30.04.2010Resensi Film "Waffenstillstand"Penyelamat yang Tidak Berdaya

"Waffenstillstand", film Jerman pertama yang bercerita tentang Perang Irak, memaparkan dilema pekerja organisasi dan jurnalis antara ketidakberdayaan dan keterlibatan, keberanian yang luar biasa dan kenyataan politik yang pagit. Suatu perjalanan menuju neraka, berdasarkan pada kisah nyata. Resensi film oleh Petra Tabeling.

Plakat Film 'Waffenstillstand' atau gencatan senjata (Foto: Marc Schmidheiny)
Sutradara Lancelot von Naso mendapat anugerah film Bavaria untuk film pertamanya "Waffenstillstand" dan penghargaan publik di Festival Film Zurich 2009
Fallujah bulan April 2004, pascainvasi pasukan Amerika Serikat, kota di Irak tersebut menjadi perwujudan perlawanan kaum Sunni, yang mengakibatkan korban tewas dan terluka.

Beberapa pekan setelah empat orang Amerika Serikat dihukum mati tanpa pengadilan dan mayatnya diarak, militer AS memulai serangannya terhadap kota itu, yang akhirnya mengakibatkan pertempuran sengit. Lebih dari 600 warga sipil tewas dalam serangkaian serangan bom.

Cerita dasar film produksi bersama Jerman-Swiss yang juga debut sutradara muda Lancelot von Naso ini adalah kisah seorang pemimpin organisasi bantuan dan seorang dokter yang berupaya membawa sendiri obat-obatan dan bantuan medis dari Baghdad ke Fallujah.

Dalam film Jerman pertama mengenai Perang Irak tersebut juga diceritakan seorang wartawan televisi yang berambisi mengikuti dokter dan pemimpin organisasi bantuan itu dan berencana membuat laporan mengenainya. Meski, aksi wartawan itu ditentang habis-habisan oleh kamerawan rekannya.

Berdesak-desakan di dalam mobil, tanpa perlindungan berarti, keempat orang tersebut ditambah seorang pengemudi yang warga Irak berpacu dengan waktu, melintasi jalur berbahaya menuju Fallujah. Di dalam perjalanan, mereka tidak hanya mengalami kejadian yang sangat membahayakan nyawa, tapi juga konflik diri mengenai motif kemanusiaan, batas-batas pribadi dan absurditas perang dan penderitaan.

Senasib Sepenanggungan dalam Perang

Mereka adalah ahli bedah asal Perancis Alain, diperankan oleh Matthias Habich, yang hanya dapat menerima situasi di wilayah krisis dengan bantuan morfin, dan pekerja organisasi bantuan, diperanan Thekla Reuten, yang memulai pengiriman obat-obatan tanpa izin dan kamerawan berpengalaman, diperankan oleh Hannes Jaenicke, yang tahu betul bahayanya dan awalnya menolak untuk ikut.

Salah satu adegan di film 'Waffenstillstand' (Foto: Marc Schmidheiny)
Perjalanan menuju neraka pemberontakan di Irak: Kim, ahli logistik sebuah organisasi bantuan internasional dan Oliver, seorang reporter TV memberanikan diri menyelusup ke Fallujah yang tengah membara
Tokoh utamanya adalah jurnalis televisi Oliver, dimainkan oleh Max von Pufendorf. Sang wartawan ini awalnya sangat naif, melihat peluang besar untuk membuat laporan langsung, agar dunia melihat sendiri penderitaan warga sipil dan hampir tewas karenanya.

Empat idealis dan profesional ini menentukan bersama nasib mereka, yang pada awalnya tidak menyukai satu sama lain ("Kalian mendapatkan uang dari darah orang lain"), akhirnya merasa perlu untuk mengatur yang lain.

Film "Waffenstillstand" yang berarti gencatan senjata ini dihiasi oleh aktor dan aktris papan atas Jerman, yang berhasil dibujuk oleh Lancelot von Naso dengan naskah yang mengesankan. Karena, berbeda dengan film produksi internasional lainnya yang biasanya mengutamakan laga, pertempuran militer atau politik, "Waffenstillstand" menampilkan manusia, yang juga menjadi bagian peperangan.

