22.03.2010Wawancara dengan Sastrawan Arab Abdo KhalKelahiran Kesusasteraan Arab di Teluk Persia
Kepada Qantara.de pemenang Booker Prize Arab tahun ini, pengarang Abdo Khal berbicara tentang arti dari penghargaan tinggi bagi bidang kesusasteraan itu bagi wilayah Teluk, dan juga mengenai pembagian kebudayaan Arab di wilayah “pusat” dan “periferi”. Wawancara bersama Loay Mudhoon.
"Pergulatan antara dua dunia: kaum kaya yang dekaden dengan kepahitan si miskin" - Dengan novel "Ia menyebar bunga api" Abdo Khal memenangkan penghargaan Booker Prize Arab tahun ini Novel anda berjudul "Tarmi bi shararin" (Bahasa Arab: "Ia menyebarkan bunga api“) memenangkan Booker Prize Arab di sela-sela pekan buku di Abu Dhabi pada tahun ini. Apa arti anugerah ini bagi anda dan kesusasteraan Arab di wilayah Teluk Persia?
Abdo Khal: Penghargaan ini merupakan tonggak sejarah bagi kesusasteraan di wilayah Teluk yang lama diabaikan oleh negara-negara Arab lainnya. Dalam sektor perbukuan dan kegiatan kesusasteraan Arab banyak pihak yang tidak dapat menghargai khazanah pengalaman orang-orang di Teluk Persia dalam sejarah Arab-Islamnya yang panjang, walaupun mereka cukup lama mengontrol jalan-jalan laut dan punya andil menentukan dalam memperkaya kebudayaan Arab.
Ini berarti bahwa Booker Prize dapat dilihat sebagai semacam „rehabilitasi“ kinerja kesusasteraan di Teluk….
Abdo Khal: Penganugerahan Booker Prize kepada seorang pengarang dari wilayah Teluk tak pelak lagi dapat membantu mematahkan monopol dari yang dalam kebudayaan Arab disebut "pusat". Saya sendiri menilai pembagian yang dibuat-buat bagi kebudayaan Arab dalam "pusat" dan "periferi" itu dalam kaitannya dengan wilayah budaya yang memiliki tradisi kaya, sebagai tidak sepatutnya.
Kreativitas sastra menurut saya, sama sekali tidak berhubungan dengan pembagian budaya secara geografis.
Situasi di wilayah Teluk saat ini sedang memarak dan semakin berkembang menjadi sebuah episentrum globalisasi yang penting. Kenyataan ini juga menunjukkan indikasi agar lebih memperhatikan kinerja orang-orang di wilayah ini.

Dalam bukunya Khal menggambarkan perubahan sosial sebagai dampak pembentukan kerajaan, modernisasi serta pemaksaam faham Wahabisme dalam Islam Untuk membantu pengarang Arab melakukan terobosan, saya bahkan menyarankan memberikan anugerah kepada semua lima pengarang “shortlist”. Namun, dalam hal ini sedianya hadiah berupa uang tidaklah begitu dipentingkan ketimbang pengakuan dan penghargaan bagi karya sastra mereka.
Dalam novel anda berjudul “Ia menyebarkan bunga api”, anda menggambarkan perubahan-perubahan sosial di kota Jeddah tanpa mengindahkan tabu. Novel ini mendapat kritik pedas terutama karena bahasanya yang memprovokasi. Beberapa pengkritik berpendapat, novel anda itu mencemarkan nilai-nilai moral masyarakat? Apakah kritik ini membuat anda kaget?
Abdo Khal: Tidak. Sudah sewajarnya bila sebuah novel yang menyoroti fenomena sosial dan menggambarkan para penguasa tanpa kenal ampun, terutama dalam menelanjangi despotisme dan penyalahgunaan kekuasan, dinilai berbeda. Namun, saya pikir bahwa kritik sastra yang baik menuntut banyak pengalaman dalam bidang itu. Ini perlu agar si pengkritik dapat mengerti jaringan rumit novel itu dengan semua keterkaitan alur-alur cerita dan tokoh-tokohnya.
Sebuah novel biasanya salah dimengerti bila pengkritik hanya mencurahkan perhatiannya pada satu bagian sudut pandang novel dan mengabaikan aspek dan alur-alur cerita lainnya.
Tidak sedikit jumlah pengkritik yang berpendapat, novel anda sangat berhasil karena menggambarkan skandal...
Abdo Khal: Saya tidak habis pikir, mengapa novel saya diciutkan pada aspek skandal dan seksualitas. Memang sebuah novel tidak dapat dipisahkan dari lokasi cerita, terutama bila itu menjadi sebuah simbol yang mengungkapkan moral ganda dari sebuah masyarakat dan mendukung peningkatan ruang-ruang kebebasan.

