07.02.2011Gelombang Protes di MesirSenja Kala Penguasa

Setelah peristiwa di Tunisia tak seorang pun yang tidak mengatakan bahwa kejadian semacam itu mustahil terjadi di Mesir. Namun setiap orang yang mengenal negeri itu mengetahui bahwa waktu sudah mendesak, harapan telah pupus dan betapa sang diktator dibenci. Sebuah analisa oleh Stefan Weidner.

Demonstrasi menentang Presiden Housni Mubarak di lapangan Tahrir, di Kairo (Foto: AP)
Awal proses keruntuhan: "Mubarak memang secara resmi masih berkuasa, tetapi kekuasaan di sini diartikan sebagai kekuasaan yang melayang di ruang bebas bagaikan Mayor Tom, jauh dari pengawasan di darat. Kereta revolusi bergerak melaju dengan kecepatan tinggi, tetapi gerbong presiden, di mana telepon dari segala penjuru dunia masih berdatangan, tidak beranjak dari tempatnya," tulis Weidner.
Bagi penduduk Mesir mungkin kedengarannya sinis, ketika Obama yang sebelumnya dilihat sebagai pembawa harapan dunia internasional, Jumat malam (28/01) menegaskan, ia telah memperingatkan Mubarak akan pentingnya reformasi.

Hari Minggu pagi, sembilan belas pesawat terbang pribadi dengan sejumlah keluarga pebisnis yang dekat dengan pemerintahan, meninggalkan Kairo menuju negara-negara Teluk. Sejak tiga hari terakhir tidak ada polisi yang terlihat di jalan-jalan Kairo. Tak seorang lagi pun yang menghalang-halangi kebebasan berdemonstrasi di sini, kecuali para demonstran itu sendiri yang menyerukan agar mematuhi aturan, dan jika perlu meminta bantuan militer untuk melakukannya.

Hilangnya kaitan sepenuhnya dengan realitas dari pemerintahan dan media barat hanya terkalahkan melalui ulah dari kasta pemegang kebijakan politik di Mesir. Melalui pemblokiran akses internet dan sejak hari Minggu penutupan saluran televisi satelit Al-Jazeera, mereka kembali terjebak untuk tidak keluar lagi dari Truman-Show-nya sendiri.

Sejak sang „Presiden“ tahun 1981 mengambil alih kekuasaan, keadaan darurat berlaku di Mesir. Kita tidak perlu menjadi pakar Ilmu Politik untuk mengetahui bahwa pengecualian yang berubah menjadi keseharian, bukan lagi merupakan pengecualian, dan tak seorang pun akan mengindahkannya lagi.

Oh, ini pasti seorang penguasa kuat, seorang pria yang di mana-mana disegani oleh penguasa-penguasa kuat lainnya yang hari Jumat lalu memberlakukan jam malam dan mengirimkan angkatan bersenjatanya ke jalan-jalan untuk berpesta ria karena polisi menghilang tak tahu ke mana. Dalam sejarah kemanusiaan kita, jam malam tersebut merupakan larangan yang paling konsekuen dilanggar, dan juga yang di semua saluran televisi paling bagus didokumnetasikan sebagai larangan yang tidak digubris masyarakat.

Pada malam hari, kendaraan-kendaraan berlapis baja berwarna pasir yang indah dan baru yang dikerahkan agar jam malam ditaati, menjadi sasaran tulisan-tulisan dengan spray. Di hadapan semua kamera, tulisan-tulisan itu membeberkan ancaman pada sistem yang sedang berkuasa: „Mubarak, turun!“

Jauh dari realitas

Tujuan tampaknya hampir tercapai. Mubarak memang secara resmi masih berkuasa, tetapi kekuasaan di sini diartikan sebagai kekuasaan yang melayang di ruang bebas bagaikan Mayor Tom, jauh dari pengawasan di darat. Kereta revolusi bergerak melaju dengan kecepatan tinggi, tetapi gerbong presiden, di mana telepon dari segala penjuru dunia masih berdatangan, tidak beranjak dari tempatnya.