Mereka yang bekerja di luar arena pertempuran dan melayani warga sipil, seringkali luput dari perhatian dunia perfilman. Hasilnya adalah film yang menegangkan, yang membuat para penonton merasa bahwa mereka ikut di bangku belakang iring-iringan transportasi barang bantuan. - "perpaduan drama, thriller, kisah perjalanan dan kammerspiel psikologi", ujar sang sutradara menyebut genre film ini.

Pengambilan gambar dilakukan di Maroko dan bukan di Irak, dengan alasan keamanan. Meski pun demikian, para awak film mampu menampilkan kesan kehancuran seperti layaknya peperangan di Irak.

Berdasarkan pada Kisah Nyata

Film ini merupakan perpaduan yang sejak awal dimaksudkan dan berdasarkan pada kisah nyata. Ide film "Waffenstillstand" tercetus setelah von Naso membaca berita di surat kabar mengenai seorang perempuan yang sendirian membawa barang-barang bantuan ke Fallujah,

Salah satu adegan di film 'Waffenstillstand' (Foto: Marc Schmidheiny)
Dalam perjalanannya kedua tokoh dihentikan oleh serdadu AS di sebuah pos pemeriksaan: Film ini menampilkan dilema misi humaniter dan obyektivitas media di tengah kancah perang
"Saya ingin membuat film dari sudut pandang organisasi bantuan dan reporter perang, yang biasanya hanya menjadi berita kecil atau bahkan negatif – intinya, salah sendiri jika terjadi sesuatu. Tapi apa sebenarnya yang dirasakan orang-orang ini, ketika mereka memutuskan untuk menjalankan misi semacam itu dan mengerjakan tugas mulia ini?"

Untuk itu von Naso mempersiapkannya dengan baik. Von Naso melakukan riset selama lebih dari empat tahun mengenai kondisi kerja para pekerja organisasi bantuan dan wartawan, meminta saran dari mereka, berbicara dengan para koresponden yang "dilekatkan" pada unit militer di Irak. Bahkan sang pengemudi Irak di dalam film itu diperankan oleh Husam Chadat, yang dalam kehidupan nyatanya bekerja sebagai koresponden untuk Al Jazeera.

"Waffenstillstand" adalah film yang tidak ingin menampilkan sisi politis dan juga tidak menyatakan pledoi – bagi sebagian ini dapat menjadi kekurangan, namun sebenarnya ini adalah kekuatan film tersebut. "Waffenstillstand" menunjukkan dengan lebih jelas makna perang bagi rakyat sipil. "Berita-berita teve sebagian besarnnya menampilkan jenazah korban, tapi film cerita dapat menampilkan manusia yang bertahan hidup dalam perang," demikian yang diyakini von Naso.

"Waffenstillstand" juga memaparkan luka fisik dan psikis apa saja yang timbul dapat membantu dalam perang atau keinginan untuk mendokumentasikannya – bagi banyak orang dapat berakibat fatal.

Di Balik Berita Utama

Di dalam film ini, semua stereotipe jurnalis perang digodok secara teliti. Bagi aktor Max von Pufendorf, film ini merupakan tantangan luar biasa.

"Sebelumnya saya selalu berpikir, saya sudah mengetahui dengan baik mengenai semua peristiwa internasional. Ketika berita dari Irak ditampilkan, orang-orang seringkali lupa bahwa para jurnalis dalam mekanisme tertentu berada di baliknya dan meski terancam bahaya, mereka menyampaikan laporannya dengan penuh keberanian. Sekarang saya melihat berita dengan anggapan yang berbeda."

Akhir film ini melontarkan tidak hanya pertanyaan mengenai keselamatan para jurnalis dan para pekerja bantuan kemanusiaan di wilayah krisis dan pertempuran, tapi juga bagaimana mengatasi trauma setelah bertugas di wilayah krisis, yaitu ingatan mengenai perang, yang setiap saat muncul meski sudah tidak lagi berada di medan konflik.

Petra Tabeling

© Qantara.de 2010

Alih bahasa oleh Luky Setyarini

Redaksi: Rizki Nugraha/Qantara.de

Waffenstillstand , Jerman. 2009. Sutradara: Lancelot von Naso, penulis naskah: Lancelot von Naso, Kai Uwe Hasenheit, Collin McMahon, Kamera: Felix Cramer, Pemeran: Matthias Habich, Thekla Reuten, Hannes Jaenicke, Max von Pufendorf, Husam Chadat.