28.12.2010Perempuan di Arab SaudiArus Balik di Riad
Buat monarki Arab Saudi masalah perempuan selalu menjadi urusan negara. Namun justru mantan menteri pendidikan Al-Rashid menulis sebuah buku, yang menyerukan penyamaan status antara perempuan dan pria. Ini menggulirkan perdebatan baru di Teluk. Oleh Joseph Croitoru
Mediasi agama yang inovatif: Buat masyarakat Arab Saudi foto ini sangat tidak lazim. Terutama karena menampilkan perempuan di gunung Arafat yang membacakan Al-Quran bagi sekelompok pria yang mengikuti di belakangnya Beberapa hari lalu Arab Saudi terpilih sebagai anggota dewan eksekutif badan PBB untuk perempuan yang baru dibentuk, UN-Women. Keputusan itu diragukan banyak aktivis HAM di Barat, tetapi di tanah kelahiran Islam tersebut, keputusan itu dinilai sebagai pengakuan bagi upaya reformasi dalam kebijakan mengenai perempuan.
Di Riad banyak terjadi pergerakan. Salah satu contohnya adalah buku yang ditulis mantan menteri pendidikan Muhammad Ahmad al Rashid, yang judulnya "Perempuan Muslim antara Perlakuan yang Adil lewat Agama Islam dan Interpretasi Mereka Yang Melebih-Lebihkan".
Memang al Rashid, yang mulai memodernisasi sistem pendidikan kaku Arab Saudi antara tahun 1996 dan 2005, tidak mempublikasikan tulisannya di tanah airnya. Tetapi publikasinya di Beirut yang lebih liberal telah
menyebabkan buku itu dengan cepat menjadib buah bibir di dunia Arab.
Yang menarik, dua media menyebabkan buku itu terkenal, yaitu koran internasional Arab Saudi “Al-Sharq Al-Awsat“ dan koran pemerintah “Al-Watan“. Kedua koran itu menulis resensi panjang tentang buku dengan pemikiran provokatif tersebut sebagai sarana bagus untuk memulai debat. Memang al Rashid tidak ragu-ragu menyatakan dukungannya bagi persamaan status perempuan.
Penghapusan Perbedaan di Sarana Umum
Pendapat ulama yang melebih-lebihkan disebutnya sebagai “kelompok minoritas“. Mereka menetapkan bahwa perempuan harus memakai tutup kepala, bahkan penutup muka. Karena yang disebutnya kelompok minoritas itu adalah ulama yang berhubungan erat dengan sistem agama di Arab Saudi, pernyataannya menyebabkan provokasi. Apalagi itu sesuai dengan perkembangan di negara tersebut, yang tidak jarang mengejutkan.

Reformator Top-Down: Dalam hal persamaan gender, raja Abdullah adalah penguasa sebuah negara yang paling patriarchis di seluruh dunia. Antara lain Raja Abdallah menyebabkan sensasi, ketika beberapa bulan lalu ia membuat foto di tengah-tengah sekelompok aktivis perempuan dari negaranya, yang tidak satupun mengenakan penutup muka. Foto itu tersebar luas di dunia Islam, terutama melalui koran “Al-Sharq Al-Awsat“.
Foto itu, di samping separuh menunjukkan penolakan terhadap penutupan tubuh secara total, juga dinilai mengimplikasikan persetujuan raja bagi langkah selanjutnya, yang secara terang-terangan didukung al Rashid. Yaitu penghapusan pemisahan berdasarkan jenis kelamin di sarana umum, yang diawasi ketat di Arab Saudi.
Hak Pendidikan bagi Perempuan Muslim
Mantan menteri pendidikan itu menuntut tidak adanya pemisahan dalam pendidikan di sekolah dan universtas. Ia juga mendorong agar makna tradisi mulai dipikirkan, yang menetapkan bahwa perempuan harus duduk di bagian belakang dan bagian pinggir ruangan mesjid. Dari sudut pandangnya, persamaan status bukan seperti itu.
Jika al Rashid jengan jelas menekankan hak perempuan muslim untuk mendapat pendidikan, itu adalah bagian dari politik modernisasi, yang ia giatkan di bawah tekanan internasional sejak terjadinya serangan 11 September 2001. Itu juga terus berkembang di Arab Saudi.
Yang mendukung adalah Raja Arab Saudi sendiri, yang menilai reformasi kebijakan menyangkut perempuan adalah urusan negara. Oleh sebab itu ia mengangkat pakar pendidikan Nura al Faiz sebagai wakil menteri perempuan pertama, awal tahun 2009.
Di departemen pendidikan Nura al Faiz bertanggungjawab mengurus pendidikan bagi anak perempuan. Al Faiz yang dengan giat memperjuangkan kepentingan perempuan sekarang berhasil menempatkan perempuan di posisi pimpinan yang selama ini diduduki pria.
