28.12.2010Resensi "Bagaimana aku membunuh Scheherezade"Manifes Bagi Perempuan Arab
Jurnalis perempuan Libanon, Joumana Haddad menulis sebuah buku yang provokatif dan sangat subjektif mengenai diri sendiri, pandangannya mengenai perempuan dan permasalahan politik dunia Arab secara keseluruhan. Oleh Stefan Weidner.
Haddad menulis gambaran seorang perempuan yang tidak mengenal tabu dan mandiri. Tapi di sisi lain ia juga mengeluhkan ketidakmampuan masyarakat untuk melenyapkan tabu. Pengakuan berani dari seorang perempuan: membaca dan masturbasi adalah hal yang paling disenanginya saat kecil. Demikian ditulisnya dengan jelas. Pada usia 12 tahun ia sudah membaca semua karya Balzac, dan berkenalan dengan karya de Sade: „De Sade mencengkeram bahuku dan berkata: ‚Fantasi adalah kerajaanmu. Semuanya mungkin’.“ De Sade bisa jadi benar.
Bagi Joumana Haddad tampaknya tidak ada lagi yang tak mungkin: Apakah itu berupa penulisan sebuah sajak Arab, di mana terdapat kata „penis“, atau publikasi sebuah majalah glossy dengan judul „Tubuh“ yang diterbitkan di Beirut. Majalah ini bukan sebuah majalah porno, tetapi adalah bentukan pelanggaran besar-besaran semua tabu di Timur Tengah yang berkaitan dengan tubuh dan seksualitas.
Buku pengakuan dari penulis Libanon yang lahir pada tahun 1970 itu, kini terbit dalam bahasa Jerman. Karyanya ini lebih merupakan J’accuse ketimbang Confessio. Buku yang menghanyutkan pembaca dalam keasyikan kecil dan tak terkendalikan yang memutarbalikkan pandangan kita mengenai dunia Arab.
Pembunuhan Scheherazade
Pertanyaan seorang wartawati Swedia mengenai apakah mungkin bagi seorang perempuan Arab untuk menerbitkan majalah erotis, adalah pemicu lahirnya ‚Pembunuhan’ Scheherezade, sang pencerita dalam epik Seribu Satu Malam yang di sini (tentunya agak tidak adil) dimengerti sebagai lambang bagi khayalan oriental dari barat. Keberanian jurnalistis Joumana Haddad berakar pada pengalaman kehidupan yang dialaminya.

“Bukan majalah porno, melainkan sebuah bentuk gairah untuk melanggar semua tabu di Timur Tengah yang berkaitan dengan tubuh dan seksualitas.” Tulis Weidner soal mahalah “Jasad” atau “tubuh”. Namun buku tersebut lebih dari hanya sekedar ungkapan pembebasan dirinya dari belenggu, dan juga lebih dari sekedar pembuktian kesalahan klise barat mengenai perempuan Arab yang tertindas. Buku itu terutama merupakan pernyataan perang terhadap struktur-struktur yang berkuasa di dunia Arab yang antitubuh dan antiperempuan. Struktur tersebut tanpa ampun dibeberkan dalam buku itu.
Tetapi essai yang ditulis dengan hati yang berteteskan darah dan juga dengan gemuruhnya amarah itu, hampir terkoyakkan oleh dialektik antara pembebasan individu dan tekanan masyarakat: Di satu sisi, dalam bagian-bagian otobiografis, Haddad menulis gambaran seorang perempuan yang tidak mengenal tabu dan mandiri. Di sisi lain ia bersamaan dengan itu mengeluhkan ketidakmampuan untuk melenyapkan tabu.
Di satu sisi Haddad gusar terhadap klise-klise barat. Dan ini memang sepatutnya. Tetapi di sisi lain ia juga harus menyimpulkan bahwa banyak dari hal-hal tersebut benar, dan semua perempuan di dunia Arab menderita karenanya, terutama dia sendiri. Di satu pihak ia benar bila menuntut pencerahan bagi masyarakatnya sendiri, namun di pihak lain ia menolak pandangan mengejek dari luar yang meremehkan orang Arab dan menganggap mereka tanpa harapan lagi dan berpandangan sempit.
Terjebak dalam kancah pertikaian
Dengan begitu Joumana Haddad secara perkasa membiarkan diri terjebak dalam kancah pertikaian. Tanpa berkomplot dengan kritik Islam di barat dan juga tidak dengan Apologetik Arab-Islam. Ini kadang-kadang membingungkan. Namun secara keseluruhan merupakan pandangan menyegarkan tanpa prasangka terhadap tema terkait, apalagi mengingat Haddad terang-terangan menunjukkan sikap percaya diri dan misinya.

