22.01.2011Festival Film Internasional DubaiPusaran Ide dan Kreatifitas
Festifal Film ketujuh di Emirat Dubai baru-baru ini dengan moto “Bridging Cultures. Meeting Minds“, atau menjembatani kebudayaan dan mempertemukan pandangan, memperjelas betapa pentingnya wadah kebudayaan seperti itu bagi kawasan tersebut. Hanna Labonté melaporkan dari Dubai. Oleh Hanna Labonté
Festival Film Internasional di Dubai yang digelar pertama kali 2004, kini mulai mematangkan diri menjadi wadah yang mempertemukan seniman dan sutradara dari kawasan Arab , Afrika dan bahkan Asia. Dubai dengan perlahan kembali bangun dari kekakuan akibat syok yang disebabkan krisis ekonomi internasional. Itu diyakini bersama baik oleh ekspatriat maupun warga Dubai sendiri. Apakah Dubai dapat kembali mencapai kecantikannya yang ibaratnya hanya ada di film-film science fiction, tidak ada yang tahu, tetapi tanda-tanda perbaikan tidak dapat diacuhkan.
Festival film internasional ke tujuh di Dubai yang menjadi puncak kalender kebudayaan, juga mengundang banyak peminat. Di samping kehadiran sejumlah besar pemain film terkenal dan program pemutaran film yang fenomenal, jumlah pengunjung yang membludak sangat meyakinkan dan menunjukkan semakin tingginya minat pada film-film yang tidak mengutamakan keuntungan.
Festival itu, yang hingga 26 Desember memainkan lebih dari 150 film dari 75 negara, terutama dihadiri orang-orang asing yang tinggal di Dubai, sesuai dengan struktur penduduk Dubai. Tetapi gambaran pengunjung ruang-ruang bioskop berubah sepenuhnya, jika orang melihat terutama film-film pendek dari Emirat.
Bidang Film Yang Hidup
Apakah tamu-tamu internasional tidak tertarik atau lebih banyak penonton dari emirat yang tertarik pada film-film sendiri, tidak menjadi masalah. Yang jelas ruang-ruang bioskop dipenuhi warga Emirat yang gembira, yang mengelukan bidang perfilman Uni Emirat Arab yang hidup.

Menyajikan kenyataan apa adanya: Sutradara dan sekaligus produser, Nayla al Khaja – filmnya Melal, tentang dilema perempuan di istana, menadapat sambutan hangat penonton. Film-film itu dibuat dengan elemen-elemen estetis dan teknis, yang direalisasikan lewat gambar dan kemampuan pemain film. Pesan-pesan politik, yang biasanya tampak jelas di film-film Arab, tidak ada atau hanya diisyaratkan dengan sangat lunak. Namun ini bisa saja menjadi dampak sei pada bentuk film pendek, yang di daerah Teluk sering digunakan. Ini juga lebih implisit dan terbuka bagi horison pengalaman sendiri dalam interpretasinya.
Terutama film pendek Melal, dibawah arahan sutradara Nayla al Khaja yang juga menjadi produsennya mendapat sambutan hangat penonton. Perasaan bosan seorang perempuan Emirat dalam perjalanan bulan madunya, upayanya yang tanpa harapan untuk mendapat perhatian suaminya dan pandangannya yang penuh kekhawatiran atas kemungkinan untuk mendapat hidup yang lain, mampu menyentuh hati penonton-penonton muda.
Kehadiran Politik
Masalah bagaimana tanggapan orang tentang perkawinan yang direncanakan keluarga, menyangkut dan menggugah para penonton bioskop. Dalam film pertanyaan itu hanya diajukan saja, tanpa dijawab.
Kehadiran politik yang terus dirasakan mewarnai presentasi film-film Arab. Sutradara Palestina Abdallah Al Ghoul, yang mengetengahkan pembangunan terowongan oleh warga Palestina ke Mesir dalam film dukumenter berdurasi 30 menit yang berjudul “Tiket dari Azrael“, tidak dapat hadir dalam festival, karena sedang mendekam dalam penjara di Mesir. Ia dituduh memasuki wilayah Mesir lewat terowongan seperti yang ia temakan dalam filmnya.

„Campuran antara keputusasaan dan kemanusiaan“: sebuah adegan dari film Ticket from Azrael, oleh sutradara Abdullah al Ghoul. Film yang hanya dibuat dalam waktu satu hari itu menunjukkan sekelompok pria yang menggali terowongan dari Jalur Gaza ke Mesir. Al Ghoul menunjukkan keputsasaan, yang menyebabkan mereka bersedia menempuh jalan berbahaya tersebut. Mereka membuat terowongan di pasir yang sangat lunak.