Panser militer di pusat kota Kairo (Foto: AP)
"Mubarak turun!," bunyi salah satu coretan anti pemerintah yang ditorehkan para demonstran di badan tank militer yang dikerahkan di pusat kota Kairo.
Satu-satunya yang masih mampu dilaksanakan pemerintah adalah membiarkan warga Mesir terjebak dalam kerusuhan di jalan-jalan dan dengan begitu mengganjar mereka untuk pembangkangannya. „Coba kita lihat“, mungkin demikian yang dikatakan pihak yang bertanggung jawab, „apakah rakyat memang benar-benar sudah cukup matang, seperti yang dikatakannya.“

Dengan gamblang mereka biarkan kota-kota Mesir dijarah. Diawali hari Jumat pada museum terpenting Afrika yang merupakan salah satu yang terkemuka di dunia, yaitu Museum Nasional Mesir yang biasanya dijaga bagaikan sebuah benteng pertahanan. Ini berlangsung hingga penjarahan tempat yang tak ternilai itu diketahui oleh para demonstran. Warga sipil kemudian membentuk inisiatif perlindungan museum itu. Setelah beberapa saat, militer mengambil alih pengamanan museum. Beberapa kaca pelindung barang antik pecah, dan sejumlah obyek diperkirakan hilang. Untuk sementara ini, yang terburuk dapat dicegah.

Seperti kita semua, rezim ini telah menganggap remeh kemampuan mengorganisir diri dan sikap disiplin orang Mesir. Sampai Sabtu malam para warga di semua kawasan hunian membentuk komisi masing-masing yang memblokir jalan-jalan dan membangun pos penjagaan. Siapa yang membutuhkan bantuan mereka, dapat menekan nomor telepon 19614 yang disediakan untuk kepentingan itu.

Pintu waktu yang tersedia bagi penjarah-penjarah spontan atau gang-gang terorganisir - kita tidak mengetahuinya – sudah kembali ditutup pada larut malam menjelang hari Minggu. Tetapi tak ada pemadam kebakaran yang berupaya memadamkan api di gedung partai pemerintah yang sejak hari Jumat terbakar. Hanya gedung kementrian dalam negeri – pusat dinas rahasia Mesir – yang masih dijaga ketat oleh penembak-penembak jitu garda kepresidenan. Sampai Minggu sore, jumlah korban tewas mencapai 102 jiwa. Kita harus mengakui bahwa jumlah ini cukup rendah mengingat peristiwa yang telah terjadi dan yang mungkin masih akan terjadi.

Sudah tiba waktunya

Setelah peristiwa di Tunisia tak seorang pengamat pun yang tidak mengatakan bahwa kejadian semacam itu tidak akan terjadi di Mesir. Namun setiap orang yang mengenal negeri itu dan orang-orangnya, meskipun hanya sedikit, mengetahui bahwa waktu sudah mendesak, harapan tidak ada dan bagaimana sang diktator dibenci.

Demonstrasi di lapangan Tahir di Kairo pada 'hari kemurkaan' (Foto: AP)
Teriakan meminta kebebasan dan akhir dari kekuasaan Mubarak: Demonstrasi di lapangan Tahir di Kairo pada "hari kemurkaan".
Meskipun demikian orang berpikir, betapa cerdiknya si kancil Mubarak ini. Ia bahkan tidak menyentuh pengarang populer seperti Alaa Al-Aswani yang dalam novel terkenalnya „Chicago“ memaparkan sindiran terkeras dalam seluruh kesusasteraan Arab saat ini terhadap seorang tokoh yang masih berkuasa.

Bukankan kebebasan mengeluarkan pendapat ada di Mesir, bila buku itu dapat dipublikasi dan pengarangnya bebas bergerak? Tetapi ini bukan kebebasan mengeluarkan pendapat sebagai sebuah hak, melainkan kebebasan dari keangkuhan penguasa.

