24.06.2010Wawancara dengan Claudia OttBab Baru dalam Sejarah Kesusasteraan Arab

Sebuah naskah yang ditulis 800 tahun lalu menyibak harta karun terpendam kesusasteraan Arab. Claudia Ott, orientalis Jerman, baru-baru ini berhasil mengidentifikasi naskah tangan tertua dari kisah „Seratus Satu Malam“. Wawancara oleh Loay Mudhoon


Claudia Ott (Foto: Kristina Jentzsch)
Claudia Ott: "Saya membaca juduI yang tertulis dengan tinta merah bergaya Maghreb yang sangat kuno: 'kitâb fîhi hadîth mi'at layla wa-layla - Sebuah kitab berisikan Kisah Seratus Satu Malam'. Saya langsung terpana."
Beberapa hari lalu anda telah berhasil mengidentifikasikan naskah tulisan tangan yang diduga tertua dari kisah „101 Malam“. Bagaimana anda sampai pada penemuan itu?

Claudia Ott: Saya beruntung karena Mei tahun ini dapat tampil sebagai pemusik pada pembukaan pameran „Khazanah Museum Aga Khan“ di Gropiusbau di Berlin.

Setelah gelombang pengunjung pertama berlalu dan saat saya dengan tenang mengamati pameran itu, sebuah naskah tulisan tangan menarik perhatian saya. Naskah itu ditempatkan di sebuah lemari kaca bersama obyek seni dari Andalusia dan agak terpisah dari obyek-obyek lain yang sangat berharga, seperti misalnya “Al-Quran Biru“

Saya lalu membaca juduI yang tertulis dengan tinta merah dalam gaya tulisan Maghreb yang sangat kuno: "kitâb fîhi hadîth mi'at layla wa-layla - Sebuah kitab berisikan Kisah Seratus Satu Malam“. Saya langsung terpana.

Untungnya, melalui aktivitas sebagai pemusik, saya sempat berkenalan dengan Benoît Junod, kurator pameran, dan berhasil mendapat izin darinya untuk mengamati dengan lebih teliti kolofon naskah, yaitu tulisan akhir dengan tanda tangan penulis dan beberapa detil lainnya dari naskah itu, saat pameran dibongkar kembali.

Apa sebenarnya yang sensasional dalam penemuan anda?

Ott: Berdasarkan kolofon, naskah itu berasal dari tahun Islam 632 yang sepadan dengan tahun 1234 atau 1235 Masehi. Tetapi – dan inilah yang membuat hal ini rumit dan sangat menarik – kolofon ini tidak secara langsung bagian dari „101 Malam“, melainkan dari sebuah buku geografi yang dijilid dalam volume yang sama dengan „101 Malam“, dan kemungkinan ditulis oleh pengarang yang sama pula. Sedangkan bagian akhir dari „101 Malam“ sendiri tidak ditemukan.

Teks yang ada hanya sampai pada malam ke-85. Karena itu, fragmen naskah itu tidak memiliki kolofon sendiri. Aga Khan Trust for Culture telah menyatakan akan melakukan penelitian ilmiah pada kertas dan penjilidannya.

Jika dapat dibuktikan bahwa kedua buku ditulis oleh penulis yang sama, maka naskah "101 Malam" lebih dari 500 tahun lebih tua ketimbang naskah yang hingga kini dikenal sebagai yang tertua. Bila melihat gaya tulisannya, naskah ini berasal dari Maghreb, artinya Afrika Utara atau Andalusia. Naskah tulisan tangan ini mungkin saja adalah kunci sebenarnya yang sejak lama dicari oleh para ilmuwan.

Setelah berhasil diidentifikasikan, apa yang akan terjadi dengan naskah itu?

Plakat pameran '1001 Malam' oleh Yayasan Aga Khan
Harta karun Aga Khan merupakan salah satu relik sejarah paling penting bagi dunia seni Islam
Ott: Sejumlah ilmuwan papan atas internasional sekarang sedang meneliti naskah itu dan pendataannya. Saya sendiri juga langsung menghubungi rekan-rekan dan bertukar informasi serta pendapat.

Penemuan yang begitu penting harus didiskusikan bersama-sama, karena banyak sekali yang masih harus diketahui. Sebagai penerjemah saya dapat mengatakannya kepada anda bahwa kisah „Seratus Satu Malam“ benar-benar sesuatu yang sangat istimewa. Pada hari itu, atau lebih tepat, pada malam itu juga saya tidak dapat lagi menunda untuk mulai menerjemahkan.

