03.01.2011Perdebatan Seputar Integrasi di JermanTanpa Imigran Pun, Kita Sudah Kenal Multikulturalisme
Entah itu pengakuan atas agama atau subkultur, Jerman dalam soal integrasi sebenarnya telah mencapai banyak hal. Berkaitan dengan hal itu, Sosiolog Armin Nasehi mengritik desakan akan adanya kebudayaan dasar Jerman sebagai sangat tidak patriotis.
Armin Nasehi: "Mereka yang ingin mengerti kekuatan integrasi masyarakat Jerman, harus menyadari bahwa masyarakat modern dan liberal terutama terintegrasi karena mereka berhasil menolak homogenitas kebudayaan dan konsensus tentang bentuk hidup, terlepas dari masalah imigran apapun." Sejak sepuluh tahun lalu secara teratur muncul perdebatan soal kebudayaan nasional di Jerman. Alasannya adalah dampak imigrasi dan pertikaian soal status integrasi imigran dan keluarga mereka.
Tuntutan dan pengakuan akan sebuah "dasar kebudayaan Jerman" kemudian akan semakin keras, jika analisa realita yang empiris terlalu sulit, dan orang mencari ungkapan yang dapat diterima bagi tuntutan yang bersifat sangat konservatif. Tampaknya lebih susah lagi untuk menunjukkan, bahwa integrasi pekerja imigran dari Turki dan keluarga mereka dapat dianggap berhasil, seperti ditunjukkan hasil penelitian terakhir.
Sebaliknya, lebih mudah untuk menyatakan daerah imigran di kawasan yang tanpa diragukan memang menjadi masalah sosial sebagai ancaman bagi negara, dan kemudian menyerukan adanya kebudayaan dasar, dan itu tanpa mengatakan, apa sebenarnya yang dimaksud.
Lebih baik, jika upaya yang dijalankan di dua periode legislatif terakhir diintensifkan, juga melaksanakan politik integrasi yang lebih aktif dan menjadi negara imigran yang aktif dari sudut politik imigrasi. Ikatan ekonomi dalam hal ini lebih maju daripada politik dan administrasi pendidikan. Dari negara-negara lain orang dapat melihat, bahwa imigrasi dapat dibentuk secara kreatif. Orang juga dapat belajar bahwa kekuatan integrasi di Jerman ternyata lebih kuat daripada yang kita perkirakan.
Kekuatan integratif
Sejarah imigran di Jerman menunjukkan, bahwa institusi negara dan hukum, pendidikan dan kebudayaan, perekonomian dan bahkan agama telah mengembangkan kekuatan integrasi, walaupun orang tidak secara sadar menginginkannya dan tanpa harus ada masalah kebudayaan dasar. Negara lebih bersedia berintegrasi, lebih liberal, lebih bersifat republik daripada orang-orang yang menggunakan kata-kata itu tahu atau ingin tahu.
Mereka yang ingin mengerti kekuatan integrasi masyarakat Jerman, harus menyadari bahwa masyarakat modern dan liberal terutama terintegrasi karena mereka berhasil menolak homogenitas kebudayaan dan konsensus tentang bentuk hidup, terlepas dari masalah imigran apapun. Mereka tidak hidup dari pandangan sama dan persamaan, melainkan lebih berupa masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang asing satu sama lain, tetapi memahami keasingan mereka sebagai sumber kekuatan, bukan masalah.
Jadi bentuk-bentuk hidup yang modern dan bersifat kekotaan hanya mungkin terjadi, karena terutama orang-orang yang asing satu sama lain bertemu. Terutama di kota-kota metropolitan, di mana kedekatan dari segi ruang dan ketergantungan untuk berfungsi bersama semakin tinggi, batas-batas kebersamaan sangat jelas, yaitu ketidakmungkinan untuk membangun kehidupan bermasyarakat di atas resiprositas kultural dan pribadi.
Masyarakat liberal hidup dari hak istimewa untuk dibiarkan hidup sesuai kehendak sendiri. Hanya dalam bentuk inilah, keasingan orang lain tidak dianggap sebagai sesuatu yang mengancam. Dan hanya dalam bentuk ini, warga minoritas dari segi etnik, seksual dan kebudayaan dapat memperoleh keuntungan dari keasingan dan sikap masa bodoh kita.
Menolak homogenitas budaya
Masa depan bentuk-bentuk hidup kita akan dapat dilihat keberhasilannya, jika dapat mempertahankan hak istimewa berupa sifat keasingannya. Yang menjadi ujian lakmus untuk itu adalah pertanyaan, seberapa besar ketidaksamaan sosial dapat ditanggungnya dan sejauh mana pluralitas yang diterimanya.
Sebenarnya masyarakat liberal hidup dari sifatnya yang tidak dapat dilihat. Bukan berarti orang tidak melihat pluralitas. Yang menentukan adalah bahwa lingkungan asing, yang tidak dikenal dan lain itu tidak terlalu tampak, karena hidup sehari-hari tidak tergantung lagi pada integrasi.
Tanpa daerah-daerah imigran pun, masyarakat Jerman sudah sangat jamak dari segi kebudayaan. Standar moral dan gaya hidup, selera dan masalah kepercayaan, kebiasaan dan tuntutan, semua itu menghasilkan sejumlah dunia yang berbeda-beda. Mungkin orang bahkan dapat menyebutnya masyarakat paralel.
