17.02.2010Penyanyi Hindi ZahraPengembara antara Maroko dan Eropa

Hindi Zahra adalah wajah baru generasi muda penyanyi dan pengarang lagu kosmopolitan dari Afrika Utara. Albumnya yang bertajuk Handmade akan dirilis akhir Februari ini. Oleh Stefan Franzen

Hindi Zahra (Foto: www.hindi-zahra.com)
Dunia bunyi yang magis, puitis dan unik: album "Handmade" karya penyanyi Perancis Hindi Zahra adalah rampaian ajaib dari berbagai genre musik.
Lahir di Khourigba di Maroko Utara, Zahra menggambarkan dirinya sebagai pengelana sejati:

"Sejak kecil, saya sudah mengembara dengan orangtua saya dan mendengarkan berbagai spektrum musik Maroko setiap harinya—dari lagu-lagu perempuan suku Berber dan senandung zikir Gnawa (aliran tarekat di Maroko) hingga rock. Musik orang Tuareg, musik Mesir dan Bollywood juga sangat saya sukai."

Selain pengaruh semua musik ini, ada juga pengaruh suara ibu yang memberi Zahra dasar-dasar melodi. Di kalangan orang Berber, menyanyi merupakan keahlian perempuan dan setiap keluarga mempunyai paling tidak satu anggota keluarga perempuan yang bisa bernyanyi.

Sebuah fable bagi "diva kepiluan"

Zahra memang terlihat terharu ketika dia menjelaskan bagaimana latar belakangnya memberinya kepercayaan diri yang kuat sebagai seorang perempuan. Tak mengherankan bila hampir semua idolanya adalah para penyanyi perempuan: penyanyi Amerika Ella Fitzgerald, diva Mesir Umi Kalzum, dan penyanyi Peru Yma Sumac yang punya suara eksotis dan mengagumkan serta kekuatan vokal hingga 5 oktaf. "Mereka semua adalah diva [yang menyuarakan] kepiluan," tutur Zahra.

Ia merambah jalan ke Paris sebagai penyanyi muda dan membebaskan dirinya dari keterikatan pada kampung halaman demi untuk menemukan budaya baru. "Semua imigran, terutama anak-anak muda, merasakan kesulitan untuk menetap di negara baru. Orang dewasa mungkin bisa menyesuaikan diri dengan mengubah mental. Tapi bagi anak muda, perubahan itu sulit sekali. Saya merasakan bagaimana sulitnya menetap di kota besar karena saya hampir telah terbiasa untuk selalu mengembara," kenangnya.

Kampung halaman di negeri "antah berantah"

Tumbuh sebagai orang Berber di negara yang budaya Arabnya cukup kuat dan lebih banyak menggunakan Bahasa Arab daripada bahasa kaum Berber, Zahra selalu merasa bahwa ia hidup di negeri "antah-berantah". Tetapi justru perasaan ini yang membantunya beradaptasi dengan tempat-tempat baru—bahkan hingga Paris.

HIndi Zahra (Foto: www.hindi-zahra.com)
Gadis Maghrib bergitar? kebanyakan akan segera membayangkan Souad Massi, penyanyi Aljazair yang sukses menggusur gambaran klise tentang penyanyi perempuan di dunia Arab. Namun komunitas musisi perempuan kosmopolitan Arab belum kehabisan bakat: "Hindi Zahra adalah wajah baru gerakan ini," tulis Stefan Franzen
Ia mulai hidup di kawasan - Seine sebagai penyanyi latar musik soul. "Tetapi kemudian saya jadi frustrasi karena bekerja hanya dengan musisi Barat," tuturnya. "Tapi pada saat yang sama, saya menjadi sadar akan potensi yang saya miliki. Saya ingin membawa budaya musik kampung halaman saya ke level yang lebih tinggi, memperkenalkannya dalam instrumen musik yang modern, terutama piano dan gitar elektrik, untuk menciptakan percampuran yang harmonis antara berbagai instrumen musik."

Perjalanan perempuan ini bisa disimak dalam Handmade, sebuah album yang berisi musik akustis blues ala Berber, lagu-lagu bernada trance dengan tambahan aroma Jazz tahun 1930 dan 1940-an yang disampaikan dalam bahasa Berber dan Inggris.

Merambah tanah tak bertuan

Majalah Inggris Wire menggambarkan "Beautiful Tango", salah satu nomor andalan dalam album ini, sebagai perpaduan antara gitaris jazz Gipsi Django Reinhardt dengan penyanyi jazz Amerika Billie Holiday. "Saya tidak keberatan," timpal Zahra sambil tertawa. "Iramanya berdasarkan musik tepukan tangan ala Berber. Tetapi memang musik blues orang Berber tidak jauh beda dengan musik orang gipsi Manouche yang ada di Perancis. Kedekatan ini tak mengherankan karena keduanya sama-sama masyarakat nomad. Soal musik jazz lama, saya memang tertarik dan terpengaruh oleh jenis musik ini sejak awal. Bagi saya, musisi jazz adalah pengembara yang merambah dataran tak bertuan. Saya juga sedang melakukan pengembaraan seperti itu, dengan suara saya sebagai medium."

Album 'Handmade' karya Hindi Zahra (Foto: www.hindi-zahra.com)
Sebuah rampaian bunyi dari blues kaum Berber, Chanson bernuansa Trance dan musik Jazz di dekade 1930- hingga 40-an
Sebelas lagu yang ada dalam albumnya sangat spontan dan santai, dan sangat beragam secara karakter; dari yang informal, intimate miniatures, hingga himne pada malam. Zahra juga tampaknya penikmat musik psychedelic: lagu "Set Me Free" misalnya, dimaksudkan untuk menggambarkan suasana malam di gurun pasir ketika seseorang menerawang bintang dalam sepi dan berkontemplasi tentang alam dan makna hidup. Gitar elektrik, tutur Zahra, bisa membawa orang melambung ke angkasa.

Lagu-lagu lainnya lebih memiliki tema-tema khusus. "Oursoul" (kata dalam Bahasa Berber yang mirip Bahasa Inggris), misalnya, adalah lagu yang secara sensitif menjelajahi tema pernikahan paksa—sebuah tradisi adat, bukan tradisi Islam, yang masih dipraktikkan di Afrika Utara.

Handmade direkam di studio miliknya sendiri untuk mendapatkan cita rasa racikan tangan otentik pada suara. Musisi juga bekerja dengan tangan mereka, jadi musik sebetulnya adalah kerajinan tangan, ujar Zahra menjelaskan tentang judul albumnya.

"Saya mengkhayalkan aransemen dan vokalnya," ujar Zahra serius. "Melodinya cenderung muncul sendiri tanpa saya harus berusaha keras. Saya bekerja menurut insting, jadi tidak ada rancangan tertulis." Untuk merekam karyanya, Zahra juga terus berpindah. Kadang di Maroko, Paris, Brussels atau London. Dia memang seorang pengembara sejati.

Stefan Franzen

© Qantara.de / Common Ground News 2010