10.01.2011Dilema Media di Era Kebangkitan AgamaTersandera Tirani Mayoritas

Kebangkitan kembali agama di Indonesia menghadapkan profesi jurnalis pada dilemma antara keyakinan sendiri dan komitmen terhadap pemberitaan yang objektif. Sebuah gambaran betapa kini media di Indonesia harus berjuang keluar dari belenggu mainstream yang semakin konservatif. Oleh Andy Budiman

Muslim di Indonesia (Foto: AP)
Penelitian kuantitatif yang dilakukan Saiful Mujani pada tahun 2002 mengkonfirmasi fakta bahwa masyarakat Indonesia semakin religius. 88 persen populasi muslim Indonesia mengaku taat beribadah
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan kebangkitan kembali agama. Sesuatu yang tak pernah diperkirakan sebelumnya. April 1966, majalah TIME menurunkan laporan utama Is God Dead? Pada awal milenium ini, The Economist dengan percaya diri menulis obituari tentang Tuhan.

Tapi, peristiwa 11/9 mengubah itu semua! Kini, kita menyaksikan dunia yang sedang berubah. Inilah masa, ketika agama menjadi semakin penting bagi kehidupan banyak orang. Religion strikes back.

Lihatlah Nigeria yang kini terbelah antara utara yang Islam dengan selatan yang Kristen. Pantekosta berkembang pesat di Korea Selatan dan Brazil. Negeri Balkan terpecah antara Bosnia dan Kosovo yang Islam dengan Serbia yang menganut Orthodoks dan Kroasia yang Katolik. Partai berbasis Islam AKP kini berkuasa di negeri sekuler Turki. Para Bhiksu di Thailand menuntut pemerintah menempatkan Buddhisme sebagai agama resmi negara.

Indonesia, juga tak luput dari pengaruh kebangkitan agama. Fenomena yang jejaknya bahkan telah dimulai sejak era kolonialisme. Sejarawan Harry Benda menyebut "Sejarah modern Indonesia, adalah sejarah perluasan kaum santri".

Media di tengah kebangkitan agama

Penelitian kuantitatif yang dilakukan Saiful Mujani pada tahun 2002 mengkonfirmasi ini. Ia menemukan fakta bahwa masyarakat Indonesia semakin religius. 97,2 persen orang Indonesia mengaku percaya Tuhan. 88 persen populasi muslim Indonesia mengaku cukup sering menunaikan ibadah shalat.

Anggota kelompok Laskar Jihad di Jakarta (Foto: AP)
"Ketika tragedi Monas pecah dua tahun silam, seorang wartawati pulang ke ruang redaksi dan memamerkan foto dirinya bersama Munarman, Komandan Komando Laskar Islam, yang saat itu ditahan akibat tindak kekerasan," tulis Budiman.
Saya akan bicara mengenai media dalam konteks kebangkitan agama. James Madison dalam Federalist Papers menulis bahwa bahaya penindasan dalam demokrasi datang dari kelompok mayoritas. Alexis de Tocqueville juga mengingatkan bahaya bernama tirani mayoritas. Richard Dawkins menyebut "Proyek pencerahan: kebenaran, akal sehat dan ilmu pengetahuan, kini terancam serangan organized ignorance bernama agama".

Dalam konteks media, wartawan adalah bagian dari masyarakat. Ia tak lepas dari pengaruh kebangkitan agama. Saya percaya bahwa media adalah cermin masyarakat. Bahwa ruang redaksi adalah miniatur Indonesia. Kalau di masyarakat yang dominan adalah pandangan keberagamaan yang konservatif, maka pandangan itu pula yang akan termanifes di media.

Ketika tragedi Monas pecah dua tahun silam, seorang wartawati pulang ke ruang redaksi dan memamerkan foto dirinya bersama Munarman, Komandan Komando Laskar Islam, yang saat itu ditahan karena melakukan kekerasan terhadap anggota Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama & Berkeyakinan (AKKBB). Wartawati itu dengan bangga menyebut bahwa Munarman adalah pahlawan Islam.

Bergelut dengan keyakinan sendiri

Wartawan lainnya, membandingan Front Pembela Islam (FPI) dengan AKKBB. Dia bilang "Jelek-jelek Rizieq Shihab itu masih sholat dan Islam. Kalau AKKBB nggak jelas". Dalam kasus pengusiran Ahmadiyah di Manis Lor, Kuningan, beberapa tahun silam, seorang wartawan berkomentar "Kasus ini tak akan muncul kalau mereka membentuk agama sendiri".