Setelah menyibukkan diri bertahun-tahun anda merampungkan terjemahan dari yang disebut naskah Galland, yaitu naskah tertua dari „Seribu Satu Malam“ yang masih ada dan dipublikasikan oleh Muhsin Mahdi tahun 1450. Sejauh mana ada kaitan antara kisah „Seratus Satu Malam“ dan „Seribu Satu Malam“?

Ott: Kedua karya menceritakan kisah-kisah dalam sebuah tradisi tua yang membawa kita dari motif-motif kesusasteraan India melalui terjemahan Persia ke kesusasteraan Arab.

Meski kerangka cerita mempunyai alur berbeda, pada kedua kisah itu tampil si pembawa cerita, putri wazir Scheherazade yang berhasil menyelamatkan dirinya dan banyak lagi perempuan lainnya melalui kisah-kisahnya. Bahkan ada kesamaan dalam cerita-cerita tertentu pada dua kumpulan kisah tersebut, misalnya cerita mengenai Si Kuda Kayu Eben atau Sang Putra Raja dan Tujuh Wazir.

Namun terdapat pendapat yang bebeda mengenai keterkaitan kedua buku tersebut. Bahkan edisi kritis pun dari „101 Malam“ yang didasari naskah yang lebih baru dari akhir abad ke-18 dan ke-19, juga ada.

Penerbitnya Mahmud Tarshuna berpendapat bahwa naskah „101 Malam“ jauh lebih tua dan lebih orisinil. Ia berargumentasi dengan motif kerangka cerita yang pada „101 Malam“ lebih mendekati teks Sanksrit atau Pali dari sumber-sumber kesusasteraan India kuno ketimbang motif yang ada pada „1001 Malam“.

Tetapi bagi „1001 Malam“ kami juga memiliki sumber yang sangat tua. Di Chicago tahun 1949, di bawah tumpukan papirus, kertas dari pohon lontar dari Mesir, ditemukan selembar kertas ganda yang berjudul “Seribu Malam” - dalam bahasa Arab “alf layla”- dan Awal dari Malam Hari.

Lembaran ganda yang merupakan palimpsets itu berdatakan tahun 879. Tampaknya lembaran itu jelas tidak berasal dari Mesir, melainkan Suriah. Di Mesir, saat itu orang cenderung masih menggunakan papirus sebagai kertas.

Lembaran itu diduga keras dibawa sebagai rampasan perang dari Antiokhia ke Kairo tahun 878. Bila kita kurangi tahun-tahun saat buku itu tersimpan di suatu tempat sebelum digunakan sebagai kercas coretan, maka kita sampai pada hitungan sekitar tahun 800 Masehi. Jadi ini adalah fragmen tertua dari “Seribu Satu Malam“ yang pernah ditemukan.

Dan ini sesuai dengan berita-berita dari sumber-sumber Arab. Menurut berbagai berita pedagang-pedagang buku saat itu, pada abad ke-9 sedianya sudah ada versi lengkap dengan 1000 Malam. Sejak itu, sepanjang abad-abad berikutnya berulang kali ditemukan fragmen-fragmen karya itu yang masing-masing mungkin berbeda dari yang lain.

“1001 Malam” tampaknya muncul menambah koleksi pada awal abad ke-12. Dalam sebuah buku catatan yang kebetulan ditemukan di Geniza, sinagoga di Kairo, tercantum bahwa sekitar tahun 1150 untuk pertama kalinya dicatat peminjaman buku dengan judul lengkap “Alf layla wa-layla” – “Seribu Satu Malam”

Karena itu menurut saya, kita dapat berasumsi bahwa “101 Malam” dan “1001 Malam” merupakan tradisi yang paralel. “Seratus Satu Malam” dan Seribu Satu Malam” telah hidup berdampingan. Mungkin yang satu cenderung di barat dan yang lainnya di sebelah timur dunia Arab. Tetapi semuanya ini masih harus diteliti secara ilmiah. Sebuah bab besar dalam sejarah kesusasteraan Arab baru saja dibuka kembali!

Wawancara oleh Loay Mudhoon

Dari bahasa Jerman oleh Christa Saloh-Foerster

© Qantara.de 2010

Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de