03.08.2009Dunia Barat dan IslamMengikis Seribu Satu Prasangka
Orang-orang di selatan dan di utara Laut Tengah kerap terjebak dalam lingkar prasangka. Hassan Hanafi, profesor di bidang filsafat di Universitas Kairo menyampaikan beberapa usul agar sikap saling pengertian antar dua dunia berfungsi lebih baik.
Hassan Hanafi: "Mungkinkah kedua sisi laut tengah menjadi mitra sejajar?" Daerah pantai di sebelah utara dan selatan Laut Tengah adalah asal-mula sejumlah besar peradaban kuno. Ketegangan antara kedua wilayah ini sering berawal dari salah tanggap. Orang-orang di kawasan utara menganggap tepi selatan sebagai tempat tumbuhnya terorisme, tempat kekerasan dan pertumpahan darah, akar serangan 11 September dan serangan bom di London serta Madrid.
Agama Islam dianggap melahirkan budaya kekerasan yang berlawanan dengan ajaran Kristen, yang mengutamakan perdamaian dan kasih. Tanggapan keliru ini didasari kesimpulan salah yang bersifat mereduksi dan menyederhanakan Islam menjadi satu bagian kecil saja. Sebab Islam juga telah mendirikan kota-kota megah yang menjadi permata sejarah, seperti Granada, Sevilla atau Cordoba yang terletak di sebelah utara Laut Tengah.
Selain itu, wilayah di selatan Laut Tengah secara umum ditempatkan di tingkat tidak berkembang, atau maksimal dianggap daerah yang mulai berkembang. Ini bukan hanya anggapan atas situasi ekonomi, politik masyarakat dan kebudayaan daerah itu, melainkan juga dalam hal situasi kaum perempuan, demokrasi dan keadilan sosial.
Lingkar prasangka di atas hitam dan putih
Ini juga kesimpulan yang salah. Di masa Abad Pertengahan, kawasan di selatan Laut Tengah menjadi pelopor dalam bidang ilmu alam dan kebudayaan, dengan kota-kotanya Fes, Kairouan dan Kairo. Sementara orang-orang dari kawasan utara menimba ilmu di selatan Laut Tengah.

Selama berabad-abad, pihak utara belajar dari selatan. Buku Qanun fi Thib atau aturan-aturan pengobatan merupakan karya kedokteran yang paling luas digunakan di dunia. Lebih jauh lagi, di utara ada anggapan bahwa di selatan Laut Tengah orang yang "lain" ditolak. Ke dalam yang ditolak adalah orang-orang non muslim, dan ke luar seluruh dunia Barat. Di wilayah selatan, menurut orang-orang di utara, dialog dan pembicaraan dua pihak ditolak, dan yang sepihak lebih disukai. Di selatan Laut Tengah kebudayaan yang dihasilkan adalah yang membeda-bedakan dan bukan yang berdasarkan integrasi.
Inilah yang menjadi penyebab ketegangan antar agama dan antar etnis yang terus terjadi. Padahal Islam adalah agama yang mengutamakan perdamaian. Agama Islam menghargai keanekaragaman ciptaan Tuhan dan keanekaragaman manusia. Sesuatu yang "lain" dianggap bagian dari diri sendiri.
Selebihnya, bagi kawasan di utara Laut Tengah, daerah selatan menjadi sumber ancaman akibat datangnya imigran pencari kerja, baik legal maupun ilegal. Jilbab, pakaian pria muslim atau mesjid mengancam identitas Eropa. Itulah pandangan yang umum. Selain itu di tiap kota Eropa ada daerah muslim, semacam enklave yang punya kebiasaan dan undang-undang sendiri. Namun situasi di daerah warga minoritas etnis dan agama lain juga seperti itu.
Orang-orang di selatan Laut Tengah juga punya pandangan yang tidak sepenuhnya benar terhadap mereka yang di utara. Orang-orang di utara dianggap terus memperluas wilayah mereka, sejak jaman kekaisaran Romawi dan Yunani, kemudian saat Perang Salib di masa Abad Pertengahan hingga jaman kolonialisme modern. Kebudayaan Barat dianggap berdasar pada kekuatan dan bukan keadilan, pada penguasaan dan bukan pembebasan.
Pertanyaan yang masih harus dijawab
Setidaknya, kebudayaan di utara Laut Tengah bermoral ganda. Kebudayaan, kebebasan, persamaan, keadilan, kemajuan dan ilmu pengetahuan diutamakan di wilayah sendiri. Sementara ke luar yang berlaku adalah penguasaan, pembedaan, ketidakadilan, kemunduran dan kebodohan. Masalahnya sekarang, apakah dapat tercipta universalisme baru di luar sentralisme Eropa?
