06.11.2010Profil Musisi Suriah Omar SouleymanRaja Dabka Elektro

Omar Souleyman tidak berasal dari sebuah keluarga musikus. Tetapi ketika ia dan pemusik-pemusiknya mulai mentransfer alat musik tradisional ke keyboard, ia menciptakan sebuah gaya musik baru, yaitu Dabka Elektro. Stefan Franzen mewawancarai pemusik dari Suriah yang kini terkenal secara internasional melalui sebuah label Amerika.

Meskipun dunia barat berpendapat bahwa pasar musik internasional saat ini sudah menawarkan begitu banyaknya ragam musik, kadang kala masih muncul juga nada-nada yang mengagumkan pendengar Eropa. Ini khususnya terlihat pada musik pop bernafas Arab yang dimainkan di Jakarta hingga Damaskus.

Di sana dan juga di Afrika, kaset musik yang di mata Eropa merupakan barang kuno, masih bertahan sebagai media yang sangat disukai banyak orang. Tahun-tahun berlalu cukup lama sebelum orang-orang di barat tiba-tiba menemukan bintang-bintang lokal di bursa kaset oksidental. Dalam kasus Omar Souleyman, penemuan itu baru terjadi setelah enam belas tahun berlalu.

Di tanah airnya pria Suriah ini adalah seorang superstar. Sejak awal tahun sembilan puluhan ia telah merilis 600 kaset, jumlah yang menakjubkan dan secara harfiah benar-benar di jual di setiap pojok jalan. Label AS Sublime Frequencies yang menspesialisasikan diri pada musik rakyat yang tidak begitu dikenal dan pop musik dari seluruh dunia, telah menyusun sebuah koleksi terdiri dari karya-karya terbaik Souleyman.

Perusahaan rekaman dari Seattle itu mempromosikan musik Souleyman sebagai nada yang bunyinya bagaikan “kode morse yang terlarang”. Tampaknya iklan ini tidak seratus persen salah.

Keyboard-keyboard tempo dulu menggaung di telinga seperti bunyi sirene mobil polisi di sebuah film laga masa lalu, atau seperti shawm, sebuah instrumen tiup abad Renaisans yang bunyinya melepas liar. Semuanya itu diiringi sebuah gitar elektrik yang bisa dikatakan sebagai sebuah versi Arab dari instrumen raja Surf Rock, Dick Dales. Petikan gitar listrik itu kemudian dikumandangkan melalui sejumlah peralatan sound effect.

Energi elektronik yang anarkis

Suara perkusi bertempramen tinggi yang sebagian berasal dari komputer dan sebagian lagi dari suara gendang, memicu dinamik irama dengan cepat. Kemudian ada sisipan suara yang bergerak antara alunan nasal yang berliku dan picuan seruan. Lalu irama tiba-tiba berhenti, kemudian perlahan-lahan terdengar irama yang menyerupai ritme tari perut, diiringi dengan solo kecapi yang sangat berani.

Semuanya ini disajikan dalam sebuah kualitas bunyi yang tidak akan mau diterima oleh seorang sound mixer yang menghuni bumi di wilayah utara dari Istanbul.

Apa yang terselubung di belakang musik ini? Dan siapa gerangan pribadi di balik Omar Souleyman yang di cover albumnya mengenakan kufiya, kacamata hitam besar dan berkumis lebat itu?

Souleyman berasal dari daerah pedesaan di timur laut Suriah, tempat persilangan berbagai tradisi Islam yang beragam. "Saya tidak dilahirkan di sebuah keluarga pemusik, tetapi di daerah asal saya, orang dapat dikatakan tidak dapat melarikan diri dari musik", ujarnya. "Seorang teman menyarankan saya untuk menyanyi di pesta-pesta setempat. Tidak lama kemudian, tahun 1995 saya berkenalan dengan seorang pemain keyboard Kurdi-Suriah, Rizan Said. Sejak itu saya tampil bersamanya secara profesional di berbagai pesta pernikahan di seluruh wilayah timur laut Suriah."

Dalam lagu-lagunya Souleyman memasukkan unsur-unsur dari berbagai sumber yang berbeda, di antaranya ritme Kurdi shekhani, choubi dari Irak atau mawal yang dibawakannya pada sesi awal untuk memperlihatkan kemahirannya berimprovisasi. Tetapi ciri khasnya utamanya adalah Dabka.

Pengaruh berbagai budaya

"Dabka adalah tarian rakyat modern yang dapai kita temukan di wilayah Levant, baik di Suriah, maupun di Libanon, Palestina, Yordania, Irak dan sejumlah kawasan Turki", demikian diterangkan Souleyman. "Sound saya menggambarkan Dabke kawasan Jazirah, di mana pengaruh-pengaruh yang berbeda dari penduduk Muslim, Kristen, Kurdi dan Armenia bertemu dan membaur. Kedekatan dengan Irak juga menoreh jejaknya di jenis musik kami."

renderMacro(): Typ '' noch nicht implementiert!
Bentuk awal Dabke adalah tarian berjejer, di mana para penari saling berpegangan tangan serta bahu sambil menghentakkan kakinya ke lantai. Sedangkan Dabka versi Omar Souleyman dipompa dengan energi elektronik anarki. "Pada tahun sembilan puluhan, kami benar-benar telah merintis sesuatu yang baru", lanjutnya dengan bangga. "Mula-mula kami mengelektrifikasikan alat-alat musik tradisional, misalnya suling mijwiz serta biola reba, kemudian mentransfernya ke keyboard. Untuk itu dibuat sebuah program khusus."

Bouzouki dan suling berleher panjang saz juga didukung dengan amplifier. Spesialis untuk itu adalah Ali Shaker yang menciptakan effek Surf yang telah disinggung sebelumnya. Tetapi Souleyman menegaskan, ia dan pemusik-pemusiknya belum pernah mendengar tentang Dick Dale.

Sajak spontan mengenai cinta

Puisi "Ataba" yang juga berjenis tradisional, membaur dengan musik dalam keharmonisan dan merasuki hati pendengarnya. Souleyman di sini menggunakan seni puisi mitra lamanya Mahmoud Harbi. Puisi ini acapkali baru mengalir tercipta saat pertunjukan berlangsung. Sambil tak henti-hentinya menghisap rokok, Harbi berdiri di samping sang penyanyi di atas panggung dan membisikkan kata-kata secara spontan ke telinganya.

"Semua bait diimprovisasi. Sang penyair harus menemukan jalan yang cerdik untuk merajut nama-nama keluarga yang membayar kami untuk tampil dalam perayaan pernikahan, ke dalam puisi“, ujar Souleyman. Tema-temanya sudah tentu menyangkut cinta, terutama tentang patah hati dan problem lainya yang ada dalam kehidupan kita.“

Banyaknya rekaman Souleyaman juga dapat dijelaskan melalui jumlah penampilannya di pesta-pesta perkawinan. Penyanyi yang cerdik ini merekam semua penampilannya dalam pesta-pesta, lalu merilisnya.

Dabka Elektronya telah berhasil membawa penyanyi Suriah ini tampil di televisi nasional. Sebelum dia, kesempatan yang terhormat ini belum pernah dinikmati oleh seorang pemusik jenis ini, ucap Souleyman. Namun, berkat label Amerika Sublime Frequencies ia sekarang sudah dapat mencapai forum yang jauh lebih besar: „Ini telah membuat kami terkenal di seluruh dunia! Bagi kami itu merupakan kejutan besar dan kami sangat senang bahwa kini musik kami didengar di mana-mana.“

Stefan Franzen

Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2010

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de