17.01.2011Jatuhnya Rejim Zine al Abidin Ben AliWangi Melati dan Asap Mesiu
Sebuah demonstrasi massal berhasil menjatuhkan rejim yang korup, arogan dan otoriter di Tunisia . Awalnya cuma generasi muda yang kecewa karena ditelantarkan, dalam satu bulan aksi protes di Tunis menjelma menjadi arus balik yang tidak mampu dihadang oleh diktatur Zine Ben Ali. Oleh Beat Stauffer
Kemenangan atas despot yang dibenci: Kemarahan kaum muda di Tunisia berhasil meruntuhkan rejim yang korup, arogan dan otoriter dalam waktu yang singkat Sepintas sulit untuk tidak melihat sinis ungkapan yang mengumpamakan peristiwa terbaru di Tunisia dan kematian puluhan pemuda sebagai aroma semerbak karangan bunga Melati. Tapi ternyata itu cukup masuk akal.
Karena Presiden Zine al Abidine Ben Ali, penguasa Tunisia yang Jumat malam lalu melarikan diri ke Arab Saudi, merebut tampuk kekuasaan 23 tahun lalu melalui gerakan yang disebut Revolusi Melati, sebuah perebutan kekuasaan secara damai, yang legal menurut konstitusi, karena dalam kasus senilitas seorang presiden secara otomatis harus digantikan oleh menteri dalam negeri.
Itulah yang terjadi pada 7 November 1987 dan sejak saat itu pula, Ben Ali yang sempat menjadi perwira di dinas rahasia, menjadi penguasa tunggal di negeri kecil di Maghrib itu, yang dipertahankannya dengan legitimasi ala pseudo-demokrasi melalui serangkaian pemilu yang hasilnya direkayasa dengan cara-cara seperti pada era Stalinisme.
Sebagai seorang Autokrat, Ben Ali sejatinya memikul tanggungjawab terhadap perkembangan yang mengarah kepada tragedi di Tunisia baru-baru ini. Tapi seperti banyak diktatur lain, ia memilih melarikan diri dari tanggungjawab tersebut.
Bangsa yang gemar kenyamanan
Bunga Melati juga melambangkan karakter dan gaya hidup bangsa Tunisia, tanpanya Ben Ali mustahil bisa mempertahankan kekuasaannya yang berlangsung selama 23 tahun. Terlepas dari klise yang sering beredar, penduduk Tunisia cendrung mencintai kehidupan dan kenyamanan.
Sering diumpat sebagai lemah dan pengecut di negeri jiran Aljazair, kebanyakan warga Tunisia lebih memilih menjadi borjuis-borjuis kecil dengan gaya hidup hedonis. Mereka dikenal sebagai „Khobsistes“, yang memprioritaskan kecukupan pangan („Khob“ berarti roti) dan kemapanan ketimbang ideologi dan prinsip yang abstrak.
Di atas pondasi semacam itu lah Ben Ali membangun kekuasaannya sejak hari pertama. Ia berjanji melindungi warga dari agitasi islamis dan mengiming-imingi mereka dengan sejumput kemakmuran yang sebenarnya pun sangat relatif, namun saat yang bersamaan memberangus hak-hak sipil secara perlahan dari tahun ke tahun.
Selama 23 tahun kekuasaannya, pelanggaran berat HAM menjadi agenda keseharian. Partai-partai politik dan organisasi masyarakat dibubarkan secara paksa atau dilarang. Kebebasan pers sedemikian dibelenggu sehingga mendekati titik nadir. Rejim Ben Ali tidak malu-malu menggunakan kekerasan secara vulgar untuk membungkam tokoh masyarakat dan oposisi yang kritis.

"Kami adalah rakyat" - warga Tunisia yang marah berdemonstrasi di depan Kementrian Dalam Negeri di Tunis dan menuntut Demokrasi, kebebasan pers dan mundurnya Presiden Ben Ali. Dalam beberapa tahun terakhir ia berulangkali menyeret pakar hukum ternama, pegiat HAM dan professor ke penjara atau dilucuti reputasinya. Bahkan wartawan asing turut menjadi sasaran aparat keamanan. Tidak jarang seorang wartawan dikerjai selama investigasi dengan ramuan kimia yang dicampur dalam kopi dan dengan begitu dibuat tidak berkutik setidaknya untuk sementara.
Kini di Tunisia, aroma semerbak bunga Melati bercampur dengan bau menusuk bubuk mesiu. Bulan lalu seorang sarjana di sebuah provinsi di wilayah terbelakang Tunisia, yang harus membiayai eksistensinya sebagai pedagang sayur dan sering ditekan oleh pemerintah lokal, membakar dirinya sebagai tanda protes.
