19.02.2010Studi Gambaran Islam di AmerikaPrasangka Versus Kebersamaan

Sebuah hasil penelitian mengenai gambaran Islam di mata rakyat AS membuktikan bahwa kebersamaan bukan fatamorgana. Dalia Mogahed, Penasehat urusan Agama di Gedung Putih memaparkan, pandangan rakyat AS terhadap kaum muslim telah jauh membaik

Presiden AS Barack Obama bersama seorang gadis muslim pada perayaan Ramadhan di Geudng Putih, Washington (Foto: AP)
Politik transformasi sosial dan toleransi: September lalu Presiden PObama mengundang tokoh muslim dari ranah politik dan ekonomi ke Gedung Putih untuk merayakan hari raya Idul Fitri
Rakyat Amerika dan keterbukaan mereka kepada komunitas Muslim akan banyak menentukan keberhasilan prakarsa global Presiden Barack Obama, yang ia lontarkan pada hari pelantikannya setahun silam saat menyerukan sebuah “jalan baru untuk maju” bersama masyarakat Muslim. Perubahan akan banyak tergantung pada bagaimana orang Amerika berpikir, dan karenanya penting untuk memahami persepsi orang Amerika terhadap Muslim dan Islam.

Seberapa banyak orang Amerika tahu tentang Islam dan kaum Muslim? Apa karakteristik yang mencirikan Muslim dalam pikiran orang Amerika? Dan, mungkin yang paling penting, faktor apa yang mendorong prasangka atau toleransi?

Penelitian terbaru yang dipublikasikan minggu lalu oleh Gallup Center for Muslim Studies menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan bahkan banyak pertanyaan lainnya. Berikut ini adalah apa yang disimpulkan dari jajak pendapat kepada seribu orang Amerika tentang persepsi mereka terhadap beberapa komunitas pemeluk agama, dengan perhatian khusus pada persepsi mereka terhadap Muslim dan Islam.

Orang Amerika cenderung mengakui lebih menyimpan prasangka terhadap Muslim daripada terhadap penganut agama lain yang diteliti Gallup. Empat puluh tiga persen orang Amerika mengakui punya setidaknya sedikit prasangka terhadap Muslim. Ini lebih dari dua kali lipat jumlah orang yang punya prasangka terhadap orang Yahudi, Budha, atau Kristen.

Terinspirasi dari prasangka anti-Yahudi?

Survei juga menemukan bahwa punya prasangka terhadap orang Yahudi
membuat seseorang lebih cenderung punya prasangka terhadap Muslim, ketimbang semua faktor lain yang diteliti. Dari semua variabel yang kami teliti, dari usia, pendidikan hingga persepsi, faktor yang paling kuat berhubungan dengan prasangka anti-Muslim bukanlah tingkat pendidikan, kenal tidaknya seseorang pada seorang Muslim, atau bahkan pandangan seseorang tentang Islam—melainkan prasangka anti-Yahudi.

Muslim di Amerika Serikat (Foto: AP)
Menurut studi teranyar Gallup, sedikitnya 43 persen warga AS masih memiliki prasangka negatif terhadap Islam dan kaum muslim. Meski demikian tren menunjukkan perbaikan
Hasil ini menunjukkan bahwa sentimen anti-Semitisme dan anti-Muslim adalah fenomena yang berkaitan, dan bahwa organisasi-organisasi yang memerangi penyakit-penyakit sosial ini harus bekerja sama lebih erat karena mereka sebenarnya mempunyai tujuan yang sama.

Seringnya kehadiran dalam peribadatan membuat orang Amerika lebih tidak cenderung punya prasangka ekstrem terhadap Muslim. Misalnya, semakin sering seseorang ke gereja membuatnya cenderung kurang punya prasangka terhadap Muslim.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa ada atau tidaknya prasangka lebih berhubungan kuat dengan pendapat seseorang tentang Islam daripada dengan apakah seseorang secara pribadi mengenal seorang Muslim atau tidak. Jika seseorang tidak mengenal seorang Muslim secara pribadi, itu akan membuatnya lebih cenderung punya prasangka ekstrem terhadap kaum Muslim. Tapi, yang mungkin mengejutkan, mengenal seorang Muslim juga tidak meningkatkan kecenderungan seseorang untuk tidak punya prasangka.

Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa mengenal seorang Muslim boleh jadi membantu melembutkan prasangka ekstrem, tapi tidak cukup untuk menghilangkannya.

Trend positif meski gambaran negatif

Survei juga menunjukkan bahwa persepsi orang Amerika tentang apa yang Muslim pikirkan kadang jauh berbeda dari apa yang sebenarnya Muslim pikirkan. Kira-kira delapan dari sepuluh orang Amerika (81 persen) menganggap bahwa kebanyakan Muslim tidak menghargai kesetaraan jender. Tapi, menurut penelitian Gallup di masyarakat mayoritas Muslim di seluruh dunia, mayoritas Muslim, termasuk 85 persen orang Arab Saudi, dan 89 persen orang Iran, benar-benar berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan harus mempunyai hak hukum yang setara.

Meski ada hasil yang terlihat negatif, jajak pendapat tersebut mengindikasikan bahwa pandangan orang Amerika tentang Muslim dan Islam telah secara umum membaik dalam dua tahun terakhir.

Dalia Mogahed (Foto: University of Wisconsin)
Dalia Mogahed adalah mantan Direktur Eksekutif Gallup Center for Muslim Studies. Saat ini ia juga menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden AS untuk Kemitraan Agama
Selain itu, kira-kira tujuh dari sepuluh orang Amerika juga mengatakan bahwa interaksi yang lebih antara Barat dan komunitas Muslim akan membawa keuntungan ketimbang ancaman. Mayoritas orang Mesir, Saudi dan Indonesia juga punya pandangan yang sama. Bahkan, penerimaan Muslim terhadap Amerika Serikat dan kepemimpinannya mengalami kenaikan.

Akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi tidaklah permanen, dan ini adalah sebuah hal yang menjanjikan. Tapi publik tetap perlu diberi informasi yang tepat tentang keyakinan-keyakinan Muslim. Misalnya, orang Amerika yang percaya bahwa kebanyakan Muslim mendukung kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dua kali lipat lebih cenderung tidak punya prasangka terhadap mereka.

Ini mengindikasikan bahwa kita memerlukan kesadaran yang lebih tentang fakta bahwa kebanyakan Muslim di seluruh dunia mendukung kesetaraan jender. Kita juga tahu dari hasil penelitian ini bahwa prasangka tidaklah tertuju pada satu kelompok saja. Ini menjadi peluang bagi kemitraan lintas agama yang lebih besar untuk membantu mengatasi isu ini.

Mayoritas orang Amerika dan Muslim di dunia menginginkan kebersamaan bukannya pengucilan, sebuah proses yang dimulai dari dalam—lewat pemahaman tentang persepsi kita sendiri.

Dalia Mogahed

Dalia Mogahed ialah Direktur Eksekutif Gallup Center for Muslim Studies. Ia bersama John Esposito menulis Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think (Gallup 2008). Ia juga menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden untuk Kemitraan Berdasarkan Agama dan Lingkungan Sekitar. Artikel ini pertama kali dimuat The Jerusalem Post dan ditulis untuk Kantor Berita Common Ground