16.08.2010Wawancara dengan Salwa al-NeimiPembebasan Sastra Erotik
Disanjung sebagai terobosan baru dalam sastra Arab modern dan dikecam sebagai karya penuh skanda: Itulah roman berjudul "Honigkuss" (ciuman madu) karya pengarang Suriah Salwa al-Neimi. Dalam wawancara dengan Rim Najmi, ia menjelaskan bahwa di balik gaya sastra yang ringan, karyanya mempertanyakan masalah politik dan intelektual yang mendasar.
"Jika orang hanya menulis tentang apa yang dianggap tema tabu, misalnya seks atau agama, orang belum menciptakan karya sastra, paling-paling hanya bahan obrolan," demikian dikatakan Salwa al-Neimi Roman karya anda yang pertama, "Honigkuss" mendapat perhatian besar, baik dari pembaca maupun kritikus. Dalam hal itu “keberanian“ untuk menggarap salah satu dari tema besar yang tabu dalam kebudayaan Arab menjadi hal utama, dan bukan nilai sastra romannya. Apa yang menurut anda menjadi penyebab perhatian itu?
Salwa al-Neimi: Terima kasih untuk pertanyaan ini. Saya sendiri selalu mengatakan, bahwa kesuksesan buku ini terutama berdasar pada bahasa dan gayanya. Saya katakan saja begitu, walaupun sebagian besar kritikus kerap mengedepankan temanya, yang melanggar batas. Sementara teksnya sendiri sayangnya hanya menarik bagi sebagian kecil orang.
Sebagian kritikus memang menyebut-nyebut kebebasan berpendapat, tetapi ini sering kali hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Kalau menilai karya dari masa kini, yang digunakan kerap hanya kategori moral, ini tidak ada bedanya dengan sensor.
Untuk situasi di Arab, jumlah roman "Honigkuss" yang terjual, sangat banyak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Apa artinya perluasan karya anda secara internasional?
Al-Neimi: Saya menulis "Honigkuss" terutama untuk pembaca Arab. Roman ini juga diterima dengan baik dan banyak dibaca, baik dalam bentuk buku maupun di internet. Padahal buku itu dilarang di dunia Arab, kecuali di tiga negara Afrika utara yang disebut Maghreb. Itu sangat menyenangkan, karena saya menulis dalam bahasa Arab. Baru setelah itu dibuat terjemahan ke dalam 19 bahasa.
Penerbit luar negeri, yang berminat atas terjemahan mengatakan, mereka tertarik karena roman ini melepaskan diri dari gambaran-gambaran stereotip kebudayaan Arab. Itu juga membuat saya senang. Karena dengan langkah saya menempatkan karya-karya klasik Arab yang termasuk sastra erotik sebagai titik berat pekerjaan saya, saya ingin membuktikan bahwa dengan bahasa Arab orang juga dapat menulis tentang seksualitas dan intimitas.
Bukankah hasrat seksual sejak dulu sudah bernilai tinggi dalam kebudayaan Arab, dan itu tidak berkaitan dengan pikiran yang penuh dosa dan kotor. Saya juga ingin merenungkan kembali karya-karya besar erotis Arab, seperti al Sujuti dan al Jahiz.
Kebanyakan penerbitan Barat terutama tertarik akan tema-tema yang dianggap melanggar tabu di dunia Arab, terutama jika tema-tema itu menyangkut agama atau seksualitas. Apakah menurut anda, pandangan sempit atas dunia Arab tersebut tidak mengabaikan keanekaragaman kebudayaan itu sendiri?

"Saya pikir, sangat penting, jika melalui "Honigkuss" dan peninjauan kembali karya-karya sastra Arab ada sumbangan untuk pembebasan sastra erotik," demikian Salwa al-Neimi. Al-Neimi:Jadi penerbitan Barat berminat atas buku-buku Arab yang berani? Mengapa tidak! Buku-buku ini jelas tidak turun begitu saja dari langit, melainkan termasuk kesusastraan Arab modern dan ditulis untuk publik Arab. Selain itu saya ingin mengingatkan, bahwa karya-karya pujangga besar Arab, mulai dari guru kami Nagib Mahfus, sudah diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain.
