21.09.2010Pergantian Kekuasaan di MesirPerpecahan Elit Penguasa

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, elit ekonomi ikut memainkan peran dalam pergantian kekuasaan. Sejak beberapa tahun terakhir jajaran pengusaha yang dekat dengan Gamal Mubarrak memperoleh ruang bebas untuk memperluas pengaruh politiknya. Oleh Stephan Roll

Poster kampanye Gamal Mubarak di Mesir (Foto: AP)
Keseimbangan rumit: Gamal Mubarak mendapat dukungan dari garda baru partai NDP yang kebanyakan berasal dari sector ekonomi. Namun kepentingan politik mereka kerap besebrangan dengan tokoh lama NDP.
Kemungkinan Gamal Mubarak menjadi kandidat dari Partai Demokratik Nasional Mesir (NDP) dalam pemilihan presiden 2011 menjadi salah satu pertanyaan yang paling dibicarakan di Mesir saat ini. Kampanye sudah mulai digelar di Mesir dan luar negeri guna meraup dukungan terhadap pencalonannya -sebuah upaya menangkis kampanye serupa yang mendukung mantan pemimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Mohammad El Baradei, dan mungkin untuk menekan kekuatan elit penguasa- namun mereka hanya suatu pertunjukan sampingan.

Hal yang lebih krusial lagi adalah kondisi kesehatan Presiden Hosni Mubarak, derajat kesatuan di dalam lingkungan elit mengenai pencalonan Gamal dan kebijakan negara di masa depan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kontemporer Mesir, elit bisnis memainkan peranan seputar pergantian kekuasaan, namun masih belum diketahui apakah peranannya itu menentukan.

Baru-baru ini, jajaran baru pengusaha yang dekat dengan Gamal tampaknya sudah mencapai puncaknya. Barisan baru pengusaha ini berkembang pesat di dalam tubuh NDP dari tahun 2000 dan telah mendominasi kabinet sejak 2004 di bawah pimpinan Perdana Menteri Ahmed Nazif. Perkembangan itu meningkat dalam dua tahun belakangan -bersamaan dengan resesi global dan meningkatnya protes terhadap agenda ekonomi neoliberal yang dicanangkan garda baru. Bersamaan dengan itu pula terdapat pergeseran dalam tubuh NDP.

Kebangkitan Garda Baru yang Terhambat

Selama Presiden Mubarak memimpin partai sejak 1981, partai menunjukkan keseimbangan dalam jajaran fungsionaris. Fungsionaris partai dari garda lama misalnya diwakili Sekretaris Jenderal Safwat al-Sharif, Kepala Staf Kepresidenan Zakaria Azmi, dan Menteri Urusan Parlementer Mufid Shehab. Sedangkan garda baru diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal Gamal Mubarak, Menteri Urusan Keorganisasian Ahmed Ezz, dan Menteri Informasi Ali Hilal al-Dessouki.

Figur garda lama mendominasi kongres NDP pada tahun 2009, lebih dari pertemuan-pertemuan dalam beberapa tahun ini. Sementara itu Safwat al-Sharif dilaporkan memegang peranan utama dalam pencalonan beberapa kandidat NDP untuk pemilihan Dewan Syura bulan Juni 2010.Menyangkut kebijakan, pemimpin NDP dari garda lama secara terbuka menjadi kritis terhadap rencana reformasi yang dikumandangkan pemerintahan Nazif, memicu perlambatan kebijakan privatisasi pemerintah.

Husni Mubarak (Foto: dpa)
Di jalur menuju “Republik Kedinastian”?: Pada akhrinya kondisi kesehatan Presiden Husni Mubarak yang akan menentukan apakah putranya Gamal akan menggantikannya, menurut Stephan Roll.
Motivasi garda lama dalam permainan kekuasaan ini tembus pandang. Garda baru mendukung kebijakan ekonomi yang menguntungkan elit bisnis dan membatasi peranan negara dalam perekonomian. Ini tentu saja melukai kepentingan garda lama, yang sumber kekuatan terpentingnya adalah negara, termasuk sektor publik yang digembungkan dan birokrasi.

Tokoh-tokoh terkemuka garda lama menentang peningkatan pengaruh “pengusaha politis“ yang sangat mendukung karir politik Gamal Mubarak. Contoh pengusaha yang dekat dengan NDP dan berhasil meraup lebih banyak kekayaan berkat reformasi keuangan antara lain konglomerat baja Ahmed Ezz, pengusaha keramik Muhammad Abul Einein, dan dua pengusaha besar Mohammed Mansour serta Ahmed El Maghrabi.

Zakaria Azmi memimpin perlawanan terhadap pendatang baru semacam itu melalui beragam fungsinya. Mulai dari kepala staf kepresidenan, wakil sekretaris jenderal dan anggota parlemen. Azmi terlibat adu mulut dengan pengusaha NDP pada saat sidang parlemen. Bisa jadi pula berkat sarannya, Presiden Mubarak sejauh ini tetap mempertahankan sejumlah pejabat senior pemerintahannya.