Pemenang penghargaan Booker Prize Arab tahun ini - Abdo Khal dari Arab Saudi Menurut pendapat saya, setiap novel harus menyentuh segi tiga tabu Arab yang terdiri dari agama, politik dan seksualitas.
Bagaimana sebenarnya anda mengartikan kata “skandal” atau “bias gender”?
Abdo Khal: Ini adalah kritik dalam obrolan kasak kusuk yang tidak saya ikuti. Bila ingin mengkritik, silakan utarakan dengan jelas apakah sebuah alur cerita tertentu penting atau tidak bagi novel tersebut.
Novel anda itu menceritakan hancurnya sebuah kawasan kota di Jeddah, tentang orang-orang yang gagal dan terkucilkan. Apa yang sebenarnya ingin anda kritik melaluinya?
Abdo Khal: Menurut pengertian saya, orang yang terkucilkan adalah semua orang dalam sebuah masyarakat yang tidak mampu membuat orang lain memperhatikannya. Novel saya “Ia menyebarkan bunga api” adalah pembahasan dua dunia, yakni kekayaan yang dekaden dan kemiskinan yang mendalam.
Novel ini menggambarkan kedua dunia itu dengan semua nuansanya. Dalam novel ini setiap orang dapat membaca yang diinginkannya, apakah itu keindahan sastra atau bagian dari aspek yang mengandung skandal.
Wawancara bersama Loay Mudhoon
Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster
© Qantara.de 2010
Abdo Khal dilahirkan tahun 1962 di Jizan, sebelah barat daya Arab Saudi. Ia mengenyam studi Ilmu Politik di University of King Abdulaziz di Jeddah. Sejak awal 1980-an Khal bekerja bagi sejumlah harian Arab Saudi. Saat ini ia memimpin bagian budaya harian “Ukaz” dan merupakan salah seorang penerbit majalah “Ar Rawi”.
Dalam cerita-cerita pendek dan novelnya, Khal dengan beraninya menyentuh unsur-unsur sosial yang tidak dikenal masyarakat Arab Saudi. Dengan gamblang ia menggambarkan perubahan-perubahan dalam hubungan antarmanusia akibat dibentuknya kerajaan, modernisasi yang berjalan pesat, kemajuan ekonomi dan aliran Islam Wahabi yang dipaksakan.
Qantara.de
Wawancara dengan Ulrich Schreiber
Literatur sebagai Motor Penggerak Dialog
Menurut Ulrich Schreiber, direktur Festival Kesusasteraan Internasional di Berlin, festival tahun ini ingin mencatat peristiwa bersejarah dalam komunikasi sastra antara Eropa dan wilayah Arab. Mohamed Massad menyempatkan berbincang dengannya di sela-sela festival.
Puisi dari Guantanamo
"Apa Kamu Akan Pernah Berjihad Lagi?!"
Buku berjudul "Poems from Guantanamo" atau puisi dari Guantanamo adalah sebuah fenomena. Dari ribuan puisi karya tahanan, hanya 22 yang berhasil lewat sensor AS. Sebuah pemahaman mendalam tentang puisi modern dari jantung konservatif Islam.
Sulaiman Addonia dan The Consequences of Love.
Kerinduan Romantis di Balik Cadar Hitam
Tahun 1980an Sulaiman Addonia hidup dan berkuliah di Arab Saudi. Kini ia menulis roman tentang "cinta yang dilarang". Lokasi cerita adalah kota pelabuhan Jeddah. Rasha Khayat bertemu dengan sang penulis di Hamburg
Wawancara dengan Ulrich Schreiber
Literatur sebagai Motor Penggerak Dialog
Menurut Ulrich Schreiber, direktur Festival Kesusasteraan Internasional di Berlin, festival tahun ini ingin mencatat peristiwa bersejarah dalam komunikasi sastra antara Eropa dan wilayah Arab. Mohamed Massad menyempatkan berbincang dengannya di sela-sela festival.
Puisi dari Guantanamo
"Apa Kamu Akan Pernah Berjihad Lagi?!"
Buku berjudul "Poems from Guantanamo" atau puisi dari Guantanamo adalah sebuah fenomena. Dari ribuan puisi karya tahanan, hanya 22 yang berhasil lewat sensor AS. Sebuah pemahaman mendalam tentang puisi modern dari jantung konservatif Islam.
Sulaiman Addonia dan The Consequences of Love.
Kerinduan Romantis di Balik Cadar Hitam
Tahun 1980an Sulaiman Addonia hidup dan berkuliah di Arab Saudi. Kini ia menulis roman tentang "cinta yang dilarang". Lokasi cerita adalah kota pelabuhan Jeddah. Rasha Khayat bertemu dengan sang penulis di Hamburg