06.09.2010Wawancara dengan Penyanyi Sufi Pakistan Faiz Ali Faiz"Musik ini Mendamaikan Manusia"

Dia dianggap sebagai penerus Nusrat Fateh Ali Khan: Faiz Ali Faiz dari Sharaqpur, Pakistan berasal dari keluarga pemusik Qawwali yang turun menurun. Di generasi ketujuh, Faiz membawakan nyanyian yang coba menjalin kontak dengan Tuhan melalui kegembiraan ekstasi. Wawancara oleh Stefan Franzen.

Faiz Ali bersama grupnya (Foto: Wikipedia)
“Kadang-kadang kaum Sufi berpaling menghadap Tuhan secara sangat langsung, tetapi mereka juga kadang-kadang menggunakan sebuah pengandaian. Pada akhirnya, selalu Allah yang disapa, apakah disebut dengan nama atau tersisip di antara syair-syair,” ujar Faiz Ali
Faiz Ali Faiz, musik Sufi menyebar di seluruh dunia Islam, dari Senegal hingga Indonesia. Bagaimana anda menjelaskan kepada seorang Eropa ciri-ciri musik Sufi Pakistan Qawwali?

Faiz Ali Faiz: Qawwali lahir 700 tahun silam, saat cendikiawan dan orang-orang suci Islam datang ke subkontinen. Ini adalah musik yang dibawakan sebagai nyanyian kelompok, diiringi dua harmonium, instrumen musik ritme dan selain itu kami bertepuk mengiringi irama sembari bernyanyi.

Teks-teksnya memuji ulama-ulama Sufi dan para nabi. Karakter musik juga selalu terutama tergantung pada sikap dan perasaan publikum, karena Qawwali tidak hanya bernafaskan religius, tetapi juga duniawi. Qawwali awalnya digelar di kuil-kuil. Tetapi sekarang ini juga dipertunjukkan di gedung-gedung konser. Namun terlepas apakah itu bersifat keduniawian ataupun ketuhanan, pesan Qawwali selalu berupa cinta.

Melalui musik kaum Sufi mencoba memasuki keadaan ekstasi, penyatuan dengan yang Maha Kuasa. Bagaimana mereka melakukannya?

Faiz: Selama menyanyi kami menggunakan tepukan dengan ritme yang tetap dan instrumen perkusi. Dengan begitu kami menciptakan sebuah struktur siklus dan tanpa henti-hentinya mengulangi kata-kata suci serta beberapa bait dari puisi Sufi. Kata-kata suci ini ditujukan langsung kepada publikum yang diminta untuk memasuki keadaan ekstasi bersama kami pemusik.

Dalam bait-bait tersebut kerap diungkapkan keinginan bertemu kekasih dan keputusasaan karena terpisah dari kekasih. Bagaimana medan tegang yang unik antara cinta duniawi dan ketuhanan ini bisa mengemuka?

Faiz: Kadang-kadang kaum Sufi berpaling menghadap Tuhan secara sangat langsung, tetapi mereka juga kadang-kadang menggunakan sebuah pengandaian. Pada akhirnya, selalu Allah yang disapa, apakah disebut dengan nama atau tersisip di antara syair-syair. Ini juga tergantung pada publikum yang duduk di depan kami: Mereka memang suka mengartikannya sebagai sapaan kepada seseorang yang dicintai, tetapi teks-teks asli puisi Sufi selalu ditujukan kepada Allah.

Sampul album 'Shahen Sheh-Qawall and Party' oleh Nusrat Fateh Ali Khan
“Tatkala saya mulai menampilkan grup Qawwali saya sendiri, pengaruh dari Nusrat Fateh Ali Khan sangat jelas yang terbesar,” kata Faiz Ali.
Daerah-daerah, di mana Qawwali dinyanyikan, kini termasuk wilayah yang paling berbahaya di dunia. Aliran-aliran fundamentalis di sana sangat kuat. Dapatkah Qawwali ikut membantu menyampaikan gambaran damai Islam kepada orang-orang?

