29.01.2011Pemberontakan Sipil di MesirHari Kemurkaan
Dengan kepulangan al-Baradei, aksi protes masal serta pemberangusan media dan internet oleh rejim penguasa, situasi di Mesir mendekati titik didih. Harian Mesir, Al-Masri Al-Youm memaparkan dimensi pemberontakan sipil yang dimulai 25 Januari lalu.
"Gelombang besar generasi muda di Mesir itu datang untuk menuntut sebuah perubahan. Dan kehadiran mereka muncul dalam dimensi yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya baik oleh pemerintah maupun para pengamat politik", tulis harian Al-Masry al-Youm. Aksi demonstrasi yang membara di Mesir sejak 25 Januari lalu dapat menjadi momentum bersejarah buat kelompok oposisi yang selama ini lemah dan terisolir. Lautan manusia membanjiri jalan-jalan utama di kota-kota besar pada apa yang disebut sebagai „hari kemurkaan“, di beberapa tempat aksi protes bahkan berlangsung sampai selepas tengah malam.
Jumlah warga yang mengikuti jalannya demonstrasi, setidaknya dalam kasus Mesir, relatif sangat tinggi. Peristiwa ini menandai coretan baru dalam sejarah perjuangan rakyat di sepanjang tiga dekade kekuasaan Mubarak di
Mesir.
Tergulingnya kekuasaan Ben Ali di Tunisia membangunkan mimpi lama warga Mesir, bahwa pemberontakan sipil masih dapat menciptakan perubahan dan memaksa negara untuk mendengarkan suara mereka.
Di Kairo para demonstran menyebar dalam kelompok- kelompok kecil ke berbagai sudut kota untuk mengajak warga yang lain agar turun ke jaran, sekaligus menghindari blokade oleh aparat kepolisian. Mereka kemudian membanjiri Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo dengan jumlah yang semakin membengkak.
Aksi unjuk rasa terbesar di era Mubarak itu tidak cuma dihadiri poltikus oposisi atau bintang film terkenal atau sastrawan, namun juga buruh atau bahkan juga keluarga dengan anak-anak.
Muda dan non-sektarian
Tapi di atas itu semua adalah kaum muda pemberani dan antusias yang mendominasi aksi demonstrasi di Mesir. Ini adalah perlawanan mereka. Dididik dan dibesarkan di era internet, kebanyakan berasal dari kelas menengah dan diliputi amarah terhadap rejim yang selama ini menelantarkan mereka dan jarang mampu menawarkan prespektif yang menjanjikan.

Ribuan penduduk di Kairo, Alexandria dan Suez turun ke jalan menuntut mundurnya Presiden Housni Mubarak dan pembentukan pemerintah baru di Mesir. Gelombang besar generasi muda di Mesir itu datang untuk menuntut sebuah perubahan. Dan kehadiran mereka muncul dalam dimensi yang tidak pernah bisa dibayangkan sebelumnya baik oleh pemerintah maupun para pengamat politik.
Bertentangan dengan pemberitaan media-media barat dan banyak pengamat lokal di barisan oposisi Arab yang cendrung mencurigai gerakan di Mesir mengacu pada diskursi Islamis yang menyasar kekerasan dan penindasan, tuntutan yang termanifestasi dalam aksi tersebut bersifat universal dan non-sektarian.
Nyatanya tidak satupun slogan-slogan kelompok Islamis dikumandangkan di lapangan Tahrir di Kairo hari itu, tidak sehelai pun plakat dengan simbol agama ditempelkan. Satu-satunya selebaran yang dibagi-bagikan adalah tuntan pembentukan pemerintahan baru.
Sesaat menjelang tengah malam, ketika aparat dengan brutal berupaya mengusir para demonstran dari pusat kota, tanpa dikomando mereka menyanyikan lirik yang sama di sepanjang jalan, „Rakyat akan menjatuhkan rejim penguasa!“
Blokade media dan internet
Jawaban yang dipilh rejim di Kairo terhadap para demonstran saat itu brutal dan licik. Apa yang diawali dengan penarikan mundur aparat kepolisian, berakhir dengan hujan peluru karet dan gas air mata pada tengah malam, yang mengakibatkan jatuhnya korban luka dan penangkapan besar-besaran oleh aparat.