Institusi pasar kerja Jerman, pasar untuk produk-produk dan layanan, pasar pendidikan, media massa, bahkan pasar praktek-praktek religius dan industri hiburan sudah menyesuaikan diri dengan realita dan konteks yang berbeda-beda ini. Jika kanselir Jerman menekankan, multikulturalisme gagal, maka berkaitan dengan pesona tentang sesuatu yang asing dan eksotis, ia benar. Tetapi ia tidak menghiraukan, betapa jamak dan beranekaragamnya kebudayaan negara, juga tanpa imigran, dan bagaimana masyarakat berhasil membendungnya.
Revolusi sosial sebagai retrospeksi
Siapa yang masih ingat, bagaimana dua generasi lalu kedua agama Kristen saling bertentangan? Atau bagaimana subkultur didramatisir? Siapa yang masih ingat, bahwa “outing“ orang-orang yang homoseksual beberapa waktu lalu masih menjadi skandal? Atau bahwa di tahun 60-an pekerja Katolik dari Italia dan Spanyol dianggap sebagai ancaman? Siapa yang masih ingat pada kemuakan warga konservatif Amerika kepada kebudayaan pop kaum muda? Atau ingat pada sempitnya pandangan moral dan moral seksual yang sangat berlebihan di tahun 50an?
Masyarakat Jerman semakin menjauh dari dasar kebudayaan yang sempit dan menemukan bentuk-bentuk baru dalam praktek keseharian. Sikap liberal-republik semakin mendapat tempat, sehingga orang hanya tertarik pada bentuk kehidupan orang lain, sejauh itu tidak mengganggu orang lain. Sikap seperti itu hanya memandang kebersamaan yang sosial dari berbagai bentuk hidup, dan dapat mencakup dunia paralel, selama ini dapat diterima secara sosial.
Jika pada akhirnya tampak, bahwa kebudayaan dasar hanya berarti memberikan tempat kepada hukum dan peraturannya, maka orang tidak perlu lagi kebudayaan dasar. Sistem hukum Jerman yang netral berkaitan dengan gaya hidup, pengakuan kepercayaan agama, ruang sosial dan moral atau selera estetis. Sedangkan pembicaraan soal kebudayaan dasar hanya berguna untuk menenangkan sekelompok orang, yang telah menempatkan diri pada gambaran masyarakan homogen yang tidak realistis. Masa itu sudah lama berlalu.
Masyarakat Jerman, juga jika dibandingkan dengan negara lain berhasil dalam mengintegrasikan berbagai kalangan dan bentuk hidup, baik yang bersifat imigran maupun yang asli. Jika itu ditunjukkan dengan kebanggaan, itu juga dapat memungkinkan tindakan yang penuh keyakinan terhadap kawasan dan sikap yang bermasalah, yang menutup diri terhadap peraturan hukum masyarakat ini. Supaya berhasil, orang hanya perlu kehendak politis. Sebaliknya, pembicaraan soal dasar kebudayaan Jerman bukan hanya sempit melainkan juga tidak patriotis.
Armin Nassehi
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
© Süddeutsche Zeitung 2010
Armin Nassehi memberikan kuliah di jurusan sosiologi pada Universitas München. Baru-baru ini sebuah bukunya baru terbit dengan judul "Mit dem Taxi durch die Gesellschaft. Soziologische Storys", atau: Dengan Taksi Menelusuri Masyarakat. Cerita-Cerita Sosiologis.
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Wawancara dengan Seyla Benhabib
"Integrasi Merupakan Pencerahan"
Filsuf Şeyla Benhabib memandang terdapat defisit demokrasi di Jerman. Dia mendesakkan hak pilih bagi warga negara non Jerman, dan persamaan hukum antara Islam dan agama lainnya. Deniz Utlu berbincang dengan Seyla Benhabib.
Studi mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman"
Integrasi Mengalahkan Segregasi
Hasil studi termutakhir mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman" mememastikan bahwa integrasi sosial umat muslim berjalan lebih baik daripada yang diduga sebelumnya. Namun defisit masih tercatat di sektor pendidikan formal dan peluang berkarir. Oleh Sonja Haug.
Kaum Migran di Jerman
Elite Baru Jerman
Polemik seputar cendikiawan muslim Jerman berdarah Iran, Navid Kermani dengan sebuah lembaga negara bagian Jerman, Hessen yang memberikan hadiah budaya "Der Hessische Kulturpreis", menunjukkan bahwa masa depan intektual negeri ini berada di tangan para migran.
Wawancara dengan Seyla Benhabib
"Integrasi Merupakan Pencerahan"
Filsuf Şeyla Benhabib memandang terdapat defisit demokrasi di Jerman. Dia mendesakkan hak pilih bagi warga negara non Jerman, dan persamaan hukum antara Islam dan agama lainnya. Deniz Utlu berbincang dengan Seyla Benhabib.
Studi mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman"
Integrasi Mengalahkan Segregasi
Hasil studi termutakhir mengenai "Kehidupan Muslim di Jerman" mememastikan bahwa integrasi sosial umat muslim berjalan lebih baik daripada yang diduga sebelumnya. Namun defisit masih tercatat di sektor pendidikan formal dan peluang berkarir. Oleh Sonja Haug.
Kaum Migran di Jerman
Elite Baru Jerman
Polemik seputar cendikiawan muslim Jerman berdarah Iran, Navid Kermani dengan sebuah lembaga negara bagian Jerman, Hessen yang memberikan hadiah budaya "Der Hessische Kulturpreis", menunjukkan bahwa masa depan intektual negeri ini berada di tangan para migran.