Demonstrasi menuntut pemberlakuan Syariah Islam oleh simpatisan Hizbut Tahrir (Foto: AP)
"Dalam konteks kebangkitan agama di media, perempuan dan seksualitas dikotakkan dalam sebuah sudut pandang moral tertentu sambil ironisnya dalam tarikan nafas yang sama: dieksploitasi," tulis Budiman.
Contoh lainnya adalah saat pemakaman teroris Dr. Azhari. Sejumlah media menulis bahwa jenazah Dr. Azhari menyebarkan wangi. Wartawan lainnya melaporkan bahwa saat dimakamkan, ada merpati putih yang terbang di atasnya. Reportase ini, mirip dengan pandangan yang hidup di kalangan jihadis yang percaya bahwa mereka yang mati sahid akan menebar wangi dan merpati akan terbang di atas jasadnya.

Tidak mudah bagi wartawan untuk menulis dengan jernih di masa kebangkitan agama. Secara personal, wartawan harus bergelut dengan keyakinan dirinya sebagai bagian dari umat. Di sisi lain, dia juga harus berhadapan dengan pandangan audience yang konservatif: melawan arus artinya berhadapan dengan mayoritas dan berpotensi melukai perasaan umat.

Dalam konteks kebangkitan agama di media, perempuan dan seksualitas dikotakkan dalam sebuah sudut pandang moral tertentu sambil ironisnya dalam tarikan nafas yang sama: dieksploitasi. Berita infotainment adalah contoh sempurna. Di media infotainment, para selebritas, terutama perempuan terus menerus diberitakan, sambil pada saat yang sama dituntut untuk tunduk pada cara pandang tertentu.

Dalam belenggu mayoritas

Di sana, perempuan dicitrakan sebagai makhluk yang harus selalu menjaga kecantikannya. Seorang presenter infotainment mengomentari bentuk tubuh seorang artis yang belakangan terlihat gemuk setelah melahirkan. Tak hanya itu, perempuan juga dituntut untuk tetap menjalankan peran ganda di rumah.

Infotainment sering menurunkan laporan mengenai kehidupan artis yang di sela-sela kesibukannya tetap menjalankan peran ganda untuk melayani suami di rumah. Sebuah koran menulis "Dewi Persik: tetap goyang di rumah meski baru goyang di panggung".

Demonstrasi kelompok Kristen di Jakarta (Foto: AP)
Warga Kristen Indonesia berdemonstrasi di Jakarta terhadap semakin meningkatnya kekerasan bersifat keagamaan, yang terutama terjadi di Jawa Barat. Diskriminasi terhadap kelompok minoritas belakangan bahkan dijalankan aparatur pemerintahan secara sistematis.
Seorang redaktur infotainment terkenal, dengan bangga menyebut bahwa isi berita mereka tak melulu gosip. Dia memberi contoh bahwa dalam kasus poligami AA Gym, medianya tidak mengecam, tapi justru mencoba meluruskan masalah dengan melihat kasus ini menggunakan perspektif agama, yang dalam konteks ini membenarkan praktek poligami.

Berita kriminal di media massa, juga seringkali mengabaikan perspektif perempuan dan korban. Sebuah situs berita menulis “Perempuan manis bertubuh sintal itu mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di dalam bis Trans Jakarta”. Dengan menggambarkan detail tubuh perempuan, sang wartawan seolah ingin menunjukkan bahwa sumber “godaan” itu ada pada diri perempuan.

Dalam contoh kasus-kasus tadi, media telah ikut melestarikan kekerasan terhadap perempuan lewat pilihan angle, bahasa, dan deskripsi mengenai tubuh perempuan yang bersumber dari ideologi mainstream.

Inilah ironi kita. Sepuluh tahun terakhir kita punya kebebasan. Tapi pada saat yang sama kita terbelenggu oleh pandangan mainstream yang semakin konservatif. Demokrasi kita terjebak di dalam illiberal society. Media: tersandera oleh tirani mayoritas.

Andy Budiman

Andy Budiman adalah pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan pendiri Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK). Saat ini ia bekerja sebagai editor di redaksi Indonesia Deutsche Welle, Jerman.

© Andy Budiman 2011

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de