Tema Tabu Pelajaran Olah Raga bagi Anak Perempuan
Di samping itu, ketika mengunjungi pusat pelatihan bagi murid perempuan yang mempersiapkan diri untuk berbagai turnamen olimpiade remaja, Nura al Faiz juga menyatakan, ia sudah dapat membayangkan salah satu dari anak perempuan itu di masa depan akan jadi menteri. Perkataannya itu mendapat perhatian besar di media-media Arab Saudi dan negara Arab lainnya.

Pegiat HAM Norah Al-Faiz, perempuan pertama yang menjadi anggota di Dewan Kementrian Arab Saudi Sejauh ini wakil menteri itu tidak mendapat kritik bagi pernyataannya. Demikian pula bagi perkataannya baru-baru ini di depan tamu-tamu dari India, bahwa pelajaran olah raga bisa diberikan kepada anak perempuan di Arab Saudi. Selama ini masalah itu tabu. Namun demikian masyarakat masih harus dipersiapkan untuk menerimanya.
Keluarga raja tidak menunjukkan tertarik pada protes-protes kaum konservatif terhadap wakil menteri yang tidak selalu tampil di depan umum dengan penutup muka. Ke mana arah tren tersebut, bisa dilihat lewat halaman pertama koran “Al-Jazirah“ edisi 16 November. Di koran itu ditampilkan foto sepasang pemuda-pemudi yang mengadakan ziarah ke gunung suci Arafat.
Mereka duduk di atas sebuah batu sambil mendalami Al Quran. Dan yang menarik, si perempuan tidak mengenakan penutup muka, dan ialah yang memegang kitab suci, sementara si pria membacakan isinya. Keterangan gambar menunjukkan, si perempuanlah yang menjadi penyebar agama, dan itu bukan kebetulan. Di masa depan pemerintah akan meningkatkan jumlah perempuan yang membimbing peziarah dari segi agama.
Joseph Croitoru
Alih bahasa oleh Marjory Linardy
© Qantara.de 2010
Editor: Rizki Nugraha/Qantara.de
Qantara.de
Wawancara dengan Amel Grami
Menuju Islam Modern
Tunisia di dunia Arab Islam pernah menjadi salah satu negara maju dalam hal hak perempuan. Belakangan ide yang Islamis dan neo konservatif juga dianggap menarik terutama oleh kalangan perempuan muda. Beat Stauffer berkesempatan berbincang dengan pakar ilmu kajian agama asal Tunisia Amel Grami mengenai hal tersebut
Asra Nomani mengenai "Jihad Jender"
Jihad demi Hak Perempuan
Asra Nomani, penulis perempuan Amerika Serikat yang berusia 44 tahun dianggap sebagai tokoh "Jihad Jender". Bagi bekas reporter Wallstreet Journal itu tidak ada pertentangan antara Islam dan feminisme. Alfred Hackensberger berbincang dengannya.
Isu Jilbab di Indonesia
Menyoal Agama di Balik Jilbab
Jilbab sejatinya termasuk ruang pribadi. Namun sejak beberapa tahun terakhir jilbab terseret ke dalam arena perdebatan politik, tidak cuma di Eropa melainkan juga di Indonesia. Tokoh perempuan Indonesia Siti Musdah Mulia menggambarkan mengapa jilbab di Indonesia tidak bisa semata-mata dipandang sebagai manifestasi keagamaan.
Wawancara dengan Amel Grami
Menuju Islam Modern
Tunisia di dunia Arab Islam pernah menjadi salah satu negara maju dalam hal hak perempuan. Belakangan ide yang Islamis dan neo konservatif juga dianggap menarik terutama oleh kalangan perempuan muda. Beat Stauffer berkesempatan berbincang dengan pakar ilmu kajian agama asal Tunisia Amel Grami mengenai hal tersebut
Asra Nomani mengenai "Jihad Jender"
Jihad demi Hak Perempuan
Asra Nomani, penulis perempuan Amerika Serikat yang berusia 44 tahun dianggap sebagai tokoh "Jihad Jender". Bagi bekas reporter Wallstreet Journal itu tidak ada pertentangan antara Islam dan feminisme. Alfred Hackensberger berbincang dengannya.
Isu Jilbab di Indonesia
Menyoal Agama di Balik Jilbab
Jilbab sejatinya termasuk ruang pribadi. Namun sejak beberapa tahun terakhir jilbab terseret ke dalam arena perdebatan politik, tidak cuma di Eropa melainkan juga di Indonesia. Tokoh perempuan Indonesia Siti Musdah Mulia menggambarkan mengapa jilbab di Indonesia tidak bisa semata-mata dipandang sebagai manifestasi keagamaan.