Juga dapat dilihat, bahwa para pujangga itu mempunyai pengaruh besar dalam wawasan sastra dunia Arab. Jadi jika memang ada penyempitan dalam pandangan atas sastra Arab, orang pertama-tama harus melihat sebabnya dalam penyempitan perspektif pencipta kebudayaan Arab sendiri.
Sayangnya, beberapa pengarang dan kritikus terkenal dunia Arab tetap beranggapan, bahwa penerjemahan buku-buku, yang tidak sesuai cara pandang mereka, adalah karya iblis dari Barat, yang sengaja merusak gambaran kebudayaan Arab.
Jika roman karya saya tidak mendapat perhatian pembaca Arab sebanyak itu, penerbit asing tidak akan memperhatikan roman ini. Tanpa adanya debat sengit, di mana roman saya digambarkan sebagai roman erotik Arab pertama, karya penting dalam kesusastraan Arab modern, cerita penuh skandal dan sebagainya, buku itu tidak akan mencapai pasaran buku internasional. Menulis tema-tema yang dianggap tabu saja, seperti seks atau agama belum menciptakan karya sastra, paling-paling hanya bahan obrolan.
Dalam rangka penerbitan "Honigkuss" publikasi-publikasi dan banyak roman mendapat sorotan, yang juga mengetengahkan seksualitas, seperti majalah "Jasad" dari pujangga perempuan Libanon Joumana Haddad, atau sebelumnya kumpulan puisi "Erotika" oleh Saadi Youssef, atau juga roman berjudul "Taman Nafsu" oleh Abduh Wazin. Apakah yang terjadi sekarang hanya suatu kebetulan saja, atau kita sedang mengalami masa pembebasan dalam sastra dari pentabuan seksualitas?
Al-Neimi: Dalam konteks ini saya tidak percaya pada kebetulan. Karya sastra tidak tercipta dalam suatu kekosongan, melainkan berkaitan dengan tendensi dan keadaan aktual masyarakat. Tetapi saya awalnya tetap saja terkejut karena besarnya kehebohan menyangkut "Honigkuss", karena saya mengira, menulis tentang seksualitas tidak lagi termasuk tabu dalam masyarakat Arab. Mungkin penyebabnya, di jaman internet ini saya tidak lagi menganggap serius sensor Arab.
Saya bertolak dari standar kebebasan, yang saya amati dalam sastra Arab klasik yang erotik. Kebebasan ini juga saya lihat dalam sastra modern, misalnya dalam karya-karya Nagib Mahfus, Tayyib Salih dan Emile Habibi.

"Mengapa terjadi perpecahan antara masa kini dan warisan budaya kita, yang sedemikian menggerogoti dan meracuni hubungan kita dengan tubuh kita sendiri?" demikian dipertanyakan al Neimi. Sejauh mana sastra dapat memberikan sumbangan untuk perenungan kembali atas warisan kebudayaan Arab, yang hilang di masa modern?
Al-Neimi:Saya pikir, "Honigkuss" melontarkan pertanyaan mendasar atas hubungan kita dengan bahasa Arab dan warisan budaya Islam kita. Bagaimana sampai terjadi perpecahan antara masa kini, di mana kita hidup, dan warisan kebudayaan kita, yang sangat menggerogoti dan meracuni hubungan kita dengan tubuh kita sendiri? Ini bukan saja pertanyaan intelektual, melainkan juga politis, yang tersembunyi di balik gaya ringan sastra.
