20.01.2011Kerukunan Beragama di IndonesiaMitos Bernama Toleransi
Masyakat muslim Indonesia pernah menjadi panutan dalam toleransi beragama. Namun belakangan semakin banyak warga yang mendukung tindak kekerasan atas nama Islam. Apakah julukan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim moderat kini tinggal mitos? Oleh Zaki Amrullah dan Andy Budiman.
Warga Kristen Indonesia berdemonstrasi di Jakarta terhadap semakin meningkatnya kekerasan bersifat keagamaan, yang terutama terjadi di Jawa Barat Penelitian empat lembaga survey baru baru ini menunjukkan, ada gejala yang mengkhawatirkan dalam soal toleransi. Entah itu antar sesama pemeluk agama yang memiliki tafsir berbeda maupun antar agama di Indonesia.
Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat PPIM Universitas Islam Negeri Jakarta menyimpulkan: sepuluh tahun terakhir masyarakat Indonesia semakin tidak toleran. Lingkaran Survey Indonesia menyebut 30,2 persen masyarakat membenarkan tindak kekerasan atas nama agama. Padahal, lima tahun lalu tak sampai 15 persen jumlah orang yang mendukung kekerasan.
SETARA Institut menemukan, warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi tidak toleran terhadap perbedaan keyakinan. Sementara Moderate Muslim Society mendata bahwa Provinsi Jawa Barat dan Banten, paling tidak toleran dalam soal perbedaan keyakinan.
Temuan-temuan ini, seolah mengkonfirmasi apa yang selama ini dikhawatirkan mengenai gejala menguatnya fundamentalisme agama di Indonesia.
Sepanjang 2010 Kasus Pelanggaran Beribadah Menguat
Suasana mencekam menyelimuti Jemaat Gereja Kristen Indonesia di Yasmin Bogor tahun ini saat merayakan Natal. Sepanjang ibadah berlangsung, puluhan pengunjuk rasa yang menolak keberadan GKI terus meneriakan teror yang penuh kebencian kepada jemaat sepanjang ibadah.
Polisi yang hadir dengan kekuatan penuh tak berbuat banyak untuk menghalau mereka, melainkan justru malah memihak kelompok radikal saat jemaat GKI Yasmin kembali mengelar ibadah Natal esok harinya.

Pengikut "Laskar Jihad" di Jakarta, sebuah kelompok anti Kristen yang militan. FPI juga secara terbuka menyatakan sikap anti Kristen, dalam sebagian kasus, bahwa menyerukan pembunuhan. Jemaat GKI Yasmin Bona Sigalingging menceritakan, polisi memblokir ruas jalan utama di komplek Taman Yasmin itu di kedua ujungnya. Mereka mengerahkan begitu banyak personel dan kendaraan taktis, yang "sangat intimidatif pada jemaat," karena nyatanya kendaraan dan aparat hanya bergeming saja menghadapi kelompok anti keragaman yang pagi itu kembali mengintimidasi warga GKI Yasmin.
"Mereka malah memblokir jalan bahkan ada beberapa warga jemaat GKI yang bermaksud mendekati gereja dihentikan polisi dan satpol PP dan ditanyakan mana surat ijin ibadah anda," tutur Sigalingging.
Menurut Bona Sigalingging, yang juga Juru bicara GKI Yasmin, intimidasi terhadap Jemaat ini bahkan sudah dilakukan sejak jauh hari, saat mereka menggelar ibadah di trotoar pada April lalu, setelah gereja mereka disegel oleh Pemda atas tekanan kelompok radikal.
Seorang pengurus gereja bahkan mengalami kekerasan fisik saat proses pembangunan gereja, padahal seluruh prosedur pembanguan Gereja termasuk Izin Mendirikan Bangunan rumah ibadah dari walikota sebelumnya telah dikantongi pengurus.
Beribadah Berpindah-pindah
Kasus di GKI Yasmin ini, menambah panjang daftar pelanggaran kebebasan beragama sepanjang tahun ini. Sebelumnya sejumlah ormas Islam juga menyegel tujuh rumah ibadah di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat yang digunakan oleh jemaat HKBP sebagai tempat ibadah darurat. Mereka beralasan keberadaan rumah ibadah meresahkan warga di perumahan Bumi Rancaekek Kencana, Bandung.
Kasus lainya terjadi pada September 2010 lalu, ketika dua pengurus gereja HKBB Ciketing Bekasi menjadi korban kekerasan, kelompok radikal, lagi lagi karena buntut dari protes pendirian gereja.

