16.08.2010Kelompok Minoritas di IndonesiaToleransi di Titik Nadir
Munculnya tindak kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia baru-baru ini berpangkal pada banyak masalah. Merupakan tanggungjawab bersama untuk mempromosikan sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Oleh Luther Kembaren
Toleransi antar umat beragama di Indonesia sedang terancam, demikian menurut Luther Kembaren. Dalam gambar: seorang pemeluk agama Katholik di Medan Awal 2010 ditandai dengan banyaknya tindak kekerasan yang terjadi terhadap kelompok agama minoritas di Indonesia. Pada 3 Januari, sekelompok orang yang menamakan dirinya Forum Komunikasi Umat Islam (FKUI) membakar Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat.
Di tempat lain, kelompok-kelompok seperti Forum Pembela Islam (FPI) dan Brigade Taliban, secara paksa menutup masjid dan pusat kegiatan Ahmadiyah.
Yang paling tampak jelas adalah di daerah-daerah pinggiran Jakarta di mana FPI memaksa pemerintah daerah—dengan disertai ancaman penyerangan atau gangguan ketertiban—untuk melaksanakan tafsir ajaran Islam yang konservatif. Penyerangan semacam ini betul-betul merusak tradisi toleransi yang sudah ada di kalangan komunitas antaragama di Indonesia sejak lama.
Sikap antipati antar kelompok
Jeirry Sumampow, Sekretaris Jenderal DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo), kelompok yang berakar pada Partai Kristen Indonesia yang telah difusikan pada 1970-an, berpendapat bahwa ada tiga masalah fundamental yang menyebabkan meningkatnya kekerasan agama dan sektarian di Indonesia.
Pertama, kekerasan antaragama sering kali terkait erat dengan faktor-faktor politik. Beberapa kelompok menggunakan perbedaan agama dan etnis untuk meraih dukungan dalam pemilu daerah, mempengaruhi pemilih untuk memilih sesuai dengan agama dan etnis mereka.
Kedua, perpindahan penduduk dari desa ke kota menyebabkan semakin tingginya tingkat pengangguran di daerah perkotaan. Mereka yang dari daerah pedesaan umumnya tidak mendapatkan pendidikan yang cukup dan dengan demikian lebih sulit mendapatkan pekerjaan. Kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial terhadap yang kaya mengarahkan kecenderungan warga ke kelompok-kelompok agama tertentu yang menawarkan bantuan ekonomi kepada yang miskin.

"Tantangan keagamaan dan sosial serta ekonomi": Pasangan muslim melintasi pohon natal di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Sebagai balasannya tentu saja mereka yang ditolong didorong untuk mengikuti agenda sang pemberi, yang sering kali meminggirkan agama lain. Jadi, upaya untuk membangun komunitas antaragama yang rukun tidak hanya terbentur pada persoalan teologis tapi juga masalah sosial dan ekonomi.
Terakhir, sebagian orang masih memahami agama mereka secara eksklusif, sehingga mengklaim keyakinan lebih baik daripada keyakinan orang lain. Sikap semacam ini dapat mendorong terjadinya kekerasan antarkelompok, di mana sebagian pengikut sebuah agama menyerang pengikut yang lain karena mereka dianggap menyimpang dari Islam “yang sebenarnya”.
Keberanian teologis
Meski ada kelompok-kelompok yang sudah berbuat banyak untuk mengurangi ketegangan di antara berbagai kelompok agama dan mencegah terjadinya kekerasan antaragama, Indonesia masih punya banyak masalah.
Wahid Institute, organisasi yang mendukung pandangan keislaman yang moderat dan toleran dan turut memperjuangkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, bekerjasama dengan Center for Marginalized Communities Studies (CMARs), berusaha menyuarakan aspirasi kelompok agama minoritas dan melibatkan mereka dalam berbagai dialog nasional dan kampanye anti-diskriminasi.
Kampanye-kampanye ini memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok minoritas untuk berbagi perspektif mereka sebagai pihak “yang rentan menjadi korban” di kalangan masyarakat pada umumnya. Pada saat yang sama, Wahid Institute dan CMARs berusaha menangani isu-isu kekerasan agama di Indonesia dengan membantu kalangan minoritas agar tidak menjadi kelompok esktremis.
