05.01.2010Album "Siwan" karya John Blake dan Amina AlaouiJiwa Bebas dari Andalus

Kebalikan dari Eropa pada abad pertengahan, seni muslim di Spanyol relatif bebas. Kini, album "Siwan" merayakan musik dan jiwa Al Andalus, memamerkan bahwa peradaban Islam merupakan salah satu pilar utama budaya Barat, seperti yang dicatat Richard Marcus.

Sampul depan 'Siwan' oleh John Balke dan Amina Alaoui (Foto: ECM)
Jaringan keterhubungan antara filsafah, sejarah dan sastra: John Balke dan Amina Alaoui menciptakan lyrik yang bersumber pada gabungan sastra Andalus dan mistik Kristen
Persepsi umum yang sebagian besar kita miliki tentang sejarah Eropa mulai dari runtuhnya kerajaan Romawi hingga abad ke-15 adalah istilah yang sejak lama dikenal sebagai 'abad kegelapan'. Dalam sejarah kita, masa ini digambarkan dengan penyebaran wabah hitam, kebodohan dan takhayul.

Baru ketika tiba keajaiban Renaissance, yang berarti kelahiran kembali, bangsa Eropa mulai menarik diri keluar dari lumpur dan mulai menciptakan karya seni yang indah, memperbarui budaya Eropa dan menemukan kembali ajaran-ajaran filsafat zaman antik. Dengan membaca deskripsi umum mengenai sejarah zaman ini kita mendapatkan kesan bahwa kebangkitan itu ibaratnya bersifat spontan. Pada suatu pagi orang-orang bangun dan memandang dunia secara berbeda.

Kenyataannya adalah pengetahuan mengenai filsafat antik tidak pernah pudar dan tidak seluruh Eropa abad pertengahan terseret ke dalam kebodohan. Di Al Andalus, wilayah Spanyol yang di bawah pemerintahan muslim hingga tahun 1492, kesenian dan apa yang disebut sebagai 'pengetahuan yang hilang' hidup dan berkiprah.

Semua mulai dari konsep nol matematika, konsep filsafat diri -dibakar pada tiang di seluruh Eropa Kristen- hingga seni rupa dan musik, tumbuh di Cordoba dan lainnya di kawasan.

Muslim, Kristen dan Yahudi Sefardi tinggal dalam keharmonisan relatif dan terdapat pertukaran ide secara bebas dan pembelajaran antara para cendikiawan tiga agama. Dari sinilah pengetahuan pengetahuan memicu lahirnya apa yang disebut sebagai Renaissance dan menyebar ke Italia, Perancis, dan seluruh Eropa.

Sebagian besar warisan budaya ini hilang ketika inkuisisi Spanyol 'membersihkan' kawasan dari kaum bid'ah dan kafir dengan memaksa muslim dan yahudi untuk pindah agama atau pergi. Mereka yang tidak melakukannya akan dibakar. Meski, sebagian besar puisi agung dan warisan musik berhasil diselamatkan dan diwariskan.

Musik inilah yang membentuk landasan bagi album yang diluncurkan oleh ECM Records di bawah bimbingan pianis Norwegia Jon Balke.

Koleksi "Seimbang" Musik Harta Karun

Siwan, judul album tersebut, merupakan kata yang berarti 'keseimbangan' dalam bahasa Aljamiado, bahasa hibrida Romawi-Arab yang dipakai pada abad pertengahan di Andalusia. Album ini berisi sebelas lagi, sembilan di antaranya menampilkan karya penyair besar Al Andalus yang terinspirasi musik saat itu.

John Balke dan Amina Alaoui (Foto: ECM)
Transbudaya: John Balke dan Amina Alaoui mencoba mengeksplorasi batas toleransi dan jiwa kreatif Andalusia di abad pertengahan.
Lagu "tertua", "Thulathiyat", ditulis oleh Sufi mistis Husayn Mansour Al Hallaj yang hidup pada tahun 857–922 Masehi, sementara "A la dina dana" karya Lope de Vega menampilkan bagaimana pengaruh-pengaruh era Andalus terus hidup setelah penaklukan ulang. De Vega hidup antara tahun 1562 hingga 1635 dan dianggap sebagai salah satu orang penting dalam masa keemasaan sastra Spanyol dan menyumbangkan karya teater dan prosanya.

Buklet yang mendampingi CD ini tidak hanya menjelaskan sejarah setiap lagi dan penyair yang menulisnya, namun juga syairnya dalam bahasa yang digunakan untuk menyanyi, Spanyol atau Arab, dan terjemahannya dalam bahasa Inggris.

Jon Balke memiliki latar belakang kuat dalam jazz dan musik dunia, serta banyak lainnya termasuk komposisi teater, tari, dan orkestra kamar. Tiga musisi utama lainnya, vokalis Amina Alaoui, pemain trompet Jon Hassel, dan pemain biola Kheir Eddine M'Kachiche, memiliki banyak pengalaman dan bakat yang sesuai.

