01.12.2009Asra Nomani mengenai "Jihad Jender"Jihad demi Hak Perempuan

Asra Nomani, penulis perempuan Amerika Serikat yang berusia 44 tahun dianggap sebagai tokoh "Jihad Jender". Bagi bekas reporter Wallstreet Journal itu tidak ada pertentangan antara Islam dan feminisme. Alfred Hackensberger berbincang dengannya.

Asra Nomani (Foto: DW)
"Perempuan tidak harus menjadi kaleng pengawet bagi kehormatan dan kemurnian. Mereka tidak boleh dihukum karena alasan seksualitas dengan menempatkan mereka di kamar belakang dan sudut-sudut masjid. Ini semuanya adalah mekanisme kekuasaan untuk dapat memperlakukan kami sebagai warga kelas dua."
Di negara-negara barat dan juga di masyarakat-masyarakat muslim, feminisme kebanyakan dilihat sebagai dua isu yang berlawanan. Kenapa hal itu bertentangan?

Asra Nomani: Benar, ini selalu saya dengar dalam ceramah-ceramah saya. Tetapi bagi saya keduanya berjalan seiring. Saya pikir, Islam awalnya merupakan sebuah agama yang feminis. Nabi Muhammad adalah seorang feminis, sama seperti isteri pertamanya Khadija, putrinya Fatima dan juga isterinya Aisha. Mereka semuanya tidak mau dikepinggirkan dan mereka membuka mulut. Saya tidak berpendapat bahwa feminisme Islam merupakan kontradiksi yang semu.

Dan di mana-mana di dunia ini saya bertemu dengan feminis religius lainnya: feminis Mormon, Katolik, Maronit, Yahudi Ortodoks, atau Protestan. Menurut pengalaman saya, para perempuan di Islam berjuang menghadapi kekuasaan pria dengan dinamik yang sama seperti di agama-agama lain.

Ketika saya menyinggung nama anda dalam sebuah pembicaraan dengan seorang rekan, ia mengatakan: Oh, jender jihad. Bagaimana rasanya dianggap sebagai pengusung pengertian tersebut?

Nomani: Nyaman sekali. Ini harus saya akui. Saya sangat bangga dapat menjadi serdadu yang memperjuangkan hal itu.

Apa yang diperjuangkan serdadu ini?

Nomani: Berjuang bagi hak-hak perempuan dan bersamaan dengan itu bagi keadilan sosial. Para perempuan tidak harus menjadi kaleng pengawet bagi kehormatan dan kemurnian. Mereka tidak boleh dihukum karena alasan seksualitas dengan menempatkan mereka di kamar-kamar belakang dan sudut-sudut masjid.

Orang tidak boleh melarang mereka berbicara, hanya karena mereka menggoda pria. Ini semuanya adalah mekanisme kekuasaan untuk dapat memperlakukan kami sebagai warga kelas dua.

Dan bagaimana dengan upaya menutup aurat perempuan?

Nomani: Bila wajah perempuan ditutup, maka sifat kemanusiaannya menghilang. Sebuah bagian dari jender jihad yang sangat penting adalah membuka cadar, karena dengan membukanya kami ingin menghilangkan ketidakpedulian dan ketidaktahuan.

Dalam hal ini anda mendapat dukungan dari salah seorang ulama Sunni Islam tertinggi. Mohammed Sayed al-Tantawi, syeikh besar dari Universitas Al-Azhar menyebut nijab sebagai tidak Islam dan menuntut agar penggunaannya dilarang di universitas di Kairo tersebut.

Nomani: Betul, bagi kami sangatlah penting bila Universitas Al-Azhar mengambil alih peranan memimpin. Kami membutuhkan pemimpin-pemimpin Islam mainstream. Sudah waktunya untuk membawa akal budi ke dalam agama. Saya benar-benar gembira, al-Tantawi mengkonfrontasi sebuah ideologi yang betul-betul menakutkan.

Muhammad Sayyid Al-Tantawi (Foto: AP)
Dengan tuntutannya yang melarang penggunaan penutup wajah (niqab) di lingkungan universitas Al-Azhar, Muhammad Sayyid Al Tantawi telah memicu perdebatan panas mengenai pakaian perempuan
Apa salahnya jika seorang ingin menggunakan cadar, meskipun itu misalnya hanya terbuka sedikit untuk bagian mata saja?

Nomani: Inilah dia. Sikap tepat secara politis dunia barat yang memaafkan nijab sebagai sebuah keputusan secara suka rela dari seorang perempuan. Di sini orang lupa bahwa nijab adalah sebuah simbol bagi interpretasi Islam yang sangat puritan dan berbahaya.

