30.04.2010Memoar Musisi Pakistan, Salman AhmadJihad Rock & Roll

Seorang bintang Rock Pakistan menggambarkan perjalanannya mempertemukan dua dunia melalui musik dalam sebuah memoar. Salman Ahmad menyebut karirnya di dunia musik sebagai jihad melawan keterbelakangan. Oleh Naazish YarKhan


Salman Ahmad (Foto: www.junoon.com)
Salman Ahmad mungkin merupakan bintang rock pertama yang mencoba mendekatkan dua musuh yang bertetangga, India dan Pakistan serta Barat dan Islam.
Memoar bintang rok Pakistan-Amerika Salman Ahmad, Rock & Roll Jihad: A Muslim Rock Star’s Revolution, yang terbit baru-baru ini, mencerminkan kehangatan spiritual dan iman kuat sang pengarang pada Tuhan. “Kita hanya bisa bangun setiap hari, pergi keluar dan membajak ladang, berbekal kesadaran akan Tuhan, dan wawasan jernih mengenai tujuan hidup kita masing-masing,” tulisnya.

Ahmad, yang diantara fans-nya adalah penyanyi grup pop U2, Bono dan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, merupakan bintang rock pertama yang menggunakan musik untuk membangun jembatan titik temu antara dua tetangga yang lama bermusuhan, India dan Pakistan, dan antara Barat dan dunia Muslim, dengan menunjukkan audiens Barat sisi berbeda dari Islam melalui musik.

Rock & Roll Jihad mengisahkan perjalanan Ahmad dari asal mula minatnya akan musik rock hingga ketenarannya sebagai pendiri grup band terkenal Asia Selatan, Junoon, dan cita-citanya menciptakan perdamaian dunia. Judul memoarnya secara tepat menyertakan istilah 'jihad', yang dalam Islam lebih mengacu pada upaya pencarian jati diri, tapi umumnya diasosiasikan di Barat dengan kekerasan. Jihad pribadi Ahmad adalah menjembatani kesenjangan global dan memainkan musiknya dengan bebas.

Musik sebagai metode pendekatan

Ahmad dengan lugas menangkap kepedihan sebagai anak imigran di Amerika Serikat dan dalam perjalanannya sebagai musisi yang berdedikasi untuk perdamaian dan kesalingmengertian antar agama, dalam konteks apa yang melanda Pakistan: korupsi, “kemiskinan ekstrem, keputusasaan ekstrem, dan ketidakadilan ekstrem.”

Pekerjaan ayahnya membuat keluarganya pindah dari Lahore ke New York, di mana Ahmad menghabiskan tahun-tahun sekolah menengahnya. Di titik ini, hidupnya adalah tentang berjuang menyesuaikan diri, belajar bermain gitar, mencari inspirasi dari grup-grup musik seperti Led Zeppelin dan Beatles, dan bermimpi menjadi bintang rock.

Karir sang ayah membawa keluarga kembali ke Pakistan di mana Ahmad menyerah pada desakan orangtua dan memutuskan masuk sekolah kedokteran.

Meski belajar menjadi seorang dokter, Ahmad tak pernah mengubur mimpi sejatinya: menampilkan gaya musik roknya ke audiens baru di Asia Selatan dan luar kawasan. Memoar ini amat layak dibaca – khususnya bagi pemuda yang terperangkap di antara dua dunia, di mana mereka mengangkangi dua budaya atau terjebak di antara mimpi pribadi dan harapan orangtua.

Kritik sosial berujung pencekalan

Meskipun Ahmad lulus sekolah kedokteran, ia tidak ingin melanjutkan berpraktik. Ia merintis klub gitar keliling yang bertemu di ruang-ruang privat di Lahore. Di sanalah para musisi memadukan puisi-puisi cinta Urdu dengan sintesiser Casio, tabla (alat musik seperti drum) dengan gitar elektronik dan raga (melodi India klasik berdasarkan lima nada atau lebih) dengan power chord, yang akhirnya berkembang menjadi grup band Junoon.

Memoar Jihad Rock & Roll oleh Salman Ahmad (Foto: Free Press)
Buku Jihad Rock and Roll menawarkan sedikit gambaran mengenai seorang Pakistan yang memilih hidup bebas dan jauh dari nilai-nilai yang telah mapan di masyarakat.
Ahmad juga menggambarkan perjuangannya untuk mengungkapkan romansa sejarah Pakistan melalui seni dan musik untuk menghadapi kaum konservatif yang marah, dan para diktator yang menindas, yang ingin membuat Pakistan suram. Ia mengkritik para politisi atas korupsi mereka, yang akhirnya berbuntut pada pencekalan musiknya di radio dan televisi. Sementara itu, orang-orang fanatik agama menyerangnya lantaran dianggap memberi pengaruh negatif.

Tapi bagi sebagian besar orang Pakistan, musik adalah bagian integral hidup mereka, dan brand musik Ahmad telah menjadi “jembatan pelangi”, yang menghubungkan mereka dengan seluruh dunia.

Meski ada masalah yang Ahmad hadapi lantaran tentangan dari kaum konservatif dan politisi di negaranya, ia justru meroket ke puncak tangga musik di sana, dengan membawakan musik rock dan pop Pakistan bergaya-Barat pada remaja-remaja Pakistan.

Junoon dalam waktu singkat menjadi U2-nya Asia, grup rock bergaya Sufi yang melintasi batas-batas dan membukukan penjualan 30 juta album. Lirik lagunya, "Ab Tu Jaag", yang berarti “bangkitlah sekarang”, adalah seruan aksi bagi semua orang untuk memperbaiki lingkungan mereka: “Awake traveler, move on, Trailing its star, the night is gone, Do what you have to, today, You will never be back this way, Companions are calling. Let's go, Awake traveller, move on.” [“Bangkitlah musafir, bergeraklah, malam telah berlalu mengikuti jejak bintang, Kerjakan apa yang harus kau kerjakan, hari ini, (maka) Kamu tak akan bernasib sama lagi, Teman-teman memanggil(mu). Ayo jalan, Bangkitlah musafir, bergeraklah”].

Tak ada yang bisa menghentikan Ahmad menjadi bintang. Ia terus melakukan tur dengan grup bandnya, mengajar dan keliling dunia sebagai Duta Besar Muhibah UNAIDS. Pelajaran-pelajaran yang telah ia petik sebagai musisi yang membangun jembatan titik temu, entah di Asia Selatan atau antara dunia Muslim dan Barat, kini ia bagi ke pembaca di Rock & Roll Jihad.

Naazish YarKhan

Redaksi: Rizki Nugraha/Qantara.de

© Common Ground News 2010