Alaoui dan M'Kachiche berasal dari Maroko dan Aljazair.Sejak lama keduanya memiliki latar belakang mengenai sejarah dan memainkan musik Al Andalus. Pengalaman musikal Jon Hassel didapatkan dari mempelajari komposisi Eropa hingga India dan dia telah menciptakan apa yang disebutkan sebagai musik "dunia keempat" – music lintas batas negara yang memadukan elemen klasik, pop, sekuler dan suci dari seluruh dunia.

Keempat musisi utama ini berperan sebagai penghubung, dan musisi lain yang diambil dari latar belakang tradisi dan budaya mulai dari Persia tradisional hingga musik masa awal Eropa seperti Barock dan Renaissance, semuanya yang terlibat memiliki pengalaman musik yang dipengaruhi oleh apa yang dilahirkan di Semenanjung Iberia.

Ketukan Memori Musik

Adapun musik itu sendiri, sulit ditemukan kata yang menggambarkannya. Jika Anda kenal musik dari Afrika utara, Spanyol. Persia (Iran modern), atau Eropa Renaissance, maka Anda dapat mengenali elemen-elemen dalam tiap lagu, yang dinyanyikan dalam bahasa apa pun. Sebenarnya, ada beberapa saat ketika mendengarkan berbagai lagu, Anda yakin Anda pernah mendengar lagu itu sebelum sebagai pola yang pernah Anda dengar dalam konteks lain yang melekat dalam ingatan.

Museum di Cordoba, Spanyol (Foto: Wikipedia)
La Mezquita atau Mesjid Cordoba yang dibangun antara 784 hingga 987 dan kini menjadi museum adalah simbol keragaman budaya di Andalusia.
Kendati, dari semua komposisi diciptakan khusus untuk album ini. Apa yang telah dilakukan oleh Balke dan rekan-rekan musisinya adalah menyusun musik yang mencerminkan kedalaman dan lebarnya pengaruh Spanyol muslim pada kita saat ini.

Ini menunjukkan, tidak peduli apa argumen orang yang ingin kita percaya, bahwa peradaban Islam merupakan salah satu pilar utama budaya barat, sebagai filsafat dan pemikiran yang masuk melalui kreasi musik dari Al Andalus terus memperdengarkan kord pengakuan pada kita saat ini.

Salah seorang bakat besar Siwan, selain dari keindahan musiknya, adalah nyanyian Amina Alaoui. Semua musisi memainkan bagiannya dengan indah, dalam sembilan lagu album itu, suaranyalah yang membawa syair hidup atau mati. Semakin saya mendengarkan vokalis perempuan dari budaya selain pop Amerika utara atau opera Eropa, semakin saya menyadari mengapa saya selalu merasa ada yang kurang dalam musik ini. Tidak ada yang dipaksa atau dikontrol dalam suara Alaoui seperti sebelumnya.

Sementara saya selalu dapat mengagumi kekuatan teknik vokal opera, kurangnya kehangatan manusia yang ada di dalamnya membuat saya tidak tersentuh. Vokal Alaoui dalam setiap bagiannya sangat mahir secara teknis dari siapapun yang saya dengar menyanyikan opera. Alaoui memiliki kesan kemanusiaan yang tidak ada pada mereka.

Suaranya yang kaya seperti beledu, juga memelihara kementahan emosi manusia yang membawa kita mengidentifikasi lagunya walau pun kita mungkin tidak mengerti bahasa yang dinyanyikan Alaoui.

Pengakuan Misterius

Carl Jung berbicara mengenai ide 'ketidaksadaran kolektif', di mana kita 'mengingat' hal-hal yang terjadi ribuan tahun lalu, yang muncul dalam mimpi kita. Sementara sebagian orang, menurut Jung, dibentuk oleh faktor-faktor pembentukan penting seperti agama dan bahasa, sebagian lagi berbagi kesamaan dengan seluruh manusia.

Dalam beberapa segi, musik Siwan merupakan bagian dari 'ketidaksadaran kolektif' ketika Anda mengenalinya tanpa benar-benar tahu mengenai setiap lagu dalam album itu

Namun, apa yang penting adalah musik dalam album ini dinyanyikan dan dimainkan sangat indah. Tidak peduli apa yang Anda tahu dan tidak tahu mengenai sejarah, atau bahkan apakah Anda peduli dengan rujukan budaya. Mendengarkan album ini merupakan pengalaman yang melebihi dari pertimbangan apa pun, membuktikan sekali lagi bahwa apapun yang dipikirkan atau diperbuat seseorang, karya seni besar memang eksis dalam dunianya sendiri.

Richard Marcus

Alih bahasa oleh Luky Setyarini

© Qantara.de 2009

Richard Marcus bekerja sebagai editor di Majalah 'Epic India', majalah seni dan budaya online, berfokus pada Asia Tenggara dan India, dan sebagai editor lepas untuk situs budaya pop Blogcritics.org. Karyanya dimuat di berbagai media termasuk Majalah Rolling Stone edisi bahasa Jerman dan The Bangladesh Star.