Dengan berdalihkan menurut tafsiran Qur’an, kekerasan terhadap perempuan dan serangan bunuh diri digunakan. Juga dianjurkan untuk sedapat mungkin tidak berteman dengan orang Yahudi atau Kristen.

Kita harus ingat bahwa di gereja-gereja juga tidak diizinkan berkhotbah mengelukan rasisme. Islam harus diukur dengan standar yang sama. Anggota kelompok radikal kanan Ku-Klux-Clan juga tidak dapat mengikuti ujian untuk mendapatkan SIM bila menutupi kepalanya.

Mungkin banyak muslimah sekarang kaget mendengar yang anda katakan. Mereka bangga mengenakan nijab atau hijab.

Nomani: Interpretasi Islam yang puritan melihat pemakaian nijab dan hijab sebagai keputusan secara suka rela. Perempuan muda Amerika Serikat menganggap bahwa mereka kuat dan independen jika mereka menutupi rambut dan wajahnya.

Di sini tidak diperhatikan bahwa penampilan begitu menggambarkan seksualisasi perempuan dan menudingnya sebagai sumber kejahatan yang konon dapat mengalihkan perhatian pria dari jalan yang sebenarnya.

Saya sudah berulang kali mendengar dari kaum muslimah bahwa menutup tubuh seperti itu berfungsi sebagai semacam pelindung dari upaya pendekatan seksual kaum pria.

Nomani: Sebuah penelitian di Pusat bagi Hak-hak Perempuan di Mesir tahun 2008 menunjukkan bahwa perempuan dengan busana Islam paling sering mengalami pelecehan seksual. Saya sendiri pernah mengalaminya ketika saya di India Utara, di sebuah wilayah muslim yang paling konservatif. Hijab tidak melindungi saya dari pelecehan seksual. Ini adalah mitos yang digembar-gemborkan, dan perempuan tertipu oleh mitos itu.

Al-Tantawi menegaskan, nijab adalah tradisi semata dan sama sekali tidak berhubungan dengan Islam. Bagaimana nijab memasuki Islam?

Nomani: Saya berikan anda sebuah contoh bagaimana itu terjadi. Ada terjemahan-terjemahan Qur’an dari Arab Saudi. Bagian-bagian mengenai nijab disisipkan begitu saja ke dalamnya, lalu dipropagandakan sebagai sesuatu yang Islam. Sama halnya dengan hijab yang pemakaiannya diwajibkan, meskipun semua itu hanya berdasarkan interpretasi belaka.

Apa yang dikatakan Qur’an mengenai pakaian perempuan? Apakah ada peraturan mengenai apa yang harus dikenakan perempuan?

Nomani: Tidak ada kewajiban untuk menutup wajah atau pun rambut. Sama sekali tidak tercantum mengenai syal, tutup kepala atau cadar, tidak ada ketentuan mengenai suatu warna apa pun, apakah itu pink atau hitam.

Juga tidak ada tercantum bahwa tangan harus ditutup dan hanya mata yang boleh mereka perlihatkan. Itu semuanya hanyalah peraturan dari laki-laki. Menurut interpretasi yang saya anggap benar, seorang perempuan hanya harus memilih pakaian yang pantas.

Sampul buku 'Standing Alone' karya Asra Nomani (Foto: Penerbit)
Dalam bukunya "Standing Alone - an American Woman's Struggle for the Soul of Islam", Asra Nomani diantaranya menggambarkan kisah perjalanan haji-nya ke Mekkah dan Madinah
Anda mengatakan bahwa semuanya sangat berbeda dalam Qur’an edisi Arab Saudi yang pada dasawarsa lalu melancarkan kampanye misionaris di masjid-masjid di seluruh dunia.

Nomani: Betul, sebagai seorang muslimah saya merasa sangat khawatir. Pemerintah Arab Saudi secara internasional dapat melancarkan propaganda dari sebuah bentuk Islam yang kaku, tidak dapat diganggu gugat serta monolitik dan tanpa adanya pengawasan.

Sebagai negeri dari tempat-tempat suci Islam, Arab Saudi menerbitkan terjemahan-terjemahan Qur’an dan membaginya kepada jutaan umat muslim yang datang ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Terjemahan-terjemahan itu bias jender dan tidak menunjukkan toleransi.

Saya berulang kali menerima terjemahan Qur’an yang menganjurkan agar saya tidak berteman dengan seorang Yahudi atau Kristen dan agar menutup wajah saya kecuali sebuah mata yang diizinkan kelihatan.Sebuah jalan melalui masjid-majid yang didirikan di berbagai pelosok dunia.