Di selatan orang-orang juga berpendapat, bahwa orang-orang dari bagian utara merampok kekayaan, sumber alam dan tenaga kerja, sekaligus mendominasi pasar di selatan Laut Tengah. Ini semua tampak dalam multinasionalisme, globalisasi dan keseragaman peraturan. Sejak dulu banyak tulisan mengenai "penjarahan dunia ketiga". Negara-negara Barat dianggap lebih banyak mengambil dari Afrika, Asia dan Amerika Latin, daripada memberi. Yang patut dipikirkan, apakah wilayah di selatan dan utara Laut Tengah dapat menjadi mitra yang setara?

Buat banyak orang di selatan, perang salib dan kolonialisme modern merupakan bukti tak terbantahkan dari ambisi pihak utara untuk berekspansi Sistem nilai-nilai di utara Laut Tengah, menurut pendapat orang di selatan, lebih materialistis, terjebak dalam arus postivisme dan kerap digoyahkan oleh relativisme-nya sendiri. Perubahan lebih menjadi dasarnya, dan bukan keadaan konstan.
Idealisme dianggap merupakan kepercayaan lama yang dirumuskan kembali. Keharusan kategoris (Categorical Imperative, red.) yang tegas telah digantikan etika situasi. Pengguguran kandungan, homoseksualitas, budaya telanjang, egoisme dan kepentingan diri sendiri adalah praktik sosial yang tidak bermoral. Pertanyaannya, apakah etika yang berlaku secara universal dapat tercipta?
Menurut orang-orang di selatan Laut Tengah, atas nama humanisme pandangan orang-orang di utara rasional, duniawi dan bahkan ateis. Selain itu, juga cenderung mengarah ke skeptisme, agnostisisme dan nihilisme. Postmodernisme dan dekonstruktivisme adalah dua gejala krisis dunia Barat.
Krisis ini digambarkan Max Scheler sebagai penggulingan nilai-nilai. Henri Bergson mengilustrasikannya sebagai mesin untuk menciptakan dewa-dewa, dan Oswald Spengler menyebutnya keruntuhan dunia Barat. Pertanyaannya sekarang, apakah peranan sebagai pemimpin akan beralih dari Barat ke Timur?
Hassan Hanafi
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
© Kulturaustausch 2009/ Qantara.de 2009
Hassan Hanafi lahir di Kairo tahun 1935. Setelah mendapat gelar Bachelor untuk ilmu filsafat tahun 1956, ia berkuliah selama 10 tahun di Universitas Sorbonne, Paris. Sejak 1966 ia bekerja sebagai profesor di bidang filsafat di Universitas Kairo. Mulai tahun 1983 ia menjadi wakil ketua Perkumpulan Filsafat Arab.
Qantara.de
Wawancara dengan Tariq Ramadan
"Tidak ada sistem Islam, yang ada hanya prinsip Islam"
Dalam pembicaraannya dengan Claudia Mende, cendikiawan Islam dan pemikir reformasi Tariq Ramadan berpaling dari struktur kekuasaan otoriter dalam Islam dan mengupayakan sebuah pengertian keimanan modern yang berdasarkan pemisahan negara dan agama.
Umat Muslim di Jerman
Perintis "Euro-Islam"?
Bangunan-bangunan masjid yang megah, perhimpunan-perhimpunan besar yang mapan, jabatan guru besar di Universitas: Islam di Jerman seakan berpisah dari status agama kaum migran. Apakah yang dinamakan 'Euro Islam' itu kini berkembang di Jerman? Oleh Gregor Taxacher
Wawancara dengan Tariq Ramadan
"Tidak ada sistem Islam, yang ada hanya prinsip Islam"
Dalam pembicaraannya dengan Claudia Mende, cendikiawan Islam dan pemikir reformasi Tariq Ramadan berpaling dari struktur kekuasaan otoriter dalam Islam dan mengupayakan sebuah pengertian keimanan modern yang berdasarkan pemisahan negara dan agama.
Umat Muslim di Jerman
Perintis "Euro-Islam"?
Bangunan-bangunan masjid yang megah, perhimpunan-perhimpunan besar yang mapan, jabatan guru besar di Universitas: Islam di Jerman seakan berpisah dari status agama kaum migran. Apakah yang dinamakan 'Euro Islam' itu kini berkembang di Jerman? Oleh Gregor Taxacher