Selasa lalu, pada aksi unjuk rasa besar-besaran yang pertama di lapangan Tahrir, di mana al-Aswani ikut serta, ia diminta demonstran untuk berbicara. Ia sama sekali tidak ingin berbicara banyak. Ia antara lain mengatakan: „Sudah tiba waktunya untuk akhirnya memperlakukan kita sebagai manusia!“

Sebagai wakil presiden, Al-Suleiman yang berusia 67 tahun dianggap memiliki peluang besar sebagai pengganti Mubarak. Al-Suleiman adalah mantan kepala dinas rahasia dan diplomat senior yang sangat dihargai Amerika Serikat dan Israel. Bila ia berhasil menjadi presiden untuk masa transisi dan melaksanakan pemilu presiden melalui undang-undang pemilu baru - karena UU lama tidak memungkinkan pemilu bebas – maka target yang dicapainya melebihi yang kita perkirakan.

Tertanam dalam ingatan kolektif

Selambatnya sesudah itu, jika tidak sudah terjadi pada pekan-pekan mendatang, ia juga akan merupakan bagian masa lalu, meskipun itu tidak diinginkannya. Tak terelakkan lagi, titik balik matahari politik dunia ini akan merembes memasuki kancah konflik Timur Tengah.

Tidak berupa ancaman terbuka bagi Israel, tetapi merupakan bentukan yang menunjukkan kebijakan politik Israel yang hanya bersedia melakukan sedikit kompromi, sebagai sesuatu yang tidak berguna. Mesir yang dikendalikan oleh keinginan rakyat meskipun tidak sepenuhnya, akan membuka perbatasannya ke Jalur Gaza. Tetapi jika isolasi Hamas berakhir, kartu-kartu Palestina-Israel harus kembali dikocok. Langkah yang sangat diperlukan akan muncul dalam „proses perdamaian“ yang saat ini sepenuhnya mandek.

Muhammad el Baradei di Kairo (Foto: AP)
Tumpuan harapan kelompok oposisi Mesir, Muhammad el Baradei, baru-baru ini menyerukan penduduk untuk mengikuti aksi mogok masal dan menawarkan diri sebagai pemimpin alternatif terhadap Mubarak.
Alternatif bagi rezim Mubarak cukup lama dilihat tercermin hanya melalui politik Islam. Kini kita melihat dengan penuh keheranan, bagaimana dahsyatnya masyarakat sipil mengambil alih inisiatif. Pada menit terakhir, yaitu baru pada hari Jumat, jamaah Ikhwanul Muslimin bergabung ke dalam kereta revolusi. Mereka masih duduk di gerbong terakhir, dan mereka senang diam di situ.

Para imam di masjid-masjid yang semuanya diangkat dan dikontrol oleh kementrian agama, untuk sementara ini menunaikan tugas mereka sebagaimana mestinya. Hari Jumat mereka menyatakan bahwa diijinkan untuk mengeluarkan pendapat secara bebas dan memprotes, tetapi dilarang membuat kekacauan dan melakukan kekerasan.

Namun, penyamaan sporadis dengan dengan revolusi Iran yang terjadi tahun 1979 tidak dapat dibenarkan, karena sama sekali tidak terlihat kehadiran seorang Khomeini Mesir. Satu-satunya tokoh oposisi yang kembali dari luar negeri adalah Mohammed el-Baradei, mantan Dirjen Badan Atom Internasional IAEA yang juga penerima hadiah Nobel perdamaian.

Pelajaran dari Tunisia begitu kejamnya dan tak terlupakan. Pembakaran diri membawa dampak yang lebih dalam ketimbang serangan bunuh diri. Pelajaran itu tak terhapuskan lagi dari ingatan kolektif warga Arab.

Stefan Weidner

Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2011

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de