24.01.2011Wawancara dengan Rebecca Chiao"Perempuan sering dianggap santapan empuk"
Pada tahun-tahun terakhir, pelecehan seksual menjadi masalah yang semakin meluas di Mesir. Sejak Desember 2010, inisiatif multi media "Harassmap" menawarkan kaum perempuan sebuah wadah, di mana mereka dapat menceritakan pengalaman-pengalaman mereka. Nesrine Shibib berbincang dengan Rebecca Chiao, seorang aktivis perempuan dan salah satu pendiri inisiatif teresebut.
Rebecca Chiao: "Kami adalah inisiatif pertama di dunia yang merancang peta pelecehan interaktif digital pertama untuk kaum perempuan Bagaimana sebuah peta digital dapat membantu perempuan yang mengalami pelecahan di jalanan?
Rebecca Chiao: Kami ingin mencapai beberapa keberhasilan. Perempuan yang mengirimkan laporan ke "Harrasmap" menerima petunjuk mengenai tempat-tempat mereka bisa memperoleh bantuan – misalnya bantuan hukum, seminar kemampuan untuk membela diri atau bantuan psikologis.
Bagi banyak orang pelecehan seksual bukan merupakan sebuah permasalahan nyata, bahkan mungkin dianggap sama sekali tidak ada. Peta ini akan menolong agar masalah tersebut kelihatan dan menjadi jelas.
Kami juga akan memberikan peta ini kepada polisi. Mereka merencanakan untuk meningkatkan upaya menangani pelecehan seksual, tetapi masih belum memiliki sistem untuk dapat melokasi tempat kejadian kasus-kasus pelecehan dengan tepat.
Di "Harrasmap" yang disebut "Hot spots" ditandai dengan jelas. Banyak relawan direkrut untuk bertugas di berbagai kawasan. Mereka ditugaskan berbicara dengan warga yang sehari-hari berada di kawasan terkait, misalnya pemilik-pemilik toko.
Tujuannya adalah untuk mendorong warga agar peduli terhadap kasus pelecehan dan jika perlu, bertindak. Kami ingin menyingkirkan pengisolasian para perempuan dalam situasi semacam itu.
Terdapat kesan bahwa bahasa utama proyek ini adalah bahasa Inggris. Dan aktivitas kelihatan mengandalkan Facebook, Twitter dan Email. Bagaimana anda ingin menyentuh perempuan dengan pendidikan rata-rata dan hanya memiliki akses internet yang terbatas?
Chiao: Media pendekatan utama kami adalah SMS. Penggunaan telepon genggam di Mesir sangat meluas. Menurut keterangan resmi, ada sekitar 55 juta pemilik ponsel. Separuh dari jumlah itu adalah perempuan.
Jumlah ini meningkat sekitar 10 persen per tahun. Angka-angka tidak resmi jauh lebih tinggi. Orang-orang yang tidak memiliki ponsel bahkan sering menyewa telpon genggam yang ditawarkan di kios-kios.
Mengapa pelecehan seksual merupakan sebuah isu yang disoroti di Mesir?
Chiao: "Egyptian Centre for Women's Rights" (ECWR) telah mempublikasikan hasil studi yang membeberkan sederetan alasan-alasan. Misalnya, frustasi seksual, keadaan ekonomi dan tingginya umur saat menikah diperkirakan merupakan faktor-faktor penting. Menurut pengalaman saya, alasan-alasan tersebut belum cukup. Pria yang sudah menikah dan bocah umur delapan tahun kadang-kadang juga mengganggu perempuan.

"Bila kamu tidak mau lalat-lalat (atau pria) hinggap di tubuhmu, kamu harus menutupi dirimu, kenakanlah jilbab! Perempuan lah yang dituding bertanggung jawab atas hal ini, sedangkan pria sama sekali tidak." Kaum perempuan sering dianggap santapan empuk. Situasi dua puluh tahun yang silam lain ketimbang sekarang. Inflasi, upah rendah, pencemaran lingkungan, kemacetan lalu lintas dan birokrasi yang berlebihan saat ini membuat kehidupan warga menjadi lebih sulit. Orang-orang yang mengalami tekanan dan ditindas, menderita dan cenderung menyalurkan tekanan ini kepada orang lain yang secara sosial lebih lemah, misalnya kaum perempuan.
Mungkin ini kedengarannya kontradiksi, tetapi baik media liberal maupun arus-arus ekstrem religius menggambarkan perempuan secara primer sebagai obyek seksual atau sumber godaan. Sementara pria digambarkan sebagai korban yang tak berdaya. ECWR mencoba untuk memerangi pandangan tersebut.