Bekas Direktur IAEA, Mohammed el-Baradei yang di kampung halamannya menjadi tumpuan kelompok oposisi, ikut serta dalam aksi demonstrasi, namun ia segera ditangkap oleh aparat keamanan. Kini aparat keamanan di Mesir mencoba taktik lain. Mereka memberlakukan larangan berkomunikasi dengan memblokir akses menuju Twitter dan UStream serta tiga penyedia layanan telepon lokal di sebagian besar kawasan di pusat kota.
Situs internet harian online milik kelompok oposisi, al-Dostour tidak dapat diakses selama beberapa hari. Sementara media milik pemerintah melaporkan seakan tidak terjadi sesuatu yang luar biasa.
Mungkin saja taktik ini adalah bentuk harapan para penguasa Mesir bahwa para demonstran dan ratapan mereka akan segera sirna dari jalan-jalan kota. Tapi mungkin hal itu malah mengungkap, betapa pemerintah telah buta akan realita sesungguhnya, yang pada akhirnya akan menyeret negeri di tepi sungai Nil itu ke tepi jurang perang saudara.
Bahwa penduduk di semua kawasan, di Yaman, Aljazair dan Tunisia, mengangkat suaranya melawan para penguasa, barangkali juga telah mengibaskan rasa takut ke dalam benak pemerintah Mesir terhadap masa depan.
Quo vadis, Mesir?
Jadi apa yang terjadi sekarang? Apakah kaum muda Mesir akan terus dibakar amarah yang selama ini harus ditelan dalam-dalam? Apakah aksi mereka akan berkembang menjadi gerakan yang terorganisir? Dan jika ya, apakah organisasi itu akan mampu menjaring kelompok sosial lain atau setidaknya membangun jembatan yang kokoh menuju ormas dan terutama serikat buruh? Dan yang terpenting, apakah rejim Mubarak akan mau membuat konsensus politik dengan para pemuda? Hingga kini kita masih harus meraba dalam gelap, namun waktu akan menjawabnya.

Pemerintah Mesir berupaya meredakan ketegangan dengan memberlakukan larangan keluar malam di Alexandria, Kairo dan Suez. Panser dan kendaraan lapis baja lainnya berpatroli di pusat kota. Sebaliknya apa yang kini kita ketahui adalah, bahwa gelombang protes yang berawal 25 Januari lalu telah menyudutkan posisi Partai-partai oposisi Mesir, termasuk di antaranya Tagammu, Wafd dan Ikhwanul Muslimin, karena mereka terjebak antara dukungan setengah hati dan penolakan sepenuhnya untuk mengikuti aksi protes.
„Hari Kemurkaan“ dapat menjadi katalisator yang sangat dibutuhkan untuk memecah kelompok ini dari dalam dan melipatgandakan kesadaran politik di kalangan kaum mudanya. Itu pun bukan warisan yang mudah.
„Demam Tunisia“ menyebar dengan cepat di dunia Arab. Banyak pengamat meyakini, pemberontakan sipil di Tunisia mustahil terulang di Mesir lantaran perbedaan fundamental dalam tatanan di tubuh pemerintah dan masyarakat di kedua negara.
Tapi warga Mesir telah berulangkali membuktikan fleksibilitas politik dan kesediaan mereka untuk menerobos batasan-batasan yang ditanam oleh aparat keamanan di dalam masyarakat.
Mungkin juga model Tunisia bukan ancaman yang akan meruntuhkan rejim Mubarak dalam waktu dekat. Tapi peristiwa di negeri jiran itu punya potensi untuk mengubah oposisi Mesir menjadi gerakan yang besar, spontan dan dengan cakupan luas yang dapat menjadi tantangan politis yang serius buat rejim di Kairo di masa depan.
© Al-Masry Al-Youm 2011
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Pemilu Parlemen dan Rejim Mubarak
Hidup Sang Firaun!
Pemerintah Mesir kesulitan mengkampanyekan hasil pemilu legislatif terakhir sebagai sebuah pencapaian demokrasi. Eropa seharusnya bersikap kritis terhadap perkembangan politik di Kairo dan mengevaluasi kebijakannya terhadap Mesir, tulis pengamat Timur Tengah, Thomas Demmelhuber
Pemilu Legislatif di Mesir
Oposisi Dalam Cengkraman Penguasa
Jauh dari janji-janji pemerintah Mesir soal pengadaan pemilu yang transparan dan bebas, peluang kelompok oposisi untuk meraup suara diberangus dalam praktik rekayasa yang terkoordinir rapih. Oleh Amira El Ahl dari Kairo.
Pergantian Kekuasaan di Mesir
Perpecahan Elit Penguasa
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, elit ekonomi ikut memainkan peran dalam pergantian kekuasaan. Sejak beberapa tahun terakhir jajaran pengusaha yang dekat dengan Gamal Mubarrak memperoleh ruang bebas untuk memperluas pengaruh politiknya. Oleh Stephan Roll
Pemilu Parlemen dan Rejim Mubarak
Hidup Sang Firaun!
Pemerintah Mesir kesulitan mengkampanyekan hasil pemilu legislatif terakhir sebagai sebuah pencapaian demokrasi. Eropa seharusnya bersikap kritis terhadap perkembangan politik di Kairo dan mengevaluasi kebijakannya terhadap Mesir, tulis pengamat Timur Tengah, Thomas Demmelhuber
Pemilu Legislatif di Mesir
Oposisi Dalam Cengkraman Penguasa
Jauh dari janji-janji pemerintah Mesir soal pengadaan pemilu yang transparan dan bebas, peluang kelompok oposisi untuk meraup suara diberangus dalam praktik rekayasa yang terkoordinir rapih. Oleh Amira El Ahl dari Kairo.
Pergantian Kekuasaan di Mesir
Perpecahan Elit Penguasa
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, elit ekonomi ikut memainkan peran dalam pergantian kekuasaan. Sejak beberapa tahun terakhir jajaran pengusaha yang dekat dengan Gamal Mubarrak memperoleh ruang bebas untuk memperluas pengaruh politiknya. Oleh Stephan Roll