Buku karangan Joumana Haddad merupakan genderang perang terhadap struktur sosial Arab yang mendegradasikan tubuh dan perempuan itu sendiri Rasa bangga dari seorang perempuan yang cantik, independen secara finansial, bebas, berpendidikan tinggi, pelanglang buana dan juga modis serta ceria. Kebanggaan ini berayun menelusuri setiap kalimat dan menyusupi buku itu dengan optimisme Yes-we-can.
Optimisme yang tidak memudar meski gambaran masa kecil yang menyedihkan saat perang saudara di Libanon dan meski gambaran kondisi keseluruhan dunia Arab yang mengenaskan. Ini adalah optimisme yang hidup dari kepercayaan yang sangat kokoh terhadap kebebasan individu untuk memilih nasibnya sendiri.
Inilah daya tarik besar esai ini, tetapi juga penunjukan titik batasnya. Karena, bagaimanapun juga Haddad melontarkan kritik pedas terhadap situasi politik di negara Arab, caranya memandang permasalahan tersebut tetap tidak bersifat politis. Sebab, adalah naif bila mengasumsi bahwa pembebasan perempuan Arab tidak ada kaitannya dengan situasi sosial, politik dan terutama dengan keadaan ekonomi.
Di buku ini tidak ada analisa mendalam dari kondisi masyarakat sebagai bingkai cerita. Tapi tentu saja dimaklumi bahwa ini bukan tujuan dari buku tersebut. Karena itu, buku ini selayaknya direkomendasi terutama sebagai essai biografis dari seorang individu yang mempesona. Bila orang ingin membaca buku berisikan resep bagi pembebasan perempuan Arab, maka pesan yang dapat disarikan dan tampaknya telah berhasil pada diri Joumana Hadda, adalah: Bacalah lebih banyak karya dari de Sade!
Stefan Weidner
Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster
Joumana Haddad: Wie ich Scheherezade tötete (Bagaimana Aku Membunuh Scheherezade): pengakuan seorang perempuan Arab yang murka. Diterjemahkan dari Bahasa Inggris oleh Michael Hörmann. Hans Schiler, Verlag, Berlin 2010.
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Wawancara dengan Salwa al-Neimi
Pembebasan Sastra Erotik
Disanjung sebagai terobosan baru dalam sastra Arab modern dan dikecam sebagai karya penuh skanda: Itulah roman berjudul "Honigkuss" (ciuman madu) karya pengarang Suriah Salwa al-Neimi. Dalam wawancara dengan Rim Najmi, ia menjelaskan bahwa di balik gaya sastra yang ringan, karyanya mempertanyakan masalah politik dan intelektual yang mendasar.
Wawancara dengan Claudia Ott
Bab Baru dalam Sejarah Kesusasteraan Arab
Sebuah naskah yang ditulis 800 tahun lalu menyibak harta karun terpendam kesusasteraan Arab. Claudia Ott, orientalis Jerman, baru-baru ini berhasil mengidentifikasi naskah tangan tertua dari kisah „Seratus Satu Malam“. Wawancara oleh Loay Mudhoon
J.W. Goethe dan Dialog Budaya
Pencerahan Budaya Dalam Kata
J.W. Goethe sempat dilupakan dalam ranah dialog antara budaya. Padahal pujangga besar Jerman itu sejak dini telah merintis keterbukaan terhadap dunia timur. Sebuah malam pembacaan dan diskusi karya-karya , Goethe di Indonesia mencoba merenungkan kembali warisannya. Oleh Noni Arni
Wawancara dengan Salwa al-Neimi
Pembebasan Sastra Erotik
Disanjung sebagai terobosan baru dalam sastra Arab modern dan dikecam sebagai karya penuh skanda: Itulah roman berjudul "Honigkuss" (ciuman madu) karya pengarang Suriah Salwa al-Neimi. Dalam wawancara dengan Rim Najmi, ia menjelaskan bahwa di balik gaya sastra yang ringan, karyanya mempertanyakan masalah politik dan intelektual yang mendasar.
Wawancara dengan Claudia Ott
Bab Baru dalam Sejarah Kesusasteraan Arab
Sebuah naskah yang ditulis 800 tahun lalu menyibak harta karun terpendam kesusasteraan Arab. Claudia Ott, orientalis Jerman, baru-baru ini berhasil mengidentifikasi naskah tangan tertua dari kisah „Seratus Satu Malam“. Wawancara oleh Loay Mudhoon
J.W. Goethe dan Dialog Budaya
Pencerahan Budaya Dalam Kata
J.W. Goethe sempat dilupakan dalam ranah dialog antara budaya. Padahal pujangga besar Jerman itu sejak dini telah merintis keterbukaan terhadap dunia timur. Sebuah malam pembacaan dan diskusi karya-karya , Goethe di Indonesia mencoba merenungkan kembali warisannya. Oleh Noni Arni