Di antaranya adalah Kepala Badan Audit Pusat Gawdat al Malt, yang pernah mengritik agenda reformasi garda baru, dan Gubernur Bank Sentral Farouk al Okdah, yang tetap independen secara politis dari kelompok Gamal. Namun keberhasilan Azmi adalah melemahnya kelompok usaha dari Iskandariyah.

Militer Sebagai Pemegang Keseimbangan Kekuasaan

Anggota kelompok ini antara lain Menteri Transportasi Mohamed Mansor, Menteri Perumahan Ahmed El Maghrabi (keponakan Mansour), dan Menteri Perindustrian Rashid Mohamed Rashid. Seperti yang diberitakan, Azmi memegang peranan yang menentukan dalam pemecatan Mansour dari jabatan menteri transportasi pada tahun 2009, setelah sebuah kecelakaan serius kereta api.

Azmi juga dikabarkan berada di belakang dekrit kepresidenan yang baru-baru ini diumumkan. Dekrit ini membatalkan perjanjian agraria dengan Palm Hills Development, suatu perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Mansour dan keluarga El Maghrabi.

Sejauh ini, kepemimpinan militer berhasil mencegah perebutan kekuasaan antara garda baru dan lama di dalam organisasi kepartaian dan pemerintah. Secara keseluruhan, kenetralan ini tampaknya melayani kepentingan garda lama dan Gamal Mubarak tentu akan memberikan dukungan penuh pada mereka. Ada beberapa alasan kenetralan ini. Pertama, Presiden Mubarak telah bekerja keras menebarkan benih kenetralan politis dan kesetiaan absolut pada presiden di kalangan militer untuk 30 tahun, dan hal itu telah menjadi kebiasaan yang mengakar.

Muhammad el Baradei di tengah massa di Kairo (Foto: AP)
Alterlantif selain Mubarak?: Kampanye Gamal Mubarak telah berjalan bahkan jauh sebelum masa kampanye, antara lain untuk menjauhkan pemilih dari mantan Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Muhammad el Baradei.
Kedua, banyak perwira yang mungkin memiliki kekhawatiran serupa terhadap garda lama menyangkut agenda garda baru, yang secara logis dapat mengarah pada pembatasan kekuasaan militer dan banyak keuntungan ekonomi dan lainnya. Ketiga, banyak koneksi pribadi antara garda lama dan jajaran tinggi militer.

Zakaria Azmi dan Safwat al Sharif, misalnya, memiliki latar belakang militer dan berasal dari generasi yang sama seperti Direktur Badan Intelijen Mesir Omar Suleiman, dan sudah lama bekerja bersamanya. Akhirnya, ada kemungkinan ambisi pribadi di militer yang berhubungan dengan dewan kepresidenan. Nama yang seringkali muncul dalam hal ini adalah Marsekal Udara Ahmed Muhammad Shafiq, mantan panglima angkatan udara Mesir dan saat ini menjabat sebagai menteri transportasi udara.

Dilema Gamal di antara dua Front

Gamal Mubarak,dus, menghadapi dilema. Jika ia memisahkan diri dari pendukungnya saat ini untuk mengambil hati garda lama, misalnya dengan meredam antusiasmenya mengenai kebijakan ekonomi neoliberal, maka ia mempertaruhkan simpati elit bisnis yang berkuasa (dan juga berlawanan dengan instingnya).

Di sisi lain, jika ia mempertahankan pendukungnya saat ini, terdapat peningkatan perlawanan dari garda lama dan kemungkinan juga militer, menentang ambisinya menjadi presiden. Garda lama dan militer dapat mendesakkan penerus transisi dari Presiden Mubarak -misalnya Omar Suleiman yang sangat berkuasa, yang tampaknya menikmati kepopuleran karena dianggap tidak korup- namun masih belum pasti apakah orang ini akan mengisi posisi Gamal di masa depan.

Pemilihan parlemen yang dijadwalkan digelar akhir November tahun ini akan menjadi indikasi kecenderungan dalam NDP dan sekali lagi dapat mengubah konfigurasi kekuasaan. Jika para kandidat yang didukung garda baru akan memenangkan kursi dengan mayoritas bersih NDP, maka ini dapat membantu Gamal menepikan garda lama dan meningkatkan peluangnya menjadi kandidat partai yang memerintah.

Namun, sejumlah laporan mengenai pendaftaran kandidat baru-baru ini menunjukkan bahwa banyak anggota garda lama ingin mencalonkan diri di parlemen, dan namanya tidak akan dengan mudah dihapus dari daftar pencalonan. Yang pasti, Hosni Mubarak yang sudah lama jatuh sakit ini mungkin akan kembali mencalonkan diri pada pemilu 2011, itu pun jika kesehatannya mengizinkan. Ini berarti pertarungan memperebutkan posisi pengganti Mubarak akan berlanjut satu hingga dua tahun lagi.

Stephen Roll

Alih bahasa oleh Luky Setyarini

Stephan Roll bekerja sebagai peneliti untuk Institut Urusan Internasional dan Keamanan Jerman (SWP) di Berlin.

© Carnegie Endowment 2010

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de