03.12.2010Pengungsi Afghanistan di TajikistanPersinggahan Menuju Kedamaian

Kendati termasuk salah satu negara paling miskin di dunia, Tajikistan merupakan negara tujuan imigrasi yang menjanjikan bagi banyak warga Afghanistan. Namun sebagian besar enggan menetap dan melanjutkan perjalanan ke Eropa atau AS. Oleh Edda Schlager

Keluarga Ghul Muhammad (Foto: Edda Schlager)
Ikbaly Ghul Muhammad yang berusia 18 tahun bersama ibu tirinya ketika mengambil air di Dushanbe
Kegiatan rutin harian bagi Ikbaly Ghul Muhammad yang berusia 18 tahun adalah mengambil air. Dua kali per hari ia mengangkut air dari "aryk", saluran air yang terbuka di pekarangan, sebanyak dua ember ke tingkat tiga sebuah bangunan bobrok yang didirikan di masa Uni Sovyet. Air yang mengalir tidak ada di apartemen buruk berkamar dua, di mana Ikbaly, orang tua dan empat saudaranya tinggal.

Jika Ikbaly sedang mengangkat ember lewat tangga yang kotor di bangunan itu, ia selalu teringat akan rumahnya yang dulu di kota Masar-i-Sharif. "Di Afghanistan kami punya sumur sendiri. Di sini kami harus minum air yang kotor ini, walaupun kami kadang-kadang sakit perut."

Keluarga Ikbaly datang Februari 2010 dari Masar-i-Sharif ke Wakhdat, sebuah daerah di luar ibukota Tajikistan Dushanbe. Di Afghanistan sekelompok penjahat membunuh istri pertama ayah Ikbaly dan anak perempuan bungsunya. Memang pelakunya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, tetapi keluarga orang itu memberi sogokan dan ia bebas.

Tiga tahun lamanya, ayah Ikbaly, Muhammad Orif Ghul Muhammad, yang berusia 45 tahun berjuang agar pembunuh itu kembali dijatuhi hukuman, sampai ia sendiri diancam akan dibunuh. Dengan istri kedua dan lima anaknya akhirnya ia melarikan diri ke negara tetangga Tajikistan.

Persyaratan Masuk Yang Restriktif

Walaupun Tajikistan adalah salah satu negara paling miskin di dunia, bagi banyak warga Afghanistan, Tajikistan adalah negara tujuan imigrasi yang menjanjikan. Lebih aman daripada Pakistan yang dilanda perang saudara dan tidak terlalu restriktif seperti Iran. Selain itu, bahasa Farsi yang dipakai di Afghanistan juga digunakan di Tajikistan.

Pintu perbatasan Nizhny Pjansch (Foto: Edda Schlager)
Lewat perbatasan Nizhny Pjansch, antara Afghanistan dan Tadjikistan, sebagian besar dari 4.500 pengungsi Afghanistan masuk ke Tajikistan.
Oleh sebab itu, sejak dua tahun lalu pengungsi Afghanistan semakin sering datang ke Tajikistan, terutama dari bagian utara Afghanistan, di mana Taliban semakin berpengaruh. Sekitar 4.500 pengungsi Afghanistan terdaftar di Tajikistan dalam kuartal pertama tahun ini. Tetapi aparat berwenang Tajikistan membatasi masuknya pengungsi dari negara tetangga melalui kuota tertentu, setiap tahunnya hanya 1.700 orang yang diijinkan masuk.

Abdul Rakhmon Fotekhon datang dari provinsi Baghlan dengan istri dan lima anaknya. Dalam pemilu presiden Agustus 2009 lalu, ia bekerja sebagai petugas pemilu bagi PBB. Ia kemudian diculik pemberontak, tetapi berhasil melarikan diri setelah dua bulan ditahan. Bagi Abdul Rakhmon sudah jelas, ia harus pergi dari Afghanistan.

Pelanggaran Hukum Internasional

Di Tajikistan organisasi PBB yang mengurus pengungsi, UNHCR, membantu keluarga-keluarga pengungsi. Selama tiga bulan, setiap bulannya mereka memperoleh uang sekitar 70 Euro per orang. Setelah tiga bulan hanya 30 Euro. Karena uang itu tidak cukup untuk hidup, banyak pengungsi Afghanistan bekerja ilegal, demikian Ilya Todorovic, wakil UNHCR di Tajikistan. "Para pencari suaka tidak boleh bekerja, selama mereka menunggu pendaftaran, tetapi mereka tetap melakukannya."

