25.02.2010Beruang Emas untuk Film "Bal" di BerlinaleBeruang untuk "Madu"
Sebuah film Turki yang berjudul Bal (Madu) dan menampilkan anak berusia 7 tahun sebagai tokoh utama, memenangkan hadiah tertinggi Beruang Emas sebagai film terbaik dalam Berlinale 2010. Oleh Ging Ginanjar
"Bal" adalah sebuah film dengan pendekatan minimalis, bertempo lambat, sunyi, tenang, yang berpusat pada seorang bocah di kawasan hutan lebat sekitar Laut Hitam yang terancam Boleh dibilang, Bal merupakan kuda hitam. Perkiraan sepanjang Berlinale terarah pada dua film paling dibicarakan, Ghost Writer karya Roman Polanski dan film Rumania Eu Cand Vreau Sa Fluier, Fluier (Jika Ingin Bersiul Maka Kubersiul) karya Florin Serbian.
Ternyata para juri yang diketuai sutradara legendaris Jerman Werner Herzog mengesampingkan film-film hingar bingar yang politis. Dan lebih tertarik pada Bal alias Madu, sebuah film dengan pendekatan minimalis, bertempo lambat, sunyi, tenang, yang berpusat pada seorang bocah di kawasan hutan lebat sekitar Laut Hitam yang terancam. Keputusan yang bahkan mengejutkan sutradaranya sendiri,
"Saya sangat gembira. Dan amat terkejut juga. Saat acara pengumuman pemenang mendekati akhir, dan seluruh Piala Beruang Perak sudah jatuh ke orang lain, saya bilang sepertinya kami tidak akan memenangkan apa-apa. Tetapi ternyata mendapat Beruang Emas," ujar Semih Kaplanoglu.
Bal berkisah tentang Yusuf, seorang anak berumur 7 tahun yang ditinggal mati ayahnya, seorang peternak lebah madu. Bersama sayah selama ini Yusuf memiliki komunikasi khusus, dengan bisikan, setiap kali berjalan ke hutan dan gunung sekitar Laut Hitam untuk ternak lebah madu mereka. Kematian sang ayah mengubah hidup Yusuf, yang sulit belajar membaca di sekola. Dan akhirnya ia membisu sama sekali.
Kecemasan dan Pengalaman
Bal merupakan rangkaian terakhir trilogi karya Semih Kaplanoglu, mengenai perjalanan hidup Yusuf, seorang penyair. Kaplanoglu menyusun trilogi ini dalam urutan terbalik. Mulai dai Yumurta atau Telur, menampilkan Yusuf di usia 40an tahun, diikuti Sut atau Susu, menampilkan Yusuf di umur 20an, dan terakhir Bal ini, dengan Yusuf di masa kanak-kanaknya.

Komunikasi sunyi dengan alam: "Bal" merupakan rangkaian terakhir trilogi karya Semih Kaplanoglu, mengenai perjalanan hidup Yusuf, seorang penyair. Semih Kaplanoglu mengatakan, ia mengembangkan tokoh di trilogi ini dengan urutan mundur, untuk membongkar sisi tersembunyi dari sang tokoh, untuk memunculkan bagaimana kecemasan dan pengalaman membentuk seseorang sebagai manusia.
"Saya berharap bisa mengungkapkan perasaan yang dalam: cinta, emosi, harapan, juga nikmat kehidupan. Dan saya berharap karya-karya film saya mampu pula memicu perasaan-perasaan itu," ujarnya.
Peran Yusuf dimainkan Bora Atlas, seorang anak yang sekarang berusia 7 tahun, secara sangat mengesankan. Bora Atlas ditemukan secara kebetulan, tatkla sedang bermain di pinggir jalan. Menurut Kaplanopglu, ia langsung cocok dengan Bora Atlas, sesudah berbicara selewatan. Sebelumnya ia melakukan audisi terhadap puluhan anak dan tanpa hasil.
Kekuatan ekspresi dan gerakan
Bal merupakan film Turki kedua yang memenangkan Beruang Emas, setelah Susuz Yaz, atau Musim Panas Yang Kering karya Metin Erksan dan David Durston yang memenangkan Beruang Emas tahun 1964. Di Turki kemenangan Bal disambut sebagai pertanda bangkuitnya kembali masa keemasan sinema Turki.
Tahun 2003 lalu, film Turki lain, Uzak (jarak), karya Nuri Bilge Ceylan memenangkan Palme d'Or atau Palem emas sebagai film terbaik ajang film internasional terpenting, Festival Cannes.
Film Bal sebetulnya sedikit sekali menggunakan kata-kata dan bebunyian. Mengandalkan kekuatan pada ekspresi dan pergerakan para tokohnya. Menurut sang sutradara, karyanya diarahkan untuk memunculkan suatu keadaan, dan bukan untuk menyampaikan pesan tertentu.
Betapapun, hutan dan gunung yang menjadi tempat pengambilan gambar film ini, dari waktu ke waktu terancam rambahan kehidupan modern. Membuat film ini mau tidak mau memunculkan pesan lingkungan. Ini disadari benar oleh sutradara Semih Kaplanoglu.
Dan kemenangan di Berlinale diharapkannya bisa menjadi pendorong baru untuk upaya perlindungan kawasan hutan dekat laut Hitam itu. "Semoga saja dengan Hadiah Beruang emas yang kami peroleh ini, kami akan mampu juga melindungi lingkungan di sana, yang kami tampilkan di film kami."
Ging Ginanjar
© Deutsche Welle 2010
Qantara.de
Nuri Bilge Ceylan's "Three Monkeys"
Turkish Melancholy and Submission to Fate
Nuri Bilge Ceylan's new film once again probes the motif of hopelessness and thereby touches upon an age-old Turkish theme. Amin Farzanefar on the Cannes prize-winning melodrama "Three Monkeys"
Turkish Cinema
A Nation and Cinema Industry Divided
In the 1970s, Turkey's Yesilcam studios churned out 300 films every year. Nowadays, production has slowed to between twelve and twenty films per annum. The reasons for the crisis in Turkey's film production sector are manifold. Amin Farzanefar reports
Turkish Cinema
The Mirror of Social Change
Today's modern Turkish film industry - multi-faceted, complex, innovative, is also home to a new wave of directors whose films no longer shy away from the politically or socially sensitive. Amin Farzanefar takes a front-row seat
Nuri Bilge Ceylan's "Three Monkeys"
Turkish Melancholy and Submission to Fate
Nuri Bilge Ceylan's new film once again probes the motif of hopelessness and thereby touches upon an age-old Turkish theme. Amin Farzanefar on the Cannes prize-winning melodrama "Three Monkeys"
Turkish Cinema
A Nation and Cinema Industry Divided
In the 1970s, Turkey's Yesilcam studios churned out 300 films every year. Nowadays, production has slowed to between twelve and twenty films per annum. The reasons for the crisis in Turkey's film production sector are manifold. Amin Farzanefar reports
Turkish Cinema
The Mirror of Social Change
Today's modern Turkish film industry - multi-faceted, complex, innovative, is also home to a new wave of directors whose films no longer shy away from the politically or socially sensitive. Amin Farzanefar takes a front-row seat