Tanpa mengecilkan tantangan sosial, politik dan ekonomi, seperti yang disebutkan di atas, Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif Wahid Institute, percaya bahwa perubahan sosial tengah terjadi dalam masyarakat Indonesia dan akan terus bergulir. Ia juga mengatakan bahwa “masyarakat kita membutuhkan sistem atau mekanisme baru untuk memetakan masalah-masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah mereka”.
Tanggungjawab bersama
Mempromosikan perdamaian dan toleransi di kalangan umat beragama—serta di media—perlu terus dilakukan. Ini termasuk menyoroti prakarsa-prakarsa inovatif yang berusaha mendorong sikap saling menghormati antar-pemeluk agama.

Perlindungan bagi minoritas: Pemerintah bertanggungjawab mengajak semua kelompok keagamaan dalam pembangunan Indonesia, begitu tuntut Luther Kembaran. Pemerintah juga punya peran yang harus dijalankan. Mendirikan sebuah komisi nasional —yang terdiri atas perwakilan dari berbagai kelompok agama yang ada Indonesia— untuk mengakomodasi aspirasi komunitas agama di Indonesia yang beragam akan mendorong tumbuhnya studi yang intensif mengenai faktor yang memengaruhi konflik dan pluralisme.
Hasil dari studi ini bisa digunakan oleh komisi ini untuk memberikan rekomendasi kebijakan yang efektif kepada pemerintah yang akan mendorong pemberdayaan sosial dan politik kelompok agama dan etnis minoritas. Rekomendasi ini juga bisa digunakan di tingkat provinsi.
Tanpa usaha yang terencana untuk menciptakan masyarakat yang inklusif dan pluralis, kekerasan terhadap kelompok agama minoritas akan terus memecah-belah keragaman yang telah membentuk dan memperkaya Indonesia. Organisasi-organisasi keagamaan, media dan pemerintah harus bekerja bersama untuk menjadikan kerukunan dan toleransi prioritas di Indonesia.
Luther Kembaren
© Common Ground News 2010
* Luther Kembaren adalah wartawan harian Jurnal Nasional dan peserta pelatihan liputan antarbudaya yang diselenggarakan Alliance of Civilizations PBB dan Search for Common Ground pada Januari 2010 di Jakarta. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Mengenang Abdurrahman Wahid
Perginya Ulama Pengusung Pluralisme
Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid wafat di Jakarta pada usia 69 tahun. Dia adalah presiden pertama yang terpilih secara demokratis setelah era kediktatoran Soeharto, Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur giat mempromosikan dialog antar agama dan Islam yang damai. Sebuah Obituari oleh Armin Wertz.
Pluralisme di Indonesia
"Keterlibatan Perempuan Penting"
Sebagai pegiat pluralisme di Indonesia, putri sulung bekas Presiden Abdurahman Wahid, Zannuba Arifah Chafsoh, atau Yenni Wahid mudah berhubungan dengan banyak kalangan di Indonesia. Bersama Zaki Amrullah, Yenny berbicara mengenai peluang dan tantangan pluralisme di Indonesia.
Yusuf al-Qardawi dan Kaum Minoritas
Toleransi Terbatas
Dengan sikap permusuhannya terhadap warga minoritas di dalam masyarakat Islam dan sikap sinisme terhadap kehidupan muslim di Eropa, cendikiawan Islam Yusuf al Qardawi telah merugikan proses dialog. Oleh Khaled Hroub.
Mengenang Abdurrahman Wahid
Perginya Ulama Pengusung Pluralisme
Mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid wafat di Jakarta pada usia 69 tahun. Dia adalah presiden pertama yang terpilih secara demokratis setelah era kediktatoran Soeharto, Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur giat mempromosikan dialog antar agama dan Islam yang damai. Sebuah Obituari oleh Armin Wertz.
Pluralisme di Indonesia
"Keterlibatan Perempuan Penting"
Sebagai pegiat pluralisme di Indonesia, putri sulung bekas Presiden Abdurahman Wahid, Zannuba Arifah Chafsoh, atau Yenni Wahid mudah berhubungan dengan banyak kalangan di Indonesia. Bersama Zaki Amrullah, Yenny berbicara mengenai peluang dan tantangan pluralisme di Indonesia.
Yusuf al-Qardawi dan Kaum Minoritas
Toleransi Terbatas
Dengan sikap permusuhannya terhadap warga minoritas di dalam masyarakat Islam dan sikap sinisme terhadap kehidupan muslim di Eropa, cendikiawan Islam Yusuf al Qardawi telah merugikan proses dialog. Oleh Khaled Hroub.