Tetapi film itu juga menunjukkan humor-humor kecil yang menyebabkan mereka lupa bahaya yang menghadang. “Ini adalah pasir Hosni Mubarak!“, demikian diserukan seorang di antara mereka, ketika ia untuk pertamakalinya menyerok pasir ke dalam ember, waktu tiba di wilayah Mesir. Percampuran antara keputusasaan dan kemanusiaan menjadikan inti film ini.
Elemen politik juga tampak jelas dalam diskusi-diskusi setelah film diputar. Terutama pertanyaan tentang eksistensi “kita“, yang juga dikedepankan dalam film. Penonton dan pembuat film mendiskusikan pertanyaan tentang representasi dirinya sendiri yang “benar“, baik sebagai orang Arab, orang muslim atau orang Palestina.
Identitas Jadi Tema Diskusi
Dari situ tampak keraguan mereka, juga keinginan untuk menampilkan gambaran diri yang postitif dan perbedaan gambaran yang besar. Itu masalah persamaan, persamaan identitas, tetapi juga ciri yang membedakan dan pandangan dari luar, yang kerap dikemukakan.
Setelah pemutaran film berjudul “Ayah Saya Berasal dari Haifa“ yang disutradarai Omar Shargawis, seorang penonton menyatakan kemarahan tentang pendapat kritis, yang diutarakan ayah Shargawi tentang Palestina. Dengan demikian terpiculah debat soal hakekat “kita“. “Pendapat kami sangat berbeda“. Siapa “kita“, dan siapa yang termasuk atau dikecualikan dari “kita“ didiskusikan dengan hangat.
Shargawi membawa elemen “kita“ yang menyatukan dalam jawabannya, “Tentu saja “kita“ tidak pernah sepaham“. Tetapi perbedaan pendapat itulah yang menyebabkan “kita“ dapat dikenal dalam dialog dan diciptakan.
Dan inilah yang kemungkinan menjadi keunggulan utama festival film itu. Ini menjadi wadah bagi diskusi dan pegangan, dan membenarkan motonya.
Ada kesempatan untuk merayakan bidang film di kawasan Arab yang sangat menjanjikan. Juga untuk mendorong dan dengan demikian juga menawarkan dasar untuk memikirkan masalah dan keraguan sendiri serta pencarian jati diri dalam dialog kreatif dengan pendapat-pendapat lainnya, lewat kesenian.
Hanna Labonté
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
© Qantara.de 2011
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Resensi Film "Waffenstillstand"
Penyelamat yang Tidak Berdaya
"Waffenstillstand", film Jerman pertama yang bercerita tentang Perang Irak, memaparkan dilema pekerja organisasi dan jurnalis antara ketidakberdayaan dan keterlibatan, keberanian yang luar biasa dan kenyataan politik yang pagit. Suatu perjalanan menuju neraka, berdasarkan pada kisah nyata. Resensi film oleh Petra Tabeling.
Film Bertemakan Islam di Indonesia
Ketika Cinta Bertasbih
Film Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-ayat Cinta sempat mendominasi bioskop di Indonesia selama beberapa pekan. Keberhasilan film-film bertemakan Islam itu menginspirasi dunia sinema dan mengubah wajah perfilman Indonesia. Oleh Ekky Imanjaya
Beruang Emas untuk Film "Bal" di Berlinale
Beruang untuk "Madu"
Sebuah film Turki yang berjudul Bal (Madu) dan menampilkan anak berusia 7 tahun sebagai tokoh utama, memenangkan hadiah tertinggi Beruang Emas sebagai film terbaik dalam Berlinale 2010. Oleh Ging Ginanjar
Resensi Film "Waffenstillstand"
Penyelamat yang Tidak Berdaya
"Waffenstillstand", film Jerman pertama yang bercerita tentang Perang Irak, memaparkan dilema pekerja organisasi dan jurnalis antara ketidakberdayaan dan keterlibatan, keberanian yang luar biasa dan kenyataan politik yang pagit. Suatu perjalanan menuju neraka, berdasarkan pada kisah nyata. Resensi film oleh Petra Tabeling.
Film Bertemakan Islam di Indonesia
Ketika Cinta Bertasbih
Film Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-ayat Cinta sempat mendominasi bioskop di Indonesia selama beberapa pekan. Keberhasilan film-film bertemakan Islam itu menginspirasi dunia sinema dan mengubah wajah perfilman Indonesia. Oleh Ekky Imanjaya
Beruang Emas untuk Film "Bal" di Berlinale
Beruang untuk "Madu"
Sebuah film Turki yang berjudul Bal (Madu) dan menampilkan anak berusia 7 tahun sebagai tokoh utama, memenangkan hadiah tertinggi Beruang Emas sebagai film terbaik dalam Berlinale 2010. Oleh Ging Ginanjar