10.08.2009Wawancara dengan Amel GramiMenuju Islam Modern
Tunisia di dunia Arab Islam pernah menjadi salah satu negara maju dalam hal hak perempuan. Belakangan ide yang Islamis dan neo konservatif juga dianggap menarik terutama oleh kalangan perempuan muda. Beat Stauffer berkesempatan berbincang dengan pakar ilmu kajian agama asal Tunisia Amel Grami mengenai hal tersebut.
Amel Grami "Seluruh generasi muda tidak memiliki mimpi, idealisme, tidak punya harapan lagi. Mereka merasakan, kami telah gagal." Apakah Tunisia masih menjadi panutan dalam hak perempuan bagi dunia Arab?
Amel Grami: Sejak beberapa tahun ini sayangnya Tunisia sudah tidak lagi menjadi tolok ukur hak perempuan di dunia Arab-Islam. Dapat dikatakan, Tunisia mengalami kemunduran dalam hal ini. Saya punya kontak langsung dengan mahasiswi saya, makanya saya dapat mengamati, bagaimana prestasi ini menurun, prestasi yang diperjuangkan dalam waktu lama. Banyak mahasiswi saat ini siap menghadapi “kembalinya syariah“, mereka menuntut penerapan ajaran ini, meski merugikan bagi perempuan.
Mereka pikir, mengembalikan perempuan ke ranah domestik merupakan jalan terbaik bagi penyelesaian masalah pengangguran. Banyak dari perempuan ini menggunakan cadar. Mereka membela hukum waris tradisional Islam dan yakin, pembebasan perempuan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai berharga. Mereka juga tidak terganggu dengan poligami dan cenderung menganggap poligami adalah sah.
Kami, perempuan dengan emansipasi, tampaknya kurang melakukan penyebarluasan ide dan nilai-nilai kami. Jika Anda berjalan menyusuri jalan di Tunis, Anda akan melihat banyak ibu-ibu dan nenek-nenek yang tidak menggunakan cadar, sementara generasi ketiganya mengenakan kerudung. Kembalinya pemikiran agamis dan kebangkitan kembali kesadaran nilai-nilai Islam dapat dilihat dengan jelas. Terdapat para dokter dan insinyur perempuan yang aktif berdakwah. Sesuatu, yang sebelumnya di Tunisia belum pernah terjadi.
Bagaimana penjelasan Anda mengenai reislamisasi ini?
Grami: Saya pikir, media-media Arab banyak memainkan peranan penting. Dulu, kami sangat bangga dengan budaya Tunisia, dengan keterbukaan kami. Namun sejak kami dipengaruhi media Arab, banyak hal yang berubah. Belum lagi, saat ini terdapat krisis identitas yang parah, yang semakin kuat akibat perang di Irak dan Libanon. Saat ini di dunia Arab terdapat frustrasi tingkat tinggi, dan orang-orang merasa seperti disudutkan. Dalam situasi seperti ini, mereka mencari perlindungan dan pijakan pada agama.

Belakangan semakin banyak perempuan muslim yang siap menerima "Retour à la charia," ujar Grami Hal penting yang terlihat oleh saya adalah kembalinya ritual, mengikuti ajaran agama dengan sebenar-benarnya. Bagi saya, itu merupakan semacam fetisisme. Sejak beberapa tahun belakangan ini, terdapat upaya mengajak perempuan untuk “menggoda dengan kerudung“. Stasiun pemancar televisi Arab juga memegang peranan penting dalam hal ini. Sekarang, di Tunisia juga sedang tren mengenakan jilbab panjang, yang sebelumnya tidak dikenal.
Apakah perempuan generasi muda Tunisia tidak melihat keuntungan relatif majunya hak perempuan di negaranya dibandingkan dengan sebagian besar negara Arab lainnya?
Grami: Untuk menjawab pertanyaan ini, terlebih dulu saya harus menghela napas. Semua ini berhubungan dengan kegagalan pendidikan agama di Tunisia. Pelajaran agama sejak lama tidak disukai di Tunisia, dan para guru tidak menganggap serius pelajaran ini. Seluruh generasi muda tidak memahami hal mendasar mengenai agama.