Faiz: Qawwali itu memang merupakan sarana terbagus untuk mempropagandakan kehidupan bersama yang damai antarmanusia, bila orang memberikan peluang dan ruang kepadanya untuk berkembang di tengah-tengah semua konflik ini. Musik ini dapat mendamaikan orang-orang. Bila kami memainkan musik atau menyanyikan puisi, proses ini langsung menyentuh hati orang. Qawwali sama sekali tidak menyebarkan perasaan yang melukai ataupun ancaman.

Anda kerap disebut sebagai penerus Nusrat Fateh Ali Khan, penyanyi besar Qawwali yang meninggal tahun 1997. Apakah sebutan itu merupakan kehormatan bagi anda ataukah menjauhinya melalui jenis Qawwali yang anda tampilkan? Anda mengikuti aliran lain?

Faiz: Tatkala saya mulai menampilkan grup Qawwali saya sendiri, pengaruh dari Nusrat Fateh Ali Khan sangat jelas yang terbesar. Di samping itu saya juga telah belajar dari seorang master yang sezaman dengan ayah saya.

Bagaimana anda sampai bisa bekerja sama dengan Titi Robin, pemusik dari Perancis?

Faiz: Perusahaan rekaman saya Accords Croisés memperkenalkan saya kepada Robin. Kami bertemu di Perancis, musiknya saya dengarkan dan segera menyadari bahwa musik itu mengandung unsur-unsur oriental. Lalu saya pikir, kami dapat melakukan proyek bersama dengan sangat baik.

Kami mencoba mempertemukan kesamaan-kesamaan kami dalam sebuah sesi selama setengah jam. Saya menyanyikan beberapa bait dan Robin memainkan instrumennya. Setelah itu kami tampil di panggung dengan grup Qawwali saya dan publikum sangat menyukainya. Ini merupakan dorongan bagi kami untuk mengembangkannya menjadi sebuah proyek yang lebih besar.

Dalam kerjasama dengan Robin, apakah anda telah mengubah cara permainan tradisional?

Sampul album 'Jaadu Magic' oleh Faiz Ali Faiz dan Titi ROben
“Musik Qawwali sepertinya diciptakan untuk memainkan peran besar di dalam sebuah konteks musik dunia.,” kata Faiz Ali
Faiz: Titi Robin yang menulis musiknya. Ternyata setelah itu terlihat bahwa tidak banyak dalam gaya tradisional saya yang harus diubah untuk menyatu dalam gubahan ini. Ada beberapa bagian dari komposisi ini, di mana saya mencoba untuk mengintegrasikan pembaruan ringan dan modifikasi. Itu merupakan bagian-bagian semi klasik, tetapi selalu tetap berada dalam gaya Qawwali.

Lima tahun yang lalu anda mengikuti program transkultural yang merupakan proyek Qawwali-Flamenco. Selain itu anda juga menyanyi bersama pemusik gospel dari Amerika. Apakah Qawwali sebuah jenis musik yang dengan baik dapat berharmoni dengan budaya lain?

Faiz: Pemusik spiritual yang menciptakan Qawwali 700 tahun silam, telah membentuk gaya ini sedemikian rupa sehingga Qawwali sangat mudah menerima dan diakses oleh musik jenis lain. Ke dalam Qawwali kami dapat mengintegrasikan Tumri, musik semi klasik dari India Utara, nyanyian puisi Sufi yang disebut Kafi atau juga lirik cinta, Ghazal. Karena itu, melebihi gaya-gaya lainnya dari subkontinen ini, Qawwali sepertinya diciptakan untuk memainkan peran besar di dalam sebuah konteks musik dunia.

Seperti yang telah saya alami melalui pengalaman kerjasama dengan pemusik internasional, peran bahasa bukan yang terpenting. Saya tidak berbicara bahasa pemusik Flamenco dan saya juga tidak mengerti bahasa dari Thierrry (Titi) Robin. Tetapi kami dengan sangat baik saling mengerti melalui bahasa musik.

Wawancara oleh Stefan Franzen

Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2010

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de