Wakil UNHCR itu mengkritik langkah pemerintah Tajikistan terhadap pengungsi Afghanistan, yang dinilai tidak mempermudah pengungsi untuk berintegrasi. Para pengungsi harus bermukim di kota-kota yang ditentukan, seperti Wakhdat. "Jika menolak, mereka akan kehilangan status sebagai pengungsi," demikian Todorovic. "Itu jelas pelanggaran hukum internasional."

Tetapi daerah pemukiman yang ditentukan bagi pengungsi Afghanistan, jika dibandingkan dengan ibukota Dushanbe, hampir tidak memiliki infrastruktur. Di musim dingin listrik di daerah-daerah itu dimatikan. Air hanya ada di jalanan, air hangat tidak ada sama sekali.

Situasi yang dihadapi di Tajikistan sangat mempersulit para pengungsi Afghanistan. Karena negara itu, seperti halnya Afghanistan, dikuasai korupsi dan tidak ada pekerjaan, Ghul Muhammad tidak melihat adanya masa depan di negara itu bagi keluarganya. "Karena situasi itu di Tajikistan bisa berkembang masalah sosial yang serius," begitu perkiraan Ghul Muhammad.

Jadi ia ingin secepat mungkin pergi dari Tajikistan. Ia paling ingin pergi ke Eropa, karena anak-anaknya akan punya kesempatan lebih baik untuk mendapat pendidikan. Keluarga Fotekhon juga tidak ingin tinggal di Tajikistan. "Saya tahu, bahwa di Jerman, Italia atau Kanada kami akan kesulitan. Tetapi itu negara-negara maju, di mana kami bisa hidup lebih baik. Kami ingin, agar anak-anak kami hidup lebih layak. Pasti di sana lebih mudah untuk mendapat pekerjaan."

Pengungsi Yang Putus Asa

Warga Tajikistan tidak menyukai para pengungsi Afghanistan karena mereka hanya menganggap Tajikistan tempat transit. Bahkan pekerja organisasi non pemerintah RCVC (Refugee Children Vulnerable Citizens), yang mengurus peminta suaka dengan penugasan UNHCR, mencurigai pengungsi.

Pekerja RCVC Parwiz Shokhumorov mengunjungi keluarga pengungsi secara teratur. Sekitar 30 keluarga dikunjunginya perbulan. Ia mengajukan pertanyaan kepada tetangga dan memeriksa, apakah jumlah anak di keluarga itu benar seperti yang didaftarkan, apakah para suami janda-janda tidak muncul kembali, juga apakah bantuan benar-benar diperlukan. Karena ia dan rekan-rekannya sering dibohongi, supaya keluarga pengungsi mendapat lebih banyak bantuan daripada hak mereka.

Keluarga Ghul Muhammad (Foto: Edda Schlager)
Abdul Rakhmon Fotekhon dengan istri dan lima anaknya. Di Afghanistan ia bekerja sebagai petugas pemilu bagi PBB, oleh sebab itu ia diancam akan dibunuh. Mereka juga mengungsi ke Tajikistan. Mereka tidak mau tinggal di Tajikistan, mereka melihat negara itu hanya sebagai negara transit dan akan melanjutkan perjalanan ke Eropa atau Amerika Serikat.
"Para pengungsi mengira, dengan bantuan UNHCR mereka dapat meninggalkan Afghanistan secara gratis," demikian Shokhumorov. "Mereka menganggap bantuan sudah sewajarnya mereka peroleh dan mereka berpikir, mereka tidak harus bekerja, organisasi itu pasti akan membantu mereka. Tetapi berusaha melakukan sesuatu, untuk mengubah situasi, tidak mereka kenal."

Tuduhan itu sangat berat. Jika Shokhumorov menemukan, bahwa seorang pengungsi mendapat dukungan dari keluarga atau mencari nafkah, tetapi tetap meminta bantuan, itu akan dihentikan. Ilya Todorovic dari UNHCR punya pengertian bagi pengungsi Afghanistan. Mereka hanya mendapat 20 atau 30 Euro. Sebagian besar dari mereka benar-benar membutuhkan bantuan.

"Mereka adalah orang-orang yang putus asa, mereka telah mengalami berbagai hal mengerikan, mereka mengalami penyiksaan, anak-anak mereka diculik," demikian Todorovic membela para pengungsi Afghanistan. "Mereka datang dengan uang sangat sedikit, dengan harapan dapat memulai hidup baru. Warga Tajikistan memang punya masalah juga, ya. Tetapi bagi para pengungsi situasi lebih sulit lagi. Dan orang-orang yang putus asa dapat menemukan jalan yang ekstrem untuk bisa selamat."


Edda Schlager

Alih bahasa oleh Marjory Linardy

© Qantara.de 2010

Editor: Rizki Nugraha/Qantara