Tindakan yang berawal dari rasa frustasi itu memicu demonstrasi massal yang awalnya berjalan damai namun kemudian berubah jadi kerusuhan berdarah yang membakar seluruh negeri. Reaksi aparat keamanan yang ingin mengakhiri gejolak kaum muda dengan tindak kekerasan yang brutal dan berlebihan, pada akhirnya semakin mempercepat kejatuhan rejim Ben Ali di Tunisia.
Foto-foto korban tewas dan luka-luka di berbagai kota yang tersebar cepat melalui internet memicu gelombang kemarahan masyarakat yang tidak dapat lagi dikendalikan oleh pemerintah dengan pentungan, janji-janji kosong , atau senjata mesin sekalipun.
Apa yang terjadi adalah drama besar yang akan merusak reputasi negeri kecil yang secara ekonomi relatif berhasil itu. Karena jika warga Tunisia benar-benar berjiwa „Khobsistes“, yang menganggap kaum revolusioner dan pemberontak sebagai kelompok asosial, maka aksi protes dan demonstrasi massal ini harus dinilai sebagai sebuah ultimatum.
Aksi tersebut menjadi peringatan bahwa di Tunisia masih terdapat wilayah terbelakang yang diabaikan sejak puluhan tahun dan tidak mampu menikmati pertumbuhan seperti laiknya di kota-kota besar.
Aksi protes tersebut terutama menjadi ungkapan frustasi yang mendalam, kesengsaraan sosial dan keputusasaan karena merasa haknya dilanggar dan ditelantarkan secara sistematis oleh negara dan penguasa.
Tersisihkan dari diskursi umum
Mungkin dalam waktu dekat dunia akan mulai mempelajari motif di balik manifes yang dikumandangkan di Kasserine, Makhtar dan Sidi Bouzid. Kaum muda di kota-kota kecil di daerah terpencil itu merasa kecewa dengan realita hidup yang dihadapi. Begitu kata seorang pakar Tunisia, yang memilih untuk anonim karena khawatir akan tindakan represif pemerintah.

Buta akan realita dan gagal secara politis: Ben Ali tidak mampu dan tidak ingin berbicara serius dengan rakyatnya. Ia kini telah melarikan diri ke Arab Saudi. Masalah keseharian dan situasi hidup mereka yang serba susah, sama sekali tidak tercerminkan di media maupun dalam perbincangan atau diskursi umum. Sebaliknya, kaum muda itu setiap hari dihujani dengan berita-berita seputar prestasi gemilang, penghargaan dan gelar kehormatan buat Ben Ali. Banyak dari mereka tidak mampu, atau mau, menanggung itu lagi.
Fakta menampilkan sosok Zine al-Abidin Ben Ali sebagai penguasa yang sama sekali tidak mengetahui realita yang harus dihadapi rakyatnya sehari-hari. Dalam pidato televisi di televisi pemerintah 10 Januari lalu, Ben Ali melecehkan demonstran muda tersebut sebagai “teroris“. Ini jelas munjukkan bahwa ia sama sekali tidak mengerti pesan politis pemberontakan tersebut.
Pada saat bersamaan sang autokrat tidak mampu dan tidak bersedia berbicara serius dengan rakyatnya. Ia menjadi buta tentang masalah sebenarnya. Solusinya untuk membuka 300.000 lapangan kerja baru bagi lulusan universitas yang menganggur selama dua tahun, juga menunjukkan kekurangan besar dalam segi visi dan strategi untuk memperbaiki kerusakan struktural negara.
Sampai beberapa waktu lalu sang presiden berlaku seolah masih memiliki otoritas di tengah kerusuhan yang mengancam, meski mungkin hanya sebagai jaminan bagi keamanan dalam negeri. Namun citra seluruh keluarga besar Ben Ali di mata masyarakat telah membusuk selama bertahun-tahun. Termasuk di dalamnya, ibu negara Leila Trabelsi, saudara laki-laki Leila beserta putra-putranya, seorang saudara laki-laki Ben Ali serta suami anak perempuan Ben Ali.
Anggota klan Ben Ali yang sebagian besar tidak berpendidikan, dalam dua dasawarsa terakhir secara ilegal, atau dilegalkan, dan tanpa segan sedikitpun mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar. Mereka bahkan tidak malu memamerkan kekuasaan dan kekayaan mereka.
Modus yang dipakai, yang biasanya sangat vulgar, sudah sering terdengar dalam bisikan di nyaris setiap kedai kopi di Tunisia. Terutama Leila Trabelsi, sosok yang disorot dalam buku berjudul “Penguasa Perempuan dari Karthago“ dan saat ini menjadi sasaran kebencian nomor satu di Tunisia. Melejitnya posisi Leila dari pemilik sebuah salon kecil menjadi pengendali kekuasaan dipaparkan secara terperinci dalam buku tersebut.