Reformasi yang dilakukan menteri pendidikan waktu itu, Mohamed Charfi, juga tidak banyak mengubah keadaan ini. Dia memang menerapkan interpretasi pesan Al Quran yang sesuai zaman. Namun proyeknya itu tidak berhasil, karena Mohamed Charfi tidak berhasil meyakinkan para guru. Para guru memiliki pemahaman yang sangat konservatif mengenai agama dan sama sekali tidak memahami sosiologi agama, studi perbandingan agama dan seterusnya.
Dengan begitu, seluruh generasi terpapar agama hanya dengan pengetahuan yang terbatas, dan anak-anak muda ini juga tidak banyak mendapatkan pengetahuan (agama) dari keluarganya. Jika pun ya, mereka terdampar di lingkungan privat dalam hal bersentuhan dengan agama, dan saat ini di wilayah itu Islamis memegang peranan penting.
Banyak program religius, yang disiarkan pemancar televisi satelit, menyebarkan pandangan konservatif atau bahkan fundamentalis. Apakah tidak ada pemancar teve lain yang berupaya menghadapkan konten konservatif ini dengan pandangan modernis dan sekuler?
Grami: Itu merupakan butir penting. Kami berada di dalam krisis ini, karena di satu pihak banyak cendikiawan yang kehilangan gairah dan tidak lagi banyak terlibat dalam masalah ini. Mereka pikir, wacana dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lagi berpengaruh pada generasi muda, dibandingkan dengan pengaruh besar dari, misalnya penceramah di televisi.

Untuk pergulatan politik dan penyebaran ideologinya semakin banyak kaum islamis yang menggunakan media televisi dan internet Di sisi lain, menurut saya, kaum Islamis tergerak untuk menguasai ranah ini. Sekarang, sejauh ini terdapat kecenderungan, peserta acara debat televisi yang mewakili kaum liberal, moderat, dan sekuler menjadi bahan tertawaan. Dengan alasan ini, banyak cendikiawan berhaluan modern tidak lagi bersedia menghadiri acara debat semacam itu.
Mengapa tidak ada upaya dari pemerintah negara-negara Maghribi untuk beroposisi terhadap konservatisme agama?
Grami: Kesan saya, kalangan konservatif Islam mendapatkan dukungan dari pihak negara. Jika pergi ke pameran buku, banyak sekali literatur agama. Sebaliknya, buku yang bersifat kritis sering sekali disensor.
Apa pandangan Anda mengenai alasan peningkatan minat terhadap neokonservatif atau bahkan pandangan fundamentalis terhadap dunia di kawasan Arab? Apakah terutama karena terlalu lama diremehkan oleh negara barat?
Grami: Oleh negara barat, dan juga oleh pemerintah sendiri. Jika tidak ada kebebasan berpendapat, jika tidak mungkin membicarakan masalah utama kemasyarakatan secara terbuka, jika di banyak hal tidak ada kemajuan, perkembangan semacam itu tidak mencengangkan. Seluruh generasi muda tidak punya mimpi, idealisme, tidak punya harapan lagi. Mereka merasakan, kami telah gagal.
Banyak mahasiswa saya yang tahu betul, gelar master sastra Arab tidak lagi berharga. Orang-orang muda ini merasa diremehkan di negaranya sendiri. Hingga beberapa tahun lalu, generasi muda yang merasa dicemooh oleh masyarakatnya, merantau ke luar negeri. Sekarang, batasan itu semakin tertutup, dan siapa pun yang berhasil ke Eropa, posisi mereka sebagai orang Arab dan muslim di sana sulit. Sekarang orang-orang muda ini tahu, bahwa tidak ada harapan untuk mereka. Dengan alasan ini, mereka membenamkan diri ke agama.
Sekarang kita berbicara mengenai masalah peranan perempuan dalam institusi agama. Apakah ranah ini di Tunisia masih didominasi oleh pria?
Grami: Kaum feminis dasawarsa 80 dan 90an, dengan alasan masing-masing, sama sekali tidak berupaya untuk melibatkan diri di ranah ini.