Jadi, Arab Saudi bertanggung jawab atas Islam yang kaku. Orang nyaris dapat mengatakan bahwa ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan, bila mengingat perang melawan teror dan meningkatnya harga minyak yang membuat Arab Saudi lebih kaya daripada sebelumnya.

Nomani: Kita dapat melihatnya begitu. Dan mengapa kita tidak meminta pertanggungan jawab pemerintah Arab Saudi atas dukungannya dalam lahirnya ideologi yang berbahaya ini.

Ideologi itu awalnya diekspor ke Pakistan yang kini merupakan surga bagi kelompok militan Islam berhaluan keras. Kemudian jemaat-jemaat wakilnya didirikan di seluruh dunia. Saya tidak sedang berbicara tentang desa-desa tertentu di Pakistan, melainkan tentang kota kelahiran saya, Morgantown di West-Virginia.

Bagaimana itu terjadi?

Nomani: Mereka mengambil alih masjid-masjid serta mengajarkan ideologi Wahhabi dan Salafi. Dan semua umatnya harus mengikuti ajaran itu. Ini berjalan dengan sangat baik. Para pria memelihara janggut dengan ukuran panjang tertentu. Jika tidak begitu mereka dianggap bukan umat muslim yang sesungguhnya. Dan kaum perempuan menggunakan cadar.

Tetapi bukankan ini berarti ada kebutuhan untuk itu? Propaganda saja tentu tidak cukup. Apakah ini menyangkut perasaan kebersamaan, semacam mode supaya menjadi "cool"?

Nomani: Sudah tentu ada kebutuhan untuk itu. Orang dikatakan "cool" bila mempraktikkan kepercayaan yang berada di luar interpretasi barat. Jadi, para perempuan muda dapat berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang memberontak bila mereka mengenakan hijab.

Semacam fashion bagi gerakan protes dalam skala luas?

Nomani:Menurut pendapat saya, agama di sini merupakan industri barang konsumtif. Menjual ide konservatif maupun liberal dalam lingkungan Islam adalah sebuah bisnis. Dalam sektor ini terdapat industri mode, misalnya: sebuah abaya (pakaian tradisional Arab yang menyerupai sebuah mantel) di sebuah butik di sebuah negara Teluk harganya 10.000 dollar, pakaian untuk ibadah haji atau pakaian renang Islam moderat dapat dibeli di internet.

Dalam sektor liberal misalnya, ada t-shirt atau baju kaos dengan tulisan seperti: "Begini tampang seorang muslim radikal." Saya berulang kali terheran-heran melihat apa dan bagaimana orang menjual sesuatu sebagai produk yang Islam.

Model dalam 'Islamic Fashion Festival' di Malaysia (Foto: AP)
"Islamic Fashion Festival" di Malaysia menampilkan mode terbaru bagi kaum perempuan muslim yang ingin mengkombinasikan jilbab dengan busana modern dan bewarna warni
Saat ini ada musik Islam. Yang lucu dan yang saya lihat baru-baru ini adalah pakaian dalam Islam. Sebuah celana dalam G-String yang di belakangnya ditulis bismillah (atas nama Allah).

Apakah itu gerakan atau mode, suatu saat semuanya akan berakhir. Berapa lama lagi ini masih akan berlangsung?

Nomani: Saya kira, Islam yang hendak memaksa perempuan mengenakan cadar atau jilbab akan berakhir dalam 20 tahun ke depan. Mohammed Sayed al-Tantawi adalah salah seorang pemimpin pertama yang secara tidak langsung mengatakan, sekarang sudah cukup. Ini merupakan sebuah tren yang baik.

Jadi, perempuan muslim masih harus menderita selama itu?

Nomani: Itu pasti untuk beberapa saat. Namun harus ditekankan bahwa tidak hanya perempuan yang di sini menderita, tetapi juga kaum pria. Kaum pria dalam kelompok Taliban harus memiliki penampilan, cara berpikir dan sikap tertentu. Jika tidak, mereka dianggap bukan orang muslim sebenarnya. Mekanisme pengawasan tidak hanya terhenti pada kaum perempuan saja, melainkan menyebar ke mana-mana.

Taliban secara bertahap menggusur perempuan dari kehidupan umum. Kontrol religius kemudian berujung dengan menghancurkan patung Buddha. Apakah menurut anda, Tantawi juga mengingat hal itu?

Nomani: Saya kira, ia melihat masalah itu. Tidak hanya isu yang menyangkut cadar perempuan. Suatu saat ia sendiri mungkin saja akan menjadi target, karena intepretasi Islamnya lain. Isu ini tidak hanya merupakan ancaman bagi kaum perempuan, tetapi juga untuk kita semua.

Alfred Hackensberger

Alih Bahasa oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2009