30.05.2010Kontroversi hikayat "Seribu Satu Malam" di MesirSensor Berdalih Pornografi

Di dunia Arab suara-suara yang menuntut agar "Seribu Satu Malam" disensor, atau bahkan dilarang sepenuhnya semakin keras. Alasannya, kumpulan dongeng itu dianggap tidak senonoh. Baru-baru ini sekelompok pengacara konservatif Mesir mengajukan tuntutan. Laporan Samir Grees

Adegan teater 1001 malam di Doha (Foto: dpa)
Ibarat duri di mata kaum fundamentalis. Di Mesir, tahun 1985 kaum fundamentalis telah berhasil memperoleh keinginannya, yaitu ketika "Seribu Satu Malam" ditarik dari pasaran untuk sementara waktu.
Tidak ada karya sastra lain yang menimbulkan kekaguman di seluruh dunia, seperti "Seribu Satu Malam". Bagi banyak orang, pada skala kisah favorit, cerita-cerita yang dituturkan Scheherazade berada tepat di bawah Alkitab atau drama-drama karya Shakespeare.

Sejumlah besar pengarang dengan terang-terangan mengaku, menulis karya berdasarkan cerita-cerita yang terrangkum dalam "Seribu Satu Malam". Mereka juga menyatakan terpengaruh karya yang berasal dari India, Persia dan Arab tersebut. Misalnya Voltaire (1694-1778) atau Jorge Luis Borges (1899-1986), bahkan Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), seperti dipaparkan Katharina Mommsen dalam penelitiannya tentang Goethe.

Duri di Mata Kaum Fundamentalis

Namun demikian, kumpulan dongeng "Seribu Satu Malam" sudah lama menjadi karya yang dipertikaikan, dan sering jadi korban sensor. Ketika pakar ilmu orientalis Antoine Galland sebagai orang Eropa pertama menerjemahkan karya itu ke dalam bahasa Perancis awal abad ke-18 lalu, ia sudah memperlunak banyak bagian karya itu yang erotis atau religius. Kadang ia menghilangkannya sama sekali.

Di dunia Arab, hingga masa kini orang terutama memprotes sejumlah besar detail seksual dalam "Seribu Satu Malam". Tetapi bagi sejumlah orang, seluruh karya itu ibaratnya duri yang menusuk mata.

Di Arab Saudi, "Seribu Satu Malam" masuk daftar karya terlarang. Di Mesir baru-baru ini sekelompok pengacara mengajukan tuntutan atas edisi baru karya itu. Sebelum dicetak, edisi baru selayaknya dibersihkan dari "kata-kata seksual yang tak tahu malu". Oleh sebab itu anak-anak dan remaja tidak boleh membacanya. Demikian dikatakan Ayman Imam, salah seorang dari sekelompok pengacara itu, dalam sebuah wawancara.

"Kebudayaan Islam Baru Berkembang dengan Kebebasan "

Edisi baru yang dipertikaikan tersebut dipublikasikan di Kairo dan termasuk sebuah seri yang berharga murah bernama "Al Dhakhair" (Harta). Pengarang terkenal Gamal al Ghitani menulis pengantar seri ini.

Gamal al-Ghitani (Foto: DW)
Pengarang dan wartawan kenamaan Gamal al Ghitani menilai tuntutan terhadap percetakannya sebagai kampanye kelompok fundamentalis Islam terhadap kaum intelektual Mesir.
Al Ghitani menilai tuntutan para pengacara itu sebagai kampanye kelompok fundamentalis Islam terhadap kaum intelektual Mesir secara keseluruhan. Ia juga menganggap tuntutan itu upaya untuk melancarkan tekanan terhadap pemerintah, agar pemerintah melarang karya tersebut.

Dalam sebuah wawancara al Ghitani mengatakan, "Memang tuntutan itu ditujukan terhadap 'Seribu Satu Malam'. Tetapi sebenarnya tuntutan itu termasuk aksi gerakan fundamentalis di Mesir, yang ingin mendirikan negara yang religius."

Kaum ekstrimis sendiri, demikian ditambahkan al Ghitani, juga menolak warisan budaya Arab. "Mereka berbicara dan menyita berbagai hal sesuai pandangan mereka sendiri tetapi atas nama agama. Padahal kebudayaan Islam mencapai puncak kejayaannya di masa, ketika kebebasan berpendapat tidak dibatasi sama sekali."

Ia mengatakan kemudian, itulah sebabnya mengapa ia membuat seri ini. Ia ingin "menerbitkan kembali teks-teks unik warisan budaya Arab, yang hampir tidak boleh dicetak karena bertambahnya pengaruh kaum fundamentalis di wilayah itu."

Minat atas Cerita Scheherazade di Seluruh Dunia

"’Seribu Satu Malam’ adalah sebagian dari warisan budaya manusia, seperti halnya karya Homer Illiad dan Odyssey", demikian dikatakan al Ghitani, seraya merujuk pada ketenaran internasional yang dinikmati karya itu. Oleh sebab itu banyak universitas di seluruh dunia menunjukkan minatnya, misalnya Universitas Erlangen, yang tanggal 25 Mei tahun ini mengadakan konferensi internasional untuk "Seribu Satu Malam".

Claudia Ott (Foto: dpa)
Mendukung kebebasan pengarang dan menentang sensor. Pakar ilmu oriental Claudia Ott yang menerjemahkan "Seribu Satu Malam" ke bahasa Jerman menolak keras pengubahan teks atau pencoretan karya klasik dari sastra dunia ini.
Konferensi besar lainnya diadakan Desember 2009 lalu di Abu Dhabi. "Saya terkejut", demikian dikatakan al Ghitani, "akan besarnya pengaruh "Seribu Satu Malam" di Jepang, India dan Asia Tenggara. Karya itu termasuk sastra dunia, oleh sebab itu sudah menjadi tugas kaum intelektual di seluruh dunia untuk melindunginya."

Pakar ilmu oriental asal Jerman, Claudia Ott juga sependapat. Ia membuat terjemahan baru "Seribu Satu Malam" dari bahasa Arab tahun 2004 lalu. Claudia Ott menolak sepenuhnya, sensor atau pencoretan kalimat-kalimat dari karya itu karena alasan moral.

Kumpulan dongeng itu bukan untuk pertama kalinya menyebabkan diskusi panas di Mesir. Tahun 1985 sebuah kelompok fundamentalis Islam berhasil menyebabkan penarikan karya itu dari pasaran melalui keputusan pengadilan. Tetapi setahun kemudian, keputusan ini dicabut kembali melalui keputusan dari instansi yang lebih tinggi.

Dalam keputusan terakhir kisah-kisah Scheherazade disebut sebagai "contoh cerita atau kesenian rakyat Arab dan Islam yang paling terkenal". Memang beberapa kata dapat dicoret dari karya itu, demikian dikatakan hakim ketua, tetapi jika orang membeli buku itu hanya karena ada bagian-bagiannya yang erotis, maka orang itu entah sakit atau bodoh.

Samir Grees

© Qantara.de 2010

Alih bahasa oleh Marjory Linardy

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de

Samir Grees mengambil studi di bidang sastra Jerman dan ilmu penerjemahan di Kairo dan Mainz, Jerman. Ia bekerja sebagai wartawan dan penerjemah. Ia menerjemahkan sejumlah besar karya sastra Jerman ke dalam bahasa Arab, antara lain karya Martin Walser yang berjudul, "Ein liebender Mann", "Die Klavierspielerin" oleh Elfriede Jelinek dan "Der Kontrabass" karya Patrick Süskind.