"Saat ini tembok perbatasan semakin tebal, tapi siapapun yang berhasil menembus Eropa akan kesulitan hidup di sana sebagai muslim atau warga Arab," ujar Grami Banyak peneliti pria dan perempuan generasi saya punya latar belakang pendidikan sastra dan bahasa Arab sekaligus ilmu humaniora modern. Dengan begitu, terdapat sejumlah karya ilmiah menarik bertemakan agama. “Feminisme Islam“, suatu gerakan yang berlandaskan feminisme, namun juga mendukung argumen Islam, hingga kini sangat jarang dipelajari di Tunisia.
Terdapat celah besar antara kaum perempuan. Kalau bukan feminis, dia sangat religius. Kami, perempuan dengan emansipasi, tidak sadar bahwa harus ada proyek untuk menghadapi kaum Islamis dan dengan cara itu mempertahankan nilai modernitas dan kesekuleran. Hal itu sekarang telah mengalami perubahan.
Apakah menurut Anda, fenomena “Feminisme Islam“, penanda adanya gerakan, ada artinya?
Grami: Ya, tentu saja. Gerakan ini membantu perempuan generasi muda mengembangkan representasi baru mengenai agama. Seperti yang sudah dikatakan, interpretasi Islam yang moderat dan progresif kurang berbobot dibandingkan dengan interpretasi yang ortodoks dan konservatif.
Oleh sebab itu, generasi muda tidak dapat menemukan bahwa pengetahuan agama tidak hanya berada di tangan laki-laki! Tidak ada kumpulan karya ilmiah dari perempuan, mengenai agama, dan di banyak hal para perempuan penulis ini begitu saja dibungkam.
Apakah “feminis Islam“ ini tidak mewakili posisi konservatif hingga Islamis?
Grami: Tiap negara berbeda-beda. Coba Anda lihat, perempuan dari kalangan Islam konservatif punya kompetensi di bidang agama. Sebaliknya, feminis punya kesempatan untuk membuka ladang baru penelitian. Bila kedua “kubu“ ini dapat bekerja sama dalam satu proyek, akan tercipta sinergi.
Dengan begitu, kendala dapat teratasi. Itu juga berlaku bagi feminis Maroko. Mereka sadar, setidaknya mereka harus bekerja sama dengan kalangan perempuan Islamis dalam bidang tertentu. Ini tidak mungkin dilakukan di Tunisia, karena gerakan Islamis dilarang dan dengan begitu tidak ada yang menyatakan diri sebagai kaum Islamis. Mereka harus beroperasi secara “bawah tanah“ dan takut untuk tampil di depan publik.
Beat Stauffer
Alih bahasa oleh Luky Setyarini
© Qantara.de 2009
Qantara.de
Interview with Asma Barlas:
"It Is the Right for Every Muslim to Interpret the Quran for Themselves"
One of the scholars who try to offer a more emancipatory interpretation of the Quran is Asma Barlas. She closely examines the male-oriented interpretations of the Quran and offers an antipatriarchal alternative
Nahed Selim
The Prophet and the Women
What is the Koran's real attitude to women? Should every sura be taken at face value? Is it time for a change of attitude? Nahed Selim, a liberal Dutch Muslim, offers a female perspective on Islam's holy scriptures. Abdul-Ahmad Rashid reports
Dossier
Feminist Approaches to Islam
Muslim women struggling for emancipation often turn to tradition for inspiration. They analyse the Koran and the history of Islam and challenge interpretations which have been accepted for centuries. Read this and more in our dossier
Interview with Asma Barlas:
"It Is the Right for Every Muslim to Interpret the Quran for Themselves"
One of the scholars who try to offer a more emancipatory interpretation of the Quran is Asma Barlas. She closely examines the male-oriented interpretations of the Quran and offers an antipatriarchal alternative
Nahed Selim
The Prophet and the Women
What is the Koran's real attitude to women? Should every sura be taken at face value? Is it time for a change of attitude? Nahed Selim, a liberal Dutch Muslim, offers a female perspective on Islam's holy scriptures. Abdul-Ahmad Rashid reports
Dossier
Feminist Approaches to Islam
Muslim women struggling for emancipation often turn to tradition for inspiration. They analyse the Koran and the history of Islam and challenge interpretations which have been accepted for centuries. Read this and more in our dossier