Setelah hidup rukun selama puluhan tahun, kelompok minoritas agama belakangan semakin merasa terancam oleh gelombang baru puritanisme Islam di Indonesia. Menurut Pendeta Luspida Simanjuntak, meski jemaat HKBB Ciketing ini telah terbentuk sejak 15 tahun lalu, namun sampai saat ini, keinginan mereka untuk memiliki gereja yang permanen belum terkabul.
Untuk beribadah mereka terpaksa berpindah dari satu rumah ke rumah lain. "Terakhir usaha kami adalah dengan siap membeli satu bangunan, tinggal menandatangani hitam diatas putih," tutur Simanjuntak.
Namun tiba-tiba, sekelompok massa menempelkan spanduk di bangunan tersebut. „Isinya adalah, rumah ini bisa dijual tetapi tidak untuk gereja,“ katanya. "Makanya rumah yang dibeli tahun 2007 dipertahankan sampai bulan Juni lalu. Kemudian ada surat dari Pemda untuk melakukan penyegelan."
Kekerasan Terhadap jemaah Ahmadiyah
Kekerasan juga menimpa kampung dan masjid Jamaah Ahmadiyah. Menurut juru bicara Ahmadiyah Zafrullah Pontoh, tahun ini sebagian besar terjadi di wilayah Jawa Barat. Antara lain di Kabupaten Kuningan, Sukabumi, Cinajur dan Bogor.
Selain perusakan dan pembakaran sejumlah masjid, kasus terbaru adalah pemasangan gembok pintu gerbang panti asuhan milik Ahmadiyah di kecamatan Kawalu Tasikmalaya.
Desakan membuka gembok deras disuarakan LSM dan pegiat anak, termasuk Komnas Anak, namun ditanggapi dingin oleh Walikota Tasikmalaya Syarif Hidayat, dengan alasan menjaga kondusifitas kota Tasikmalaya.
"Anak anak yang ada di dalam panti terpaksa harus loncat pagar untuk pergi sekolah, ada yang memberikan alasan, mereka harus menutup karena didalamnya ada tempat ibadah," kata Juru bicara Ahmadiyah Zafrullah Pontoh.
Ia tidak bisa mencerna, dengan menjamurnya mesjid di kantor-kantor pemerintahan dan sentra bisnis, kenapa justru rumah ibadahnya yang disasar oleh pemerintah?
Zaki Amrullah dan Andy Budiman
© Deutsche Welle 2011
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Pers di Indonesia
Kemenangan Kaum Konservatif atas Kebebasan Pers
Mantan pemimpin redaksi majalah Indonesia Playboy harus mendekam selama dua tahun di penjara karena "melanggar kesusilaan". Padahal pers di Indonesia termasuk yang paling bebas di Asia, sejak jatuhnya diktator Suharto. Oleh Anett Keller.
Kekerasan Agama di Indonesia
Koeksistensi Damai yang Terancam
Di tengah maraknya tindak kekerasan yang dilancarkan sejumlah ormas Islam terhadap kelompok minoritas di Indonesia, Presiden Yudhoyono, pemerintah daerah dan kepolisian malah terkesan setengah hati mempertahankan kebebasan beragama seperti yang dijamin Undang-undang Dasar. Laporan Anett Keller dari Yogyakarta
Kelompok Minoritas di Indonesia
Toleransi di Titik Nadir
Munculnya tindak kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia baru-baru ini berpangkal pada banyak masalah. Merupakan tanggungjawab bersama untuk mempromosikan sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Oleh Luther Kembaren
Pers di Indonesia
Kemenangan Kaum Konservatif atas Kebebasan Pers
Mantan pemimpin redaksi majalah Indonesia Playboy harus mendekam selama dua tahun di penjara karena "melanggar kesusilaan". Padahal pers di Indonesia termasuk yang paling bebas di Asia, sejak jatuhnya diktator Suharto. Oleh Anett Keller.
Kekerasan Agama di Indonesia
Koeksistensi Damai yang Terancam
Di tengah maraknya tindak kekerasan yang dilancarkan sejumlah ormas Islam terhadap kelompok minoritas di Indonesia, Presiden Yudhoyono, pemerintah daerah dan kepolisian malah terkesan setengah hati mempertahankan kebebasan beragama seperti yang dijamin Undang-undang Dasar. Laporan Anett Keller dari Yogyakarta
Kelompok Minoritas di Indonesia
Toleransi di Titik Nadir
Munculnya tindak kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia baru-baru ini berpangkal pada banyak masalah. Merupakan tanggungjawab bersama untuk mempromosikan sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Oleh Luther Kembaren