipenuhi oleh gambaran perselisihan dan justru menjadi titik pertentangan dengan klaim-klaim yang berseberangan dalam hal pengaruh keagamaan.
Namun, nama kota ini sendiri sebenarnya membawa benih perdamaian. Kata "Yerusalem" dalam bahasa Ibrani bisa diartikan sebagai kota dua kedamaian, yang mengacu pada kedamaian di bumi dan langit yang dijanjikan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Secara etimologis, dapat dilihat adanya kata shalom dari bahasa Ibrani dan kata Arabnya, salaam, yang keduanya berarti kedamaian, dalam nama kota ini.
Berganti PenguasaBerangkat dari pemikiran ini, Jordi Savall dan Montserrat Figueras, para spesialis musik peradaban kuno yang juga Artis Perdamaian 2008 UNESCO—memproduksi sebuah proyek musik yang tak biasa, Jerusalem: La Ville des deux Paix (kota dua kedamaian).
| Bild:

Perang Salib yang berlangsung selama lebih dari 1000 tahun menempatkan Yerusalem sebagai pusat pertikaian. Padahal kota itu membawa manifestasi perdamaian para nabi.
|
Dalam album yang dibundel dengan buku setebal 400 halaman tentang latar belakang historis dan musik kota ini, kedua artis tersebut menggali tradisi musik dari berbagai babak sejarah Yerusalem: era Yahudi, Kristen, Arab dan Turki-Utsmani.
Untuk proyek Jerusalem ini, Savall dan Figueras menghimpun musisi Yahudi, Muslim dan Kristen dari banyak negara yang memberi pengaruh pada tradisi musik Yerusalem selama berabad-abad: Israel, Palestina, Yunani, Syria, Armenia, Turki, Inggris, Prancis, Spanyol dan Italia.
Babak sebagai “kota Yahudi” dimulai sejak berdirinya kota ini dan berakhir dengan pengrusakan Kuil oleh orang Romawi pada 70 M. Babak ini dihadirkan lewat musik dengan puji-pujian dan doa-doa Nabi Daud yang indah sebagaimana terpelihara dalam tradisi musik kuno Yahudi di Maroko selatan, beserta sebuah lagu tentang Rabbi Akiba, salah seorang sesepuh rabi Yahudi abad pertama.
Babak Kristen bermula dengan kedatangan Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantin I, pada 326 M dan berakhir pada 1244 M. Bagian tentang zaman ini dibuka dengan sebuah himne renungan tentang Bunda Maria, yang dinisbatkan pada Kaisar Leo VI (886-912), dan berakhir dengan improvisasi himne hening, Pax in Nomine Domini! ("Kedamaian atas nama Tuhan!").
Kedalam emosi dan intensitas musikDi antara lagu-lagu dalam babak Arab di album ini, sebuah lagu menuturkan surah ke-17 al-Qur’an—surah Bani Israil—yang menggambarkan mikraj Nabi Muhammad dari Masjid al-Aqsa.Lagu paling dramatis di album ini adalah rekaman sejarah oleh Shlomo Katz, seorang Yahudi asal Rumania. Sebelum Katz dieksekusi di kamp Auschwitz pada 1941 pada masa Holocaust, ia meminta izin untuk menyanyikan himne, El Male Rahamim ("Tuhan penuh kasih ").
| Bild:

Kalangan konservatif kanan di Israel mutlak memandang Yerusalem sebagai rumah bangsa Yahudi yang tidak dapat diperdebatkan.
|
Tersentuh oleh keindahan, kedalaman emosional dan intensitas musiknya, aparat Nazi yang bertugas malah memperkenankan Katz melarikan diri. Pada 1950, ia merekam lagu itu sebagai himne dan wasiat abadi bagi para korban kamp Auschwitz. Karena memancarkan suasana tragedi dan hikmat, lagu tersebut menjadi dokumentasi musikal yang menggemparkan jika dikaitkan dengan sejarahnya.
"Musik," menurut Savall, "menjadi sarana yang sangat penting untuk mewujudkan dialog lintas budaya yang sejati di antara umat manusia dari berbagai bangsa dan agama yang berbeda, namun saling berbagi bahasa musik, spiritualitas dan keindahan yang sama.”
Album Jerusalem dari Savall dan Figueras adalah sebuah mosaik agama dan budaya yang diramu dengan piawai. Setiap lagu, setiap lirik menjadi titik awal untuk menggali sejarah Timur dan Barat zaman pertengahan yang dramatis dan penuh perubahan, serta titik-titik kebersamaan yang mereka miliki.
Lewis Gropp
© Common Ground News 2010 Qantara.deProyek Musik Antar Budaya
Membangun Pemahaman Bersama Seniman dari pelbagai etnik menggabungkan kekuatan musik mereka di sejumlah kota di Jerman, merasuk ke dalam keragaman budaya Jerman guna menciptakan musik dunia. Ketika integrasi menjadi isu yang dibicarakan di keseharian Jerman, mereka adalah contoh warga yang melangkah lebih maju dari masyarakatnya. Ayla Yildiz melaporkan.
Pameran 29 Kilometer
Seni dan Hak Gerakan Pembebasan Suatu pameran di suatu kota kecil Israel yang dihuni warga Arab. Senimannya berasal dari Jerman, Israel dan Palestina. Mungkinkah proyek seperti itu berjalan lancar? Ternyata bisa!
Wawancara dengan Ulrich Schreiber
Literatur sebagai Motor Penggerak Dialog Menurut Ulrich Schreiber, direktur Festival Kesusasteraan Internasional di Berlin, festival tahun ini ingin mencatat peristiwa bersejarah dalam komunikasi sastra antara Eropa dan wilayah Arab. Mohamed Massad menyempatkan berbincang dengannya di sela-sela festival.
Versi cetak