Salah satu reaksi atas upaya itu adalah sebuah poster dengan lollipop. Pesannya adalah: Bila kamu tidak mau lalat-lalat (atau pria) hinggap di tubuhmu, kamu harus menutupi dirimu, kenakanlah jilbab! Perempuan lah yang dituding bertanggung jawab sepenuhnya atas hal ini, sedangkan pria sama sekali tidak.
Bagaimana pendapat anda mengenai rancangan undang-undang yang tidak lama lagi akan disahkan parlemen Mesir?
Chiao: Mereka telah mengupayakannya sejak tahun 2008. Saya baru percaya bila sudah melihatnya. Sebuah UU tentu akan menolong. Menetapkan pelecehan seksual sebagai tindak pidana, tentu akan membantu. Tetapi saya juga menyetujui kritik dari ECWR mengenainya. Rancangan UU itu memang menyebut pelecehan sebagai tindak pidana, namun untuk dapat menyeret pelakunya ke pengadilan, perempuan juga harus menangkap pelaku secara fisik dan menggiringnya ke pos polisi.
Sampai sekarang, proses semacam itu hanya sekali dimenangkan oleh perempuan Itu memang sangat baik, tetapi hingga saat ini, itu hanya merupakan kemenangan satu perempuan dari sekitar 40 juta wanita Mesir.
ECWR menyarankan agar polisi ke depan dapat mengeluarkan semacam “denda bagi pelecehan” seperti dalam pelanggaran lalu lintas. Yang bersalah dapat dihukum segera. Tetapi gagasan itu tidak dimasukkan ke dalam rancangan UU.
Apa yang anda harapkan tercapai untuk tahun 2011 ini?
Chiao: Kami berharap untuk dapat melanjutkan pekerjaan ini. Kami juga mengharapkan bahwa pekerjaan kami dapat “mengglobal”. Kegiatan kami ini adalah inisiatif pertama di dunia yang telah menciptakan peta pelecehan interaktif digital. Banyak lembaga swadaya masyarakat memohon bantuan kami dalam pelaksanaan proyek-proyek serupa.
Kami saat ini merancang sebuah paket perangkat lunak dan buku manual yang akan kami berikan kepada berbagai LSM di seluruh dunia. Baru-baru ini ada permintaan dari Libanon, Turki dan Suriah serta Amerika Serikat. Kampanye semacam itu telah dimulai dengan sukses besar di New York.
Wawancara bersama Nesrine Shibib
Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster
© Qantara.de 2011
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Kekerasan Terhadap Perempuan
Hama di Ladang
Perempuan merupakan kelompok yang acap dirugikan di dalam masyarakat Islam. Tindak kekerasan dan pemberangusan hak sayangnya masih mewarnai kehidupan di banyak tempat. Padahal Islam menyerukan sebaliknya. Oleh Naazish Yar Khan
Asra Nomani mengenai "Jihad Jender"
Jihad demi Hak Perempuan
Asra Nomani, penulis perempuan Amerika Serikat yang berusia 44 tahun dianggap sebagai tokoh "Jihad Jender". Bagi bekas reporter Wallstreet Journal itu tidak ada pertentangan antara Islam dan feminisme. Alfred Hackensberger berbincang dengannya.
Wawancara dengan Amel Grami
Menuju Islam Modern
Tunisia di dunia Arab Islam pernah menjadi salah satu negara maju dalam hal hak perempuan. Belakangan ide yang Islamis dan neo konservatif juga dianggap menarik terutama oleh kalangan perempuan muda. Beat Stauffer berkesempatan berbincang dengan pakar ilmu kajian agama asal Tunisia Amel Grami mengenai hal tersebut.
Kekerasan Terhadap Perempuan
Hama di Ladang
Perempuan merupakan kelompok yang acap dirugikan di dalam masyarakat Islam. Tindak kekerasan dan pemberangusan hak sayangnya masih mewarnai kehidupan di banyak tempat. Padahal Islam menyerukan sebaliknya. Oleh Naazish Yar Khan
Asra Nomani mengenai "Jihad Jender"
Jihad demi Hak Perempuan
Asra Nomani, penulis perempuan Amerika Serikat yang berusia 44 tahun dianggap sebagai tokoh "Jihad Jender". Bagi bekas reporter Wallstreet Journal itu tidak ada pertentangan antara Islam dan feminisme. Alfred Hackensberger berbincang dengannya.
Wawancara dengan Amel Grami
Menuju Islam Modern
Tunisia di dunia Arab Islam pernah menjadi salah satu negara maju dalam hal hak perempuan. Belakangan ide yang Islamis dan neo konservatif juga dianggap menarik terutama oleh kalangan perempuan muda. Beat Stauffer berkesempatan berbincang dengan pakar ilmu kajian agama asal Tunisia Amel Grami mengenai hal tersebut.