Harapan akan Perubahan?
Sekarang keluarga itu sudah melarikan diri dari Tunisia. Jika mereka tetap tinggal, mereka kemungkinan besar akan dihadapkan dengan dendam massa. Banyak vila dan mobil mewah miliknya sudah dijarah atau dibakar.

Situasi di Tunisia pasca kejatuhan Ben Ali, masih jauh dari kondunsif. Militer dan polisi berpatroli di hampir setiap sudut ibukota. Pemerintah juga memberlakukan jam malam di kota-kota besar. Meski pemberontakan telah mulai membakar Tunisia, samai Jumat lalu, sebagian besar pengamat tidak memperhitungkan bahaya akut bagi rejim. Dua perlawanan terakhir yang dapat dibandingkan dengan pemberontakan kali ini terjadi 1984 lalu, dan mampu dipatahkan oleh Ben Ali sebelum dapat meluas. Hanya suara Sihem Ben Sedrine, sastrawan di barisan terdepan kelompok pembangkang, saja yang pekan lalu sudah meramalkan, Ben Ali tidak akan selamat dari revolusi ini.
Dalam bukunya “Eropa dan Despot-Despotnya“ Ben Sedrine menganalisa penguasa-penguasa Maghreb dengan tajam dan tanpa ampun. Ia benar. Perlawanan kaum muda berkembang menjadi pemberontakan di seluruh negeri yang menyapu kekuasaan sang diktatur.
Upaya meredakan amarah rakyat yang dilakukan Ben Ali selama 48 jam sebelum melarikan diri, gagal menyelamatkan tahtanya. Ia memecat menteri dalam negeri, kemudian membubarkan kabinet. Lalu ia menjanjikan pemilu baru, pencabutan sensor internet dan penurunan harga bahan pokok.
Bagi Tunisia dan seluruh wilayah Maghreb, apa yang terjadi adalah sebuah peristiwa yang, tidak diragukan lagi, akan dicatat dalam buku-buku sejarah. Bangsa yang cinta damai, yang dirampok dan dikekang selama bertahun-tahun oleh rejim yang brutal dan serakah, mengusir para penindas tanpa menggunakan senjata sama sekali.
Tunisia sekarang menghadapi masa depan yang sulit dan penuh ketidakpastian. Tindak balas dendam berdarah dan luapan kekerasan yang buta dikhawatirkan masih akan muncul. Saat ini tidak seorangpun tahu bagaimana perkembangan selanjutnya. Tetapi yang jelas, selubung yang menutupi tanah melati selama puluhan tahun itu, kini sudah tersingkap.
Beat Stauffer
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
© Qantara.de 2011
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Pergantian Kekuasaan di Tunisia
Ultimatum dari Jalanan
Pergantian kekuasaan di Tunisia yang dipicu oleh demonstrasi massal dan kerusuhan berdarah menjadi contoh dan sekaligus peringatan bagi negara-negara Arab lain, khususnya untuk wilayah Maghreb, bahwa rejim kuat sekalipun dapat jatuh jika mengabaikan rakyatnya. Oleh Reiner Sollich
Bahasa Inggris
Social Unrest in Tunisia
"We Have a Right to Work, You Robbers!"
Renowned Tunisian human rights activist Sihem Bensedrine details the extent of the current social unrest in Tunisia and describes the alarming way in which freedom of expression is being suppressed in her country
Presidential Election in Tunisia
Democracy His Way
What are we to make of it when Ben Ali, Tunisia's much venerated president and ruler of the Palace of Carthage, is prepared to accept only 89.62 per cent of the vote? And this from someone more used to commanding the kind of figures associated with voting in Soviet times. A commentary by Hamid Skif
Pergantian Kekuasaan di Tunisia
Ultimatum dari Jalanan
Pergantian kekuasaan di Tunisia yang dipicu oleh demonstrasi massal dan kerusuhan berdarah menjadi contoh dan sekaligus peringatan bagi negara-negara Arab lain, khususnya untuk wilayah Maghreb, bahwa rejim kuat sekalipun dapat jatuh jika mengabaikan rakyatnya. Oleh Reiner Sollich
Bahasa Inggris
Social Unrest in Tunisia
"We Have a Right to Work, You Robbers!"
Renowned Tunisian human rights activist Sihem Bensedrine details the extent of the current social unrest in Tunisia and describes the alarming way in which freedom of expression is being suppressed in her country
Presidential Election in Tunisia
Democracy His Way
What are we to make of it when Ben Ali, Tunisia's much venerated president and ruler of the Palace of Carthage, is prepared to accept only 89.62 per cent of the vote? And this from someone more used to commanding the kind of figures associated with voting in Soviet times. A commentary by Hamid Skif