28.12.2010Mesjid Mevlana di KonstanzMenara Dalam Pangkuan Masyarakat
Dibangun 10 tahun lalu dengan kubah dan menara gaya tradisional, dipahami sebagai tempat berdialog dan menarik banyak pengunjung non-muslim, belakangan juga dari negara tetangga di pegunungan Alpen: Mesjid Mevlana di Konstanz menjadi ruang terbuka bagi pertemuan dua kutub budaya. Oleh Yasser Abumuailek
Menikmati kepercayaan tinggi masyarakat Konstanz: Mesjid Mevlana dibangun atas dukungan komunitas Kristen di Konstanz. Siang hari pada sebuah Jumat yang dingin di kota Konstanz. Walaupun udara membekukan badan, sekitar 100 orang berkumpul di depan pintu kayu mesjid. Mereka lantas melepas sepatu sambil berbincang-bincang, lalu bergiliran mengambil air wudhu. Percakapan berlangsung dalam beberapa bahasa, Jerman dan Turki yang paling banyak digunakan. Lima menit berlalu, pintu dibuka dan semua melangkah masuk.
Adegan ini berulang setiap Jumat di mesjid Mevlana. Sekitar 4.000 umat muslim bermukim di Konstanz. Hampir separuhnya merupakan generasi ke dua atau ke tiga dari pendatang Turki.
Salah satunya Kurban Aras, anggota Dewan "Komunitas Muslim Turki". Ahli pembuat sepatu berusia 48 tahun itu mengenang, saat organisasinya memulai dialog dengan masyarakat Kristen dan dewan kota, sebelum mesjid dibangun tahun 2000. Mereka sama sekali tidak menghendaki munculnya rasa saling curiga. Mesjid itu bahkan dibangun dengan menara setinggi 35 meter, ketika itu yang paling tinggi di Jerman.
Dialog menuju Toleransi
„Kami adalah warga Jerman yang baru. Dan anak-anak kami akan menetap di sini. Karena itu kami juga harus membangun mesjid baru yang bagus di sini. Untuk itu kami berbicara dengan masyarakat sekitar. Gereja-gereja juga mendukung kami," kata Kurban Aras.

Sasaran kaum muslim di Konstanz adalah “berkontribusi bagi pemahaman yang baik antara warga Muslim dan non-Muslim.“ Sebelum mesjid dibangun, berkali-kali perhimpunan umat Muslim mengundang mayarakat yang skeptis untuk menghadiri pertemuan. Wakil umat Kristen ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan ikut hadir dalam pesta selamatan. Dari situlah muncul kelompok kerja bagi pertemuan umat Kristen dan Islam.
10 tahun berlalu dan mesji Mevlana menjadi bagian dari panorama kota. Warga Muslim tampaknya berhasil membangun kepercayaan masyarakat kota Konstanz. Bukan hanya berpartisipasi dalam acara-acara yang dilakukan pemerintah kota, tetapi juga aktif dalam kegiatan kepemudaan.
Tujuan resmi yang ingin dicapai pengurus mesjid adalah "berkontribusi bagi pemahaman yang baik antara warga Muslim dan non-Muslim, dan menawarkan peluang bagi umat Muslim untuk merasa sebagai bagian dari masyarakat kota Konstanz.
Membumikan Islam di Jantung Eropa
Mesjid Mevlana juga menarik perhatian warga di negara tetangga, Swiss. Dalam referendum yang digelar tahun 2009 lalu, mayoritas rakyat Swiss itu menolak pembangunan mesjid baru dengan menara.

Imam Ismail Toprak berpendapat, khutbah Jumat harus dalam bahasa setempat, di mana masyarakat muslim tumbuh dan berkembang, Ismail Toprak, wakil imam di mesjid Mevlana menyambut gembira fenomena baru ‚wisata menara mesjid'. Dengan bangga ia menuturkan bahwa semakin banyak warga Swiss, Muslim maupun non-Muslim yang berkunjung ke mesjid Mevlana.
Di mesjid ini, khotbah disampaikan dalam Bahasa Jerman, yang dipahami sebagian besar warga Swiss. Faktor bahasa ini juga yang merupakan nilai tambah, mengingat umat Muslim yang datang ke mesjid Mevlana berasal dari negara yang berbeda-beda, terang Toprak, yang berasal dari Turki.
"Kita di Jerman, atau di negara lain, harus menggunakan bahasa negara yang bersangkutan sebagai bahasa pertama untuk khotbah. Dan bahasa lainnya sebagai bahasa ke dua. Generasi penerus kami hanya memahami Bahasa Jerman. Kalaupun mereka mengerti Bahasa Turki, mereka tidak memahami istilah-isitlah Islam dalam Bahasa Turki," demikian papar Ismail Toprak.
Yasser Abu Muailek
Alih bahasa oleh Asril Ridwan
© Deutsche Welle 2010
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Pembangunan Mesjid di dekat "Ground Zero"
Mengulur Tangan Kebebasan
Rencana pembangunan sebuah mesjid di dekat Ground Zero, New York, dinilai melukai ingatan terhadap korban serangan 11 September 2001. Namun Julie Clawson yang beragama Kristen justru melihat peluang dalam pembangunan tersebut, yakni pemahaman antar pemeluk agama.
Peran Madrasah di Inggris
Mengejar Ketertinggalan
Pemuda muslim di Inggris sejak lama tertinggal dalam hal kualitas hidup. Madrasah dan mesjid dapat membantu mereka dalam mencapai kesetaraan tingkat pendidikan dan profesi di taraf nasional, begitu menurut pakar Islam Asim Siddiqui.
Sebuah Esai oleh Arsitek masjid Alen Jasarevic
Dialog di bawah Menara Mesjid
Dalam essainya Alen Jasarevic, arsitek mesjid di kota Penzberg di selatan negara bagian Bayern, memuji seni bangunan Islam. Dengan dibangunnya mesjid di Penzberg, umat muslim di Bayern merealisir sebuah proyek yang berkualitas dan diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kota-kota lain di Jerman.
Pembangunan Mesjid di dekat "Ground Zero"
Mengulur Tangan Kebebasan
Rencana pembangunan sebuah mesjid di dekat Ground Zero, New York, dinilai melukai ingatan terhadap korban serangan 11 September 2001. Namun Julie Clawson yang beragama Kristen justru melihat peluang dalam pembangunan tersebut, yakni pemahaman antar pemeluk agama.
Peran Madrasah di Inggris
Mengejar Ketertinggalan
Pemuda muslim di Inggris sejak lama tertinggal dalam hal kualitas hidup. Madrasah dan mesjid dapat membantu mereka dalam mencapai kesetaraan tingkat pendidikan dan profesi di taraf nasional, begitu menurut pakar Islam Asim Siddiqui.
Sebuah Esai oleh Arsitek masjid Alen Jasarevic
Dialog di bawah Menara Mesjid
Dalam essainya Alen Jasarevic, arsitek mesjid di kota Penzberg di selatan negara bagian Bayern, memuji seni bangunan Islam. Dengan dibangunnya mesjid di Penzberg, umat muslim di Bayern merealisir sebuah proyek yang berkualitas dan diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kota-kota lain di Jerman.