Sekarang, lebih dari tiga tahun setelah diterbitkannya roman ini, saya mengerti, bagaimana besarnya kejutan bagi pembaca Arab, karena dapat membaca tentang pengalaman seks dengan cara ini. Itu selalu saya sadari, jika saya mengikuti debat sengit tentang roman karya saya dalam forum-forum internet.
Seolah saya menyoroti pertanyaan-pertanyaan penting tentang seksualitas, yang sampai sekarang terselubung dalam masyarakat Arab. Dan jika seorang pembaca muda menulis, "’Honigkuss’ mendamaikan kita dengan tubuh kita," saya merasa senang.
Saya pikir sangat penting, memberikan sumbangan melalui "Honigkuss" dan peninjauan kembali karya-karya sastra Arab untuk pembebasan sastra erotik, dan bebas dari kecaman moral dan dari masyarakat. Jadi memang benar, buku dapat memberikan kekuatan untuk mempertanyakan norma-norma literatur, masyarakat dan politik, yang tampaknya tidak dapat disentuh.
Wawancara oleh Rim Najmi
© Qantara.de 2010
Salwa al-Neimi adalah wartawan asal Suriah yang bermukim di Paris. Ia mempelajari bahasa Arab, filsafat Islam dan ilmu teater di universitas di Damaskus dan Paris. Dalam disertasinya ia menyoroti roman karya perempuan Arab. Ia menulis secara teratur untuk harian "Barid Al-Junub" dan majalah "ARABIES".
Dari bahasa Arab oleh Christian Horbach dan Loay Mudhoon
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Kontroversi hikayat "Seribu Satu Malam" di Mesir
Sensor Berdalih Pornografi
Di dunia Arab suara-suara yang menuntut agar "Seribu Satu Malam" disensor, atau bahkan dilarang sepenuhnya semakin keras. Alasannya, kumpulan dongeng itu dianggap tidak senonoh. Baru-baru ini sekelompok pengacara konservatif Mesir mengajukan tuntutan. Laporan Samir Grees
Kesusasteraan di kairo
Dinamika Baru dalam Tekanan Politik
Penerbit karya sastra Arab hingga kini sering mencetak buku-buku dalam jumlah sedikit, karena kalangan pembacanya pun terbatas pada kaum intelektual saja. Namun belakangan arena kesusastraan di tepi Sungai Nil mengalami pergerakan. Oleh Susanne Schanda
Wawancara dengan Ulrich Schreiber
Literatur sebagai Motor Penggerak Dialog
Menurut Ulrich Schreiber, direktur Festival Kesusasteraan Internasional di Berlin, festival tahun ini ingin mencatat peristiwa bersejarah dalam komunikasi sastra antara Eropa dan wilayah Arab. Mohamed Massad menyempatkan berbincang dengannya di sela-sela festival.
Kontroversi hikayat "Seribu Satu Malam" di Mesir
Sensor Berdalih Pornografi
Di dunia Arab suara-suara yang menuntut agar "Seribu Satu Malam" disensor, atau bahkan dilarang sepenuhnya semakin keras. Alasannya, kumpulan dongeng itu dianggap tidak senonoh. Baru-baru ini sekelompok pengacara konservatif Mesir mengajukan tuntutan. Laporan Samir Grees
Kesusasteraan di kairo
Dinamika Baru dalam Tekanan Politik
Penerbit karya sastra Arab hingga kini sering mencetak buku-buku dalam jumlah sedikit, karena kalangan pembacanya pun terbatas pada kaum intelektual saja. Namun belakangan arena kesusastraan di tepi Sungai Nil mengalami pergerakan. Oleh Susanne Schanda
Wawancara dengan Ulrich Schreiber
Literatur sebagai Motor Penggerak Dialog
Menurut Ulrich Schreiber, direktur Festival Kesusasteraan Internasional di Berlin, festival tahun ini ingin mencatat peristiwa bersejarah dalam komunikasi sastra antara Eropa dan wilayah Arab. Mohamed Massad menyempatkan